DO’A KESEMBUHAN BAGI YANG SAKIT

Dahulu, Nabi Muhammad Saw seringkali menjenguk dan mendoakan sahabatnya yang sakit. Berikut beberapa lafaz doa yang dibaca Rasulullah Saw;

اللَّهُمَّ رَبَّ النَّاسِ أَذْهِبْ الْبَاسَ اشْفِهِ وَأَنْتَ الشَّافِي لَا شِفَاءَ إِلَّا شِفَاؤُكَ شِفَاءً لَا يُغَادِرُ سَقَمًا
Allahumma rabbannaasi adzhibil ba’sa isyfihi wa antas syafi laa syifaa’a illa syifaauka syifaa’an laa yughadiru saqaman”

“Ya Allah Rabb manusia, dzat yang menghilangkan rasa sakit, sembuhkanlah sesungguhnya Engkau Dzat yang Maha menyembuhkan, tidak ada kesembuhan melainkan dari

1. kesembuhan-Mu, yaitu kesembuhan yang tidak menyisakan rasa sakit.” (HR. Bukhari)



Kedua, Rasulullah Saw pernah mendoakan Aisyah saat istrinya itu sakit dengan lafaz berikut:

امْسَحْ الْبَاسَ رَبَّ النَّاسِ بِيَدِكَ الشِّفَاءُ لَا كَاشِفَ لَهُ إِلَّا أَنْتَ



Amsihil ba’sa rabbannaasi biyadikas syifaa’u laa kaasyifa lahu illa anta

“Hilangkanlah rasa sakit wahai Rabb manusia, di tangan-Mu lah segala kesembuhan, dan tidak ada yang dapat menyingkap penyakit tersebut melainkan Engkau.” (HR. Buhari Muslim)



Ketiga, saat menjenguk orang sakit, Rasulullah menganjurkan membaca doa berikut sebanyak 7 kali:

أَسْأَلُ الله الْعَظِيمَ رَبَّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ أَنْ يَشْفِيَكَ



As alullaahal ‘azhiim rabbal ‘arsyil ‘azhiim an yasyfiyaka

“Aku mohon kepada Allah yang Maha Agung, Tuhan Arsy yang Agung semoga Dia menyembuhkanmu.”



Ibnu Abbas menyatakan, Rasulullah Saw bersabda, “Barangsiapa yang mengunjungi orang sakit yang belum datang ajalnya kemudian ia mengucapkan (doa) di sebelahnya sebanyak tujuh kali: As alullaahal ‘azhiim rabbal ‘arsyil ‘azhiim an yasyfiyaka, maka Allah akan menyembuhkannya dari penyakit tersebut. (HR. Abu Daud)



Keempat, ketika Rasulullah Saw menjenguk orang sakit, beliau menghiburnya dengan menyatakan bahwa sakit bisa menjadi penggugur dosa. Sebagaimana doanya kepada seorang badui yang sedang demam:

لاَ بَأْسَ، طَهُورٌ إِنْ شَاءَ الله

Laa ba’sa thahur insyaa Allah

“Tidak apa, semoga menjadi penghapus (dosa), jika Allah menghendakinya” (HR. Bukhari)



Kelima, Nabi pernah mendoakan sahabatnya dengan menyebut amal saleh yang pernah dilakukan orang sakit tersebut;

اللَّهُمَّ اشْفِ عَبْدَكَ يَنْكَأُ لَكَ عَدُوًّا وَيَمْشِي لَكَ إِلَى الصَّلَاةِ

Allaahummasyfi ‘abdaka yanka`u laka ‘aduwwan au yamsyii laka ilas shalati

“Ya Allah, sembuhkanlah hamba-Mu yang telah banyak melukai musuh-musuh-Mu dan berjalan untuk melaksanakan shalat untuk-Mu.” (HR. Ahmad)

Keenam, Rasulullah pernah mendoakan sahabatnya, Salman dengan lafaz:

شَفَى اللَّهُ سَقَمَكَ، وَغَفَرَ ذَنْبَكَ، وَعَافَاكَ فِي بَدْنِكَ وَجِسْمِكَ إِلَى مُدَّةِ أَجَلِكَ

Syafallahu saqamaka, wa ghafara dzanbaka, wa ‘aafaaka fii badanika wa jismika ilaa muddati ajalika

“Semoga Allah menyembuhkan sakitmu, mengampuni dosamu, menyehatkan badanmu dan jasadmu hingga waktu ajalmu.”

Baca: 5 Orang yang Doanya Mustajab





Ketujuh, Rasulullah Saw mendoakan Utsman bin Affan dengan doa:

بِسْمِ الله الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ، أُعِيذُكَ بِالله الأَحَدِ الصَّمَدِ الَّذِي لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفْوًا أَحَدٌ مِنْ شَرِّ مَا تَجِدُ

Bismillahirrahmaanirrahim, u’idzuka billah al-ahad ash-shamad alladzi lam yalid wa lam yuulad wa lam yakun lahu kufuwan ahad min syarri maa tajid

“Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, aku mendoakanmu dengan nama Allah Yang Esa, Yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu, Yang tiada beranak dan tidak pula diperanakkan dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia, dari segala keburuka yang engkau temui.”



Demikian beberapa doa yang pernah Nabi ucapkan saat menjenguk sahabatnya yang sakit. Selain mendoakan kesembuhan, beliau juga mendoakan ampunan dan menghibur sahabatnya yang sakit. Agar mereka tidak berkecil hati dan semakin yakin untuk menggapai kesembuhan.

INDAHNYA BURBUAT BAIK

Indahnya Berbuat Baik pada Sesama Umat Manusia

Allah SWT menciptakan manusia sebagai makhluk sosial. Manusia saling berinteraksi dan bekerja sama demi memenuhi kebutuhan hidup, meraih kebahagiaan, membentuk sistem sosial yang harmonis, juga menggapai hidup yang lebih berkualitas.

Di zaman ini, dipastikan tidak ada manusia yang dapat hidup seorang sendiri dalam keterasingan, tanpa terhubung dengan orang lain dan terlibat interaksi bersama.

Agar kehidupan bersama ini dapat terbangun dengan harmonis, tentu setiap orang memiliki kewajiban untuk berbuat baik kepada sesama umat manusia.

Islam pun mewajibkan setiap umatnya untuk senantiasa berbuat baik kepada sesama manusia, sebagaimana banyak diterangkan dalam ayat Al,Qur’an, hadis, dan dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW serta para sahabat.

Hubungan dengan sesama manusia ini dalam Islam dikenal dengan istilah hablumminannas. Setiap muslim memiliki kewajiban untuk menjalankan hablumminannas dengan sebaik-baiknya, sesuai tuntunan Al-Qur’an dan sunah Nabi Muhammad SAW.

Perbuatan baik kepada manusia yang perintahkan oleh Allah dan dicontohkan oleh Rasulullah sangat banyak, antara lain sebagai berikut.

a. Berbuat baik kepada kedua orang tua.
b. Mengajarkan atau menyebarkan ilmu.
c. Menyambung silaturahmi.
d. Memberikan nasihat.

e. Mengajak untuk berbuat kebaikan dan meninggalkan keburukan.
f. Berbuat adil.
g. Mendamaikan pihak-pihak yang bermusuhan atau berseteru.
h. Membantu mereka yang membutuhkan bantuan.

i. Menjenguk orang sakit.
j. Mendahulukan kepentingan bersama ketimbang kepentingan pribadi.
k. Berdagang dengan jujur.
l. Berinfak dan bersedekah.

m. Bersikap dan bertutur yang kata lemah lembut serta santun.
n. Tidak menganggu dan menyakiti hati orang lain.
o. Tidak mengambil hak orang lain.

Itulah beberapa bentuk perbuatan baik kepada sesama yang diperintahkan oleh ajaran agama Islam. Sesungguhnya, berbuat baik pada sesama umat manusia bukan sekadar dibutuhkan untuk membangun kehidupan bersama yang harmonis dan saling mengasihi.

Akan tetapi, perbuatan baik kepada sesama juga bernilai ibadah yang jika dilakukan akan berbalas pahala dan surga.

Sebaliknya, jika perbuatan-perbuatan baik kepada sesama umat manusia ditinggalkan, pelakunya akan menuai dosa. Dosa karena telah lalai terhadap perintah Allah, yang berakibat pada timbulnya berbagai masalah dan kerusakan dalam kehidupan sosial.

Satu hal yang harus senantiasa kita ingat adalah dalam berbuat baik pada sesama umat manusia, kita tidak boleh pilih kasih.

Kita harus berbuat kebaikan kepada siapa saja, tanpa membedakan latar belakang suku, agama, ras, atau status sosial. Hal lain yang tidak boleh kita lupakan ketika berbuat baik adalah kita harus tulus dan ikhlas. Melakukannya karena mengharapkan ridho Allah semata.

Ketika kita berbuat kebaikan pada sesama umat manusia, tetapi tidak ikhlas, misalnya mengharapkan imbalan atau ingin pujian, sejatinya kebaikan tersebut tidak akan ada nilainya di sisi Allah.

Kebaikan tersebut justru dapat dikategorikan sebagai perbuatan riya atau perbuatan merugikan orang lain. Keduanya adalah perbuatan yang dibenci oleh Allah SWT.

Dengan perintah yang sangat jelas untuk berbuat kebaikan pada sesama umat manusia, maka tidak ada alasan bagi kita untuk tidak melakukannya.

Justru kita harus berlomba-lomba untuk berbuat baik. Sebab, sesungguhnya setiap perbuatan akan kembali kepada pelakunya. Kebaikan yang kita lakukan kepada orang lain akan berbalas kebaikan pula.

Selain berbalas kebaikan, penghormatan, dan kasih sayang dari manusia, perbuatan baik kita juga akan membuahkan kedekatan dan kasih sayang dari Allah SWT.

Dan, jika kita mendapatkan kasih sayang Allah, sungguh itulah nikmat yang tiada bandingnya. Dengan kasih sayang Allah tersebut, kita akan mendapatkan kemuliaan hidup, baik di dunia maupun akhirat.

INILAH KEISTIMEWAAN HARI KAMIS

DALAM seminggu, hari yang paling baik adalah Jumat, bahkan disebut sebagai rajanya hari. Karena banyak faedah di dalamnya. Namun, di hari sebelumnya yaitu hari Kamis juga mempunyai beberapa keutamaan.

Inilah beberapa keutamaan hari Kamis:



1. Dibukanya pintu surga.

Pada Senin dan Kamis, orang-orang Mukmin diampuni dosanya, kecuali orang yang menyekutukan Allah dan sedang bermusuhan.

Seperti dalam shahih Muslim, dari Abu Hurairah R.A, Rasulullah bersabda, “Pintu-pintu Surga dibuka pada hari Senin dan Kamis.

Maka semua hamba yang tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun akan diampuni dosa-dosanya, kecuali seseorang yang antara dia dan saudaranya terjadi permusuhan.

Lalu dikatakan, ‘Tundalah pengampunan terhadap kedua orang ini sampai keduanya berdamai, tundalah pengampunan terhadap kedua orang ini sampai keduanya berdamai, tundalah pengam-punan terhadap kedua orang ini sampai keduanya berdamai.“ ( Shahih Muslim/IV/1987/Kitabul Birr was Shilah wal Adab)



2. Amalan akan diangkat dan diperiksa pada hari Senin dan Kamis


Seperti dalam sabda Rasulullah, “Amal-amal manusia diperiksa pada setip hari Senin dan Kamis, maka aku menyukai amal perbuatanku diperiksa sedangkan aku dalam keadaan berpuasa.” (HR. At-Tirmidzi dan lainnya)

3. Rasulullah senang berpuasa pada hari Senin dan Kamis.

Hadits dari Siti A’isyah, beliau berkata,”Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat antusias dan bersungguh-sungguh dalam melakukan puasa pada hari Senin dan Kamis.”

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

صِرٰطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّآلِّينَ
shiroothollaziina an’amta ‘alaihim ghoiril-maghdhuubi ‘alaihim wa ladh-dhooolliin

“(Jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka), yaitu melalui petunjuk dan hidayah-Mu. Kemudian diperjelas lagi maknanya oleh ayat berikut: (Bukan (jalan) mereka yang dimurkai) Yang dimaksud adalah orang-orang Yahudi. (Dan bukan pula) dan selain (mereka yang sesat.) Yang dimaksud adalah orang-orang Kristen. Faedah adanya penjelasan tersebut tadi mempunyai pengertian bahwa orang-orang yang mendapat hidayah itu bukanlah orang-orang Yahudi dan bukan pula orang-orang Kristen. Hanya Allahlah Yang Maha Mengetahui dan hanya kepada-Nyalah dikembalikan segala sesuatu. Semoga selawat dan salam-Nya dicurahkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad saw. beserta keluarga dan para sahabatnya, selawat dan salam yang banyak untuk selamanya. Cukuplah bagi kita Allah sebagai penolong dan Dialah sebaik-baik penolong. Tiada daya dan tiada kekuatan melainkan hanya berkat pertolongan Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar.”
(QS. Al-Fatihah 1: Ayat 7)

JIKA SEORANG KEKASIH

“Jika seorang berada disamping kekasihnya, maka ia akan selalu tersenyum senang, sesuatu yang pahit terasa manis. Begitu juga seorang Waliyullah (kekasih Allah) jika turun kepadanya bala, mereka sentiasa tersenyum dan merasa aman kerana sesuatu yang buruk tersebut datangnya dari Sang Kekasih Pencipta Alam Semesta.”

Habib Ali Al-Masyhur bin Hafidz Rahimahullah Taala.
.❤❤❤
‎اَللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ

DO’A MOHON KETURUNAN

Doa Nabi Zakaria AS untuk Meminta Anak Keturunan


رَبِّ هَبْ لِي مِنْ لَدُنْكَ ذُرِّيَّةً طَيِّبَةً إِنَّكَ سَمِيعُ الدُّعَاءِ

Robbi Hablii Min Ladunka Dzurriyyatan Thoyyibatan Innaka Samii’Ud Du’Aai

Artinya :

Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa. (Al-Furqan: 74).

رَبِّ إِنِّي وَهَنَ العَظْمُ مِنِّي وَاشْتَعَلَ الرَّأْسُ شَيْباً وَلَمْ أَكُنْ بِدُعائِكَ رَبِّ شَقِيّاً * وَإِنِّي خِفْتُ المَوالِيَ مِنْ وَرائِي وَكانَتِ امْرَأَتِي عاقِراً فَهَبْ لِي مِنْ لَدُنْكَ وَلِيّاً * يَرِثُنِي وَيَرِثُ مِنْ آلِ يَعْقُوبَ وَاجْعَلْهُ رَبِّ رَضِيّاً

Artinya :

Ya Tuhanku, sesungguhnya tulangku telah lemah dan kepalaku telah ditumbuhi uban, dan aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepada Engkau, ya Tuhanku. Dan sesungguhnya aku khawatir terhadap mawaliku sepeninggalku, sedang istriku adalah seorang yang mandul, maka anugerahilah aku dari sisi Engkau seorang putra, yang akan mewarisi aku dan mewarisi sebahagian keluarga Ya’qub; dan jadikanlah ia, ya Tuhanku, seorang yang diridai.

رَبِّ لاَتَذَرْنِىْ فَرْدًا وَأَنْتَ خَيْرُالْوَارِثِيْنَ

Artinya :

Wahai Tuhanka, janganlah Engkau biarkan aku seorang diri (dengan tidak meninggalkan zuriat) dan Engkaulah jua sebaik-baik yang mewarisi

ISLAM ADALAH KEIMANAN DAN PERBUATAN

Bismillah … Islam adalah agama Allah yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad SAW, dan Islam merupakan agama yang berintikan keimanan dan amal perbuatan. “Keimanan” itu merupakan akidah dan pokok (pangkal utama), yang di atas berdiri syari’at Islam. Yang kemudian dari pokoknya keluarlah cabang-cabangnya. Sementara “Perbuatan” itu merupakan syari’at dan cabang-cabang yang dianggap sebagai buah yang keluar dari keimanan serta akidah itu. Keimanan dan tindakan, atau dengan kata lain’akidah dan syari’at ‘, menghubungkan antara satu dengan yang lain sambung-menyambung, hubung-putar dan tidak dapat berpisah yang satu dengan yang lainnya. Dihasilkan sebagai buah dengan pohonnya, sebagai musabbab dengan alasan atau sebagai natijah (hasil) dengan mukaddimahnya (pendahuluannya). (Aqidah Islam. Sayid Sabiq h. 15)

Oleh karena adanya hubungan yang erat itu, maka amal yang dilakukan termasuk penyebutannya dengan keimanan dalam sebagian besar ayat-Al Quran Al Karim, hal ini dapat dilihat dalam firman-firman Allah SWT yang menerangkan hubungan keimanan dan tindakan, antara lain:

“,, Berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang beriman dan menerima kebaikan , bahwasanya mereka akan menerima surga yang di bawahnya menghabiskanlah beberapa sungai”.

QS. Al Baqarah 25

“,, Barangsiapa Yang mengerjakan Kebaikan , baik besarbesaran lelaki ATAU Perempuan dan besarbesaran seorang yang beriman , Maka pastilah Kami (Allah) akan memberinya kehidupan yang Baik Dan Pasti Kami beri Balasan DENGAN pahalanya, * Menurut Yang Telah dikerjakan DENGAN sebaik-baiknya”.

QS. Sebuah Nahl 97

“,, Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal shalih , maka Tuhan Yang Maha Pengasih akan menanamkan dalam hati mereka.

QS. Maryam 96

Muslim yang beragama Islam (beragama Islam) agar menjadi muslim sejati (kaffah), harus memahami dan menggunakan prinsip-prinsip ke-islaman (biasa disebut dengan rukun islam) yang lima, yaitu:

1. Mengucapkan dua kalimat Syahadat.

Dua kalimat syahadat yaitu dua perkatan pengakuan, ikrar, janji, dan sumpah yang diucapkan dengan lisan dan dibenarkan (disampaikan) oleh hati untuk menjadi orang Islam. Kalimat kedua syahadat itu memiliki pengertian, antara lain:

Sebuah. Syahadat Tauhid, maksudnya: Mengakui (menyaksikan) ke-Esaan Allah (tidak berbilang). null

b. Syahadat Rasul, maksudnya: Mengakui (menyaksikan) ke-Rasulan Mabi Muhammad SAW.

2. Mendirikan (menegakkan) shalat lima waktu sehari semalam.

3. Mengeluarkan zakat.

4. Berpuasa satu bulan penuh di bulan Ramadhan

5. Menunaikan ibadah haji bagi yang mampu ke Baitullah.

Pokok-pokok keislaman di atas hanya akan bisa dilakukan kita telah mengimani dengan sepenuh hati enam perkara dalam pokok-pokok keimanan (yang biasa disebut rukun iman) yang enam berikut:

1. Beriman kepada Allah SWT dengan segala sifat kesempurnaanNya (Ma’rifat untuk Allah)

2. Beriman untuk para Malaikat Allah.

3. Beriman untuk kitab-kitab Allah yang pernah diturunkan kepada para RasulNya.

4. Beriman kepada Rasul Allah.

5. Beriman untuk Hari Kiamat.

6. Beriman untuk Qodho dan Qadar (ketentuan Allah)

Keenam perkara di atas harus benar-benar diterapkan dalam hati seorang mu’min dan diaplikasikan dalam amal perilaku sehari-hari. Karena Iman merupakan pondasi kehidupan manusia yang beragama. (Halilintar) Wallohualam bishowab

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai