TAFSIR TA AWUDZ


*TAFSIR TAAWUDZ*

Kita dianjurkan untuk membaca ta’awudz atau isti’adzah, terutama sebelum membaca Al-Qur’an. Ta’awudz atau isti’adzah merupakan lafal berbunyi “A‘udzu billahi minas syaythanir rajim.”

Ulama mengemukakan sejumlah dalil baik Al-Quran maupun hadits mengenai perintah untuk membaca ta’awudz atau isti’adzah, perlindungan dari gangguan setan.

Berikut ini adalah perintah ta’awudz atau isti’adzah dalam Surat Al-Araf ayat 199-200.

خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ * وَإِمَّا يَنزغَنَّكَ مِنَ الشَّيْطَانِ نزغٌ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ إِنَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

Artinya, “Jadilah pemaaf dan mintalah orang mengerjakan yang ma’ruf, serta berpalinglah daripada orang-orang yang bodoh.

Jika kamu ditimpa godaan setan, maka berlindunglah kepada Allah. Sungguh Allah Maha mendengar lagi Maha mengetahui.” (Surat Al-Araf ayat 199-200).

Adapun berikut ini adalah perintah ta’awudz atau isti’adzah pada Surat Al-Mukminun ayat 96-98.

ادفع بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ السَّيِّئَةَ نَحْنُ أَعْلَمُ بِمَا يَصِفُونَ * وَقُلْ رَبِّ أَعُوذُ بِكَ مِنْ هَمَزَاتِ الشَّيَاطِينِ * وَأَعُوذُ بِكَ رَبِّ أَنْ يَحْضُرُونِ

Artinya, “Tolaklah perbuatan buruk mereka dengan yang lebih baik. Kami lebih mengetahui apa yang mereka sifatkan. Katakan, ‘Ya Tuhanku, aku berlindung kepada-Mu dari bisikan-bisikan setan.

Aku berlindung (pula) kepada-Mu ya Tuhanku, dari kehadiran mereka padaku,’” (Surat Al-Mukminun ayat 96-98).

Pada Surat Fushshilat ayat 36, kita juga menemukan perintah ta’awudz atau isti’adzah sebagai berikut:

وقال تعالى وَإِمَّا يَنزغَنَّكَ مِنَ الشَّيْطَانِ نزغٌ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

Artinya, “Dan jika syetan mengganggumu dengan suatu gangguan, maka mohonlah perlindungan kepada Allah. Sesungguhnya Dialah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Surat Fushshilat ayat 36).

Adapun dalil berupa hadits diangkat oleh Imam At-Thabari (838 M/224 H-923 M/310 H) dalam tafsirnya sebagai berikut:

وقد رُوي عن ابن عباس، أن أول ما نزل جبريلُ على النبي صلى الله عليه وسلم عَلَّمه الاستعاذة.حدثنا أبو كريب، قال: حدثنا عثمان بن سَعيد، قال: حدثنا بشر بن عُمَارة، قال: حدثنا أبو رَوْق، عن الضحّاك، عن عبد الله بن عباس، قال: أول ما نزل جبريلُ على محمد قال: “يا محمد استعذ، قل: أستعيذ بالسميع العليم من الشيطان الرجيم”، ثم قال: قل: “بسم الله الرحمن الرحيم”، ثم قال: { اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ } [العلق: 1]. قال عبد الله: وهي أول سورة أنزلها الله على محمد بلسان جبريل (1) . فأمره أن يتعوذ بالله دون خلقه

Artinya, “Ibnu Abbas meriwayatkan bahwa Pertama kali Jibril saat turun membawa wahyu kepada Rasulullah mengajarkannya lafal isti’adzah atau ta‘awudz.

Abu Kuraib menceritakan kepada kami, ia berkata, Utsman bin Sa’id menceritakan kepada kami, ia berkata, Bisyr bin Umarah menceritakan kepada kami, ia berkata, Abu Rauq menceritakan kepada kami, dari Dhahhak, dari Ibnu Abbas, ia berkata, pertama kali Jibril turun kepada Nabi Muhammad, ia berkata, ‘Wahai Muhammad, ta’awudzlah.

Katakan, ‘Asta’idzu bis sami’il ‘alim minas syaythanir rajim,’ lalu ia berkata, ‘Bacalah ‘bismillahir rahmanir rahim,’ lalu ia membaca ‘Iqra bismi rabbikalladzi khalaq,’ Abdullah bin Abbas mengatakan, Ini surat pertama yang Allah turunkan kepada Nabi Muhammad melalui lisan Jibril.

’’ Lalu ia memerintahkannya untuk berlindung kepada Allah, bukan makhluk-Nya,” (Imam At-Thabari, Jami’ul Bayan ‘an Ta’wili Ayil Qaur’an, [tanpa kota, Daru Hijr: tanpa catatan tahun], juz I, halaman 111).

Namun demikian, riwayat yang disampaikan oleh At-Thabari ini, menurut Ibnu Katsir (1301 M-1372 M), cenderung gharib. Riwayat ini disebutkan hanya untuk diketahui, tetapi sanadnya lemah dan terputus. Wallahu a’lam.

(Ibnu Katsir, Tafsirul Qur’anil Azhim, [Mesir, tanpa keterangan penerbit dan tahun], juz I, halaman 174).

Secara umum, Imam At-Thabari menjelaskan lafal dan maksud ta’awudz atau isti’adzah yang dimaksud dalam tiga surat di atas. Menurutnya, ta’awudz atau i

Diterbitkan oleh Ustadz Yachya Yusliha

Hidup harus lebih baik

Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai