Celananya membantu orang yang zdalim

*Surat HUD ayat : 113*

Oleh : *Ustadz Yachya Yusliha*

*celananya membantu orang yang zdalim*

Tafsir surah Hud (11) ayat 113

Pada ayat ini, Allah ﷻ menandaskan bahwa orang-orang yang beriman kepada Nabi Muhammad dan menganut agamanya, supaya jangan sekali-kali cenderung kepada orang-orang zalim, yaitu musuh-musuh kaum Muslimin yang selalu menyakitinya dan orang-orang musyrik yang selalu berusaha mengembalikannya kepada kemusyrikan.
Jangan sekali-kali minta bantuan dan pertolongan dari mereka, seakan-akan mereka telah dijadikan pemimpinnya, karena bila hal itu sudah sampai kepada derajat yang demikian, maka termasuklah orang-orang mukmin itu seperti mereka juga yang tidak akan mendapat petunjuk.
Firman Allah:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تَتَّخِذُوا الْيَهُوْدَ وَالنَّصٰرٰٓى اَوْلِيَاۤءَ بَعْضُهُمْ اَوْلِيَاۤءُ بَعْضٍ وَمَنْ يَّتَوَلَّهُمْ مِّنْكُمْ فَاِنَّهٗ مِنْهُمْ اِنَّ اللّٰهَ لَا يَهْدِى الْقَوْمَ الظّٰلِمِيْنَ

Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu menjadikan orang Yahudi dan Nasrani sebagai pemimpin(mu);
mereka satu sama lain saling melindungi.
Barang siapa di antara kamu yang menjadikan mereka pemimpin, maka sesungguhnya dia termasuk golongan mereka.
Sungguh, Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim. (al-Ma’idah [5]: 51)

Satu-satunya yang dapat dijadikan pemimpin serta diminta bantuan dan pertolongannya hanya Allah.
Barang siapa yang berbuat selain dari itu, maka ia termasuk orang yang zalim yang tak mempunyai penolong, sebagaimana firman Allah:

وَمَا لِلظّٰلِمِيْنَ مِنْ اَنْصَارٍ

Dan tidak ada seorang penolong pun bagi orang-orang zalim itu. 

10 Yang menghalangi do’a

Nasihat Sahabat Logo

SEPULUH PERKARA PENGHALANG TERKABULNYA DOA

Sahabat Yachya Yusliha YD1JNI

SEPULUH PERKARA PENGHALANG TERKABULNYA DOA

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِSEPULUH PERKARA PENGHALANG TERKABULNYA DOA Seseorang berkata kepada Ibrahim bin Adham rahimahullah:“Allah ‘azza wa jalla telah berfirman dalam kitab-Nya: وَقَالَ رَبُّكُمُ ٱدۡعُونِيٓ أَسۡتَجِبۡ لَكُمۡۚ ‘Berdoalah kalian kepada-Ku, niscaya Aku kabulkan doa kalian.’ Kami telah berdoa kepada Allah ‘azza wa jalla sekian lama, namun tidak juga Allah ‘azza wa jalla mengabulkan doa kami.” Beliau pun menjawab: “Hati kalian telah mati karena sepuluh perkara: 

1. Kalian mengenal Allah ‘azza wa jalla, namun tidak menunaikan hak-Nya. 

2. Kalian membaca Kitabullah, namun tidak mengamalkannya. 

3. Kalian mengaku mencintai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, namun meninggalkan Sunnahnya. 

4. Kalian mengaku memusuhi setan, namun sepakat dengannya. 

5. Kalian mengatakan bahwa kalian cinta Jannah (Surga), namun tidak beramal untuk itu. 

6. Kalian katakan bahwa kalian takut-Naar (Neraka), namun menggadaikan diri-diri kalian kepadanya (An-Naar) 

7. Kalian katakan, bahwa sesungguhnya kematian itu pasti (terjadi), namun kalian tidak bersiap-siap untuknya. 

8. Kalian sibuk dengan aib saudara-saudara kalian dan mencampakkan aib-aib diri sendiri. 

9. Kalian memakan nikmat Rabb kalian, namun tidak mensyukurinya. 

10. Kalian mengubur mayit-mayit kalian dan tidak mengambil pelajaran darinya.

Jangan Jadi Orang Kelima, Celaka!

penuntut ilmu

Menuntut ilmu itu wajib. Jika dilakukan, maka ia dianggap ibadah. Bahkan, dalam haditsnya, Rasulullah Saw memenangkan, orang yang pergi meminta ilmu sama dengan membuka jalan menuju surga.

“Barangsiapa yang bergerak mencari jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan jalan menuju surga dan meminta para malaikat membentangkan sayapnya karena ridla (rela) terhadap orang yang mencari ilmu …” (HR. Ahmad, Tirmidzi, Abu Dawud, dan Ibnu Majjah) .

“Barangsiapa keluar (pergi) untuk mencari ilmu maka ia keluar di jalan Allah kembali” (HR. Tirmidzi).

Rasulullah Saw juga menjelaskan lima golongan manusia yang berkaitan dengan ilmu, yang celaka adalah golongan yang didukung.

Qoolan Nabiyu Shallallaahu ‘alaihi wasallam. Kun ‘aliman, au muta’alliman, au mustami’an, au muhibban. Walam takun khomisan, fatahlik.

“Nabi Saw bersabda: Dapatkan orang orang berilmu, atau orang yang menuntut ilmu, atau orang yang mau ilmu, atau orang yang mau ilmu. Dan janganlah biarkan menjadi orang yang membiarkan kamu akan celaka ”(HR. Baihaqi).

Rasul Saw. Mengajarkan umatnya menjadi ‘Alim (orang berilmu, guru, pengajar). Jika belum sanggup, jadilah Muta’ammilan (orang yang menuntut ilmu, murid, pelajar, santri) atau menjadi pendengar yang baik ( Mustami’an ), paling tidak menjadi Muhabban –pecinta ilmu, simpatisan pengajian, lembaga donor dakwah dan pendirikan dengan baju, tenaga, atau pikiran, atau mendukung majelis-majelis ilmu.

Rasul Saw menyetujui, jangan jadi orang balasan ( Khomisan ), yaitu tidak jadi guru, murid, pendengar, juga tidak menjadi simpatisan atau pendukung. Celakalah golongan setuju ini. ” Fatahlik !” Tegas beliau Saw. Wallahu a’lam . 

Keutamaan berdo’a dengan suara keras dan dengan suara pelan pelan

Surat Al-A’raf Ayat 55

ادْعُوا رَبَّكُمْ تَضَرُّعًا وَخُفْيَةً ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ

Ud’ụ rabbakum taḍarru’aw wa khufyah, innahụ lā yuḥibbul-mu’tadīn

Terjemah Arti: Berdoalah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut.

Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.

Terjemahan Makna Bahasa Indonesia (Isi Kandungan) Berdo’alah (wahai kaum mukminin), kepada tuhan kalian, dengan keadaan penuh menghinakan diri kepadaNya, dengan suara rendah dan perlahan.

Dan hendaknya do’a dilakukan dengan hati khusyu dan jauh dari riya.

Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang bertindak melampaui batas syariatNYa.

Dan tindakan melampaui batas yang paling besar adalah perbuatan syirik kepada Allah, seperti berdo’a kepada selain Allah, dengan meminta kepada orang-orang yang sudah mati, berhala-berhala dan yang semisalya.

Berdoalah kalian -wahai orang-orang mukmin- kepada Rabb kalian dengan penuh kerendahan dan ketundukan, dan dengan suara yang pelan dan samar, serta tulus dalam berdoa, tidak memperlihatkannya kepada manusia dan tidak menyekutukan-Nya -Subḥānahu- dengan yang lain.

Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas dalam berdoa.

Dan salah satu tindakan yang melampaui batas dalam berdoa ialah memanjatkan doa kepada selain Allah di samping berdoa kepada-Nya seperti yang dilakukan oleh orang-orang musyrik.

Tafsir Al-Mukhtashar / Markaz Tafsir Riyadh, di bawah pengawasan Syaikh Dr. Shalih bin Abdullah bin Humaid, Imam Masjidil Haram 55. ادْعُوا۟ رَبَّكُمْ تَضَرُّعًا (Berdoalah kepada Tuhanmu dengan berendah diri) Yakni dengan penuh ketundukan, kerendahan diri, kepatuhan, dan harapan kepada-Nya.

وَخُفْيَةً ۚ (dan suara yang lembut) Yakni menyembunyikan suaranya karena hal itu lebih dapat menjauhkan sifat riya’. إِنَّهُۥ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ (Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas) Yakni yang melampaui batas dalam berdoa dan segala hal.

Dan yang termasuk doa yang melampaui batas adalah dengan meminta sesuatu yang tidak mungkin seperti meminta agar dapat hidup kekal di dunia, agar mendapat sesuatu yang mustahil baginya, agar dapat mencapai derajat para nabi di akhirat, atau mengangkat suara keras-keras ketika berdoa.

Zubdatut Tafsir Min Fathil Qadir / Syaikh Dr. Muhammad Sulaiman Al Asyqar, mudarris tafsir Universitas Islam Madinah 1 ).

Begitu banyak kita temui dari kalangan ummat islam dalam berdoa tidak melakukannya dengan diam-diam, melainkan mereka malakukannya dengan terang-terangan, namun ketahuilah bahwasanya ummat islam dahulu ketika berdoa tidak tidak terdengar dari mereka suara, tetapi sesungguhnya mereka degannya tuhannya saling berbisik-bisik, karena Allah telah berfirman : { ادْعُوا رَبَّكُمْ تَضَرُّعًا وَخُفْيَةً } “Berdoalah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut”. 2 ).

Ada banyak faidah ketika seseorang berdoa kepada tuhannya :

1- Bahwa sesungguhnya ia adalah keimanan yang amat besar, karena hamba meyakini bahwa Allah mendengar dari doa yang ia panjatkan dengan suara lembut.

2- Bahwa seseungguhnya ia adalah adaba yang amat agung.

3- Bahwa seusungguhnya dengan doa seperti itu seorang hamba lebih khusyuk dalam doanya.

4- Dan dengan cara itu pula seorang hamba dalam doanya lebih membawanya kepada keikhlasan.

5-Bahwasanya hal itu menandakan kedekatan seorang hamba kepada tuhannya. 3 ).

{ ادْعُوا رَبَّكُمْ تَضَرُّعًا وَخُفْيَةً ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ } Dan maksud daripada doa adalah : Seorang hamba menyerahkan segala kebutuhannya, dan kelemahannya, dan kefaqirannya kepada tuhannya yang maha kuasa dan maha bijaksana, rahmat-Nya yang begitu luas.

Maka ketika seorang hamba meraih apa yang ia butuhkan; hendaknya ia menjaga dirinya dari riya’, dan itu dapat dilakukan dengan melembutkan suara dalam berdoa.

4 ). Qaidah doa dan dzikir terdapat di dua tempat dalam surah al-A’raf, dan dua ayat doa itu adalah :

{ ادْعُوا رَبَّكُمْ تَضَرُّعًا وَخُفْيَةً ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ } lalu ayat setelahnya

: { وَادْعُوهُ خَوْفًا وَطَمَعًا } “dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan)”, dan ayat dzikir, yaitu : { وَاذْكُرْ رَبَّكَ فِي نَفْسِكَ تَضَرُّعًا وَخِيفَةً وَدُونَ الْجَهْرِ مِنَ الْقَوْلِ بِالْغُدُوِّ وَالْآصَالِ وَلَا تَكُنْ مِنَ الْغَافِلِينَ } “Dan sebutlah (nama) Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai” [205]. 5 ).

Datang lafazh الاعتداء (melampaui batas) setelah disebutkan { خفية } ; karena diantara macam i’tida’ adalah dengan mengangkat suara dalam doa namun sebenarnya hal itu tidak dibutuhkan, sama halnya ketika kamu berbicara kepada seseorang dengan suara yang tinggi pastinya dia akan terganggu dengan cara itu, maka bagaimana jika dengan cara itu kamu berdoa kepada sang Maha mendengar ? dan sungguh Nabi telah ingkar kepada orang yang berdoa dengan cara seperti itu, beliau bersabda :

( أيها الناس أربعوا على أنفسكم فإنكم لا تدعون أصمَّ ولا غائبا ، إنما تدعون سميعا بصيرا ، إن الذي تدعون أقرب إلى أحدكم من عنق راحلته )

“Wahai Manusia, rendahkan diri anda.

Karena sesungguhnya kamu semua tidak berdoa kepada yang tuli dan tidak juga yang goib.

Akan tetapi anda berdoa kepada yang Maha Mendengar dan Maha Melihat.

Sesungguhya yang kamu semua berdoa itu lebih dekat dari salah satu diantara kamu dari punuk kendaraannya.” Li Yaddabbaru Ayatih / Markaz Tadabbur di bawah pengawasan Syaikh Prof. Dr. Umar bin Abdullah al-Muqbil, professor fakultas syari’ah Universitas Qashim – Saudi Arabia 55.

Wahai orang-orang mukmin, berdoalah kepada Tuhan kalian dengan mengiba, merendah dan tunduk dalam kesunyian karena itu jauh dari pamer.

Sesungguhnya Allah SWT membenci orang-orang yang melampaui batas dalam berdoa dan hal lainnya dengan meninggikan suara dan menjerit atau berdoa dengan sesuatu yang tidak diperbolehkan atau tidak dianjurkan.

Tafsir Al-Wajiz / Syaikh Prof. Dr. Wahbah az-Zuhaili, pakar fiqih dan tafsir negeri Suriah Setelah Allah menyebutkan keagungan dan kebesaran-Nya yang menunjukkan kepada orang-orang yang berakal bahwa hanya Dia yang berhak diibadahi, ditujukan dalam memenuhi semua kebutuhan, maka dalam ayat ini Allah Subhaanahu wa Ta’aala memerintahkan konsekwensinya.

Tidak keras-keras yang dikhawatirkan timbul riya’ daripadanya.

Termasuk melampaui batas adalah melampaui batas tentang sesuatu yang diminta (seperti meminta sesuatu yang tidak cocok baginya), berlebihan dalam meminta, melampaui batas dalam cara meminta, keras-keras dalam berdoa, dsb.

Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur’an / Ustadz Marwan Hadidi bin Musa, M.Pd.I Berdoalah kepada tuhanmu yang telah menciptakan dan memeliharamu, dengan rendah hati dan suara yang lembut, yakni tidak terlalu keras, namun tidak pula terlalu pelan, tetapi di antara keduanya.

Sungguh, dia tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas dalam berdoa dan segala hal.

Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi setelah diciptakan dengan baik.

Berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut sehingga kamu lebih khusyuk dan terdorong untuk menaati-Nya, dan penuh harap terhadap anugerah-Nya dan pengabulan doamu.

Sesungguhnya rahmat Allah sangat dekat kepada orang yang berbuat kebaikan. Nuhun Assalamualaikum

Islam akan rusak oleh umatnya sendiri

Rusaknya Islam oleh Umatnya Sendiri

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakutuh

Nabi besar Muhammad SAW, telah banyak menyampaikan bagaimana keadaan umat islam diakhir zaman melalui hadis-hadis yang beliau wariskan untuk umat islam sebagai salah satu sumber hukum bagi umat islam, sebagai penuntun menuju jalan yang benar, jalan yang dirahmati oleh Allah SWT. 

Namun pada kenyataannya di akhir zaman seperti sekarang ini banyak umat islam yang menutup diri pada firman-firman Allah SWT dan Hadis-hadis Nabi besar Muhammad SAW demi mengejar ambisi hawa nafsu dunia baik berupa kekayaan dan kekuasaan. 

Akibatnya Islam dijadikan alat untuk berebut kekuasaan, dan lebih memprihatinkan lagi adalah para pengikutnya yang juga lupa bahwa Nabi Muhammad pernah menyampaikan perkara ini melalui hadis-hadisnya antara lain :

1. Dari Zubair bin Adly bahwa ia melaporkan kepada Anas setelah perdebatan, lalu Ia (Anas) berkata, ” Bersabarlah kalian !, Susungguhnya, tidak akan datang pada kalian suatu zaman kecuali yang lebih jelek daripadanya hingga kalian menjumpai Tuhan kalian. Ini saya dengar dari Nabi SAW.” (HR Bukhari dan Turmudzi) 

2. Dari Tsauban ra bahwa Rasulullah SAW bersabda, ” Sesungguhnya yang paling aku takuti dari umatku adalah para pemimpin yang sesat. Jika meletakkan pedang pada umatku, ia tidak akan mengangkatnya sampai hari kiamat.” (HR Abu daud dan Ibnu Majah) 

3. Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abu Syaibah telah menceritakan kepada kami Yazid bin Harun telah menceritakan kepada kami Abdul Malik bin Qudamah Al Jumahi dari Ishaq bin Abu Furat dari Al Maqburi dari Abu Hurairah dia berkata.

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Akan datang tahun-tahun penuh dengan kedustaan yang menimpa manusia, pendusta dipercaya, orang yang jujur didustakan, amanat diberikan kepada pengkhianat, orang yang jujur dikhianati, dan Ruwaibidlah turut bicara.” Lalu beliau ditanya, “Apakah Ruwaibidlah itu?” beliau menjawab: “Orang-orang bodoh yang mengurusi urusan perkara umum.” (Sunan Ibnu Majah) 

4. Dari Abdullah bin Amr bin Ash ra bahwa Rasulullah SAW bersabda , ” Bagaimana denganmu jika kamu berada di tengah kekacauan, janji janji dan amanat mereka abaikan, kemudian mereka berselisih seperti ini ?” Lalu, beliau menyilangkan antara jari jari. Abdullah bin Amr bertanya,”

Lalu , dengan apa engkau menyuruhku?” Beliau menjawab, “Jagalah rumah, keluargamu, lidahmu, dan lakukanlah apa yang kamu tahu dan tinggalkan yang mungkar, serta berhati hatilah dengan urusanmu sendiri, lalu tinggalkanlah perkara yang umum ” (HR Abu Daud dan Nasa’i) 

5. Dari Hudzaifah bin al Yaman ra bertanya, ” Wahai Rasulullah, apakah setelah kebaikan akan datang kejahatan?” Beliau menjawab, ” Ya, banyak penyeru yang mengajak ke pintu jahanam, maka, barangsiapa yang mengijabahnya (mengikutinya), mereka akan dilemparkan ke dalamnya.” Aku bertanya,”Sifatkanlah mereka itu kepada kita.” Beliau SAW berkata,”Mereka dari golongan kita dan berbicara dengan bahasa kita,” Aku berkata.

Datangnya hujan jadi baroqah

Datangnya Hujan adalah Berkah, bukan Musibah

Datangnya Hujan adalah Berkah, bukan Musibah

“Kami turunkan dari langit air yang penuh keberkahan lalu Kami tumbuhkan dengan air itu pohon-pohon dan biji-biji tanaman yang diketam.” (QS: Qaaf (50) : 9)”

Oleh: Sholih Hasyim

HUJAN, Jakarta dikepung Genangan Air”, demikian judul sebuah media di Jakarta. Ada lagi judul lain, “Musim hujan, harga sayur-mayur di Jakarta melonjak”, “Longsor akibat hujan sepekan rusak 84 rumah di Jepara”.

Meski terlihat remeh-temeh, judul-judul berita media menunjukkan tauhid dan akidah si pembuat atau pengelola media. Tak ada judul-judul media/Koran/TV yang sedikit menunjukkan –setidaknya—memuji keagungan Allah Subhanahu Wata’ala Sang Pencipta alam dan seisinya.

Belum pernah kita temukan berita sebuah Koran dengan menuliskan dengan memuji segala apa yang diberikan Allah dalam bentuk berkah hujan seperti, “Alhamdulillah, Hujan Sudah Turun. Hati-hati Banjir”. Bahkan semua berita seolah memberikan rasa takut dan menyalahkan Alam serta menyalahkan Allah Subhanahu Wata’ala.

Berkah, bukan Musibah

Hujan merupakan salah satu perkara terpenting bagi kehidupan makhluk hidup di muka bumi. Ia merupakan sebuah prasyarat bagi kelanjutan aktivitas di suatu tempat, tidak hanya manusia, tapi hampir semua makhluk.

Hujan juga memiliki peranan penting bagi semua makhluk hidup, termasuk manusia–disebutkan pada beberapa ayat dalam al-Qur’an mengenai informasi penting tentang hujan, kadar dan pengaruh-pengaruhnya.

Dalam al-Quran Surat Az-Zukhruf, Allah memberikan informasi bahwa hujan dinyatakan sebagai air yang diturunkan dalam “ukuran tertentu”. الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الْأَرْضَ مَهْدًا وَجَعَلَ لَكُمْ فِيهَا سُبُلًا لَّعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ

“Dan yang menurunkan air dari langit menurut kadar (yang diperlukan) lalu kami hidupkan dengan air itu negeri yang mati, seperti itulah kamu akan dikeluarkan (dari dalam kubur).” (QS: Az-Zukhruf : 11)

Allah telah menurunkan hujan sebagai rahmat di saat diperlukan oleh seluruh makhluk. Allah pula menurunkan hujan agar banyak orang mendapat kegembiraan setelah bertahun-tahun hamper putus asa menunggu. Karena itu, al-Quran menyebut hujan sebagai rahmat dan berkah, bukan musibah.

وَهُوَ الَّذِي يُنَزِّلُ الْغَيْثَ مِن بَعْدِ مَا قَنَطُوا وَيَنشُرُ رَحْمَتَهُ وَهُوَ الْوَلِيُّ الْحَمِيدُ

“Dan Dialah Yang menurunkan hujan sesudah mereka berputus asa dan menyebarkan rahmat-Nya. Dan Dialah Yang Maha Pelindung lagi Maha Terpuji.” (QS: Asy-Syuura [41] : 28).

Dengan mengirim hujan-lah, Allah menyuburkan tanaman-tanaman yang dibutuhkan manusia dan semua mahkluk yang hidup di bumi, menumbukan pepohonan dan buah-buahan dan biji tanaman yang dibutuhkan manusia.

وَنَزَّلْنَا مِنَ السَّمَاءِ مَاءً مُّبَارَكاً فَأَنبَتْنَا بِهِ جَنَّاتٍ وَحَبَّ الْحَصِيدِ

“Dan Kami turunkan dari langit air yang penuh keberkahan lalu Kami tumbuhkan dengan air itu pohon-pohon dan biji-biji tanaman yang diketam.” (QS: Qaaf (50) : 9).

Yang dimaksud keberkahan di sini adalah turunnya hujan, lebih banyak melahirkan kebaikan (manfaat), daripada mudharatnya (keburukan).

Di antara keberkahan dan manfaat hujan adalah manusia, hewan dan tumbuh-tumbuhan sangat memerlukannya untuk keberlangsungan hidup, sebagaimana Allah Ta’ala berfirman:

أَوَلَمْ يَرَ الَّذِينَ كَفَرُوا أَنَّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ كَانَتَا رَتْقاً فَفَتَقْنَاهُمَا وَجَعَلْنَا مِنَ الْمَاء كُلَّ شَيْءٍ حَيٍّ أَفَلَا يُؤْمِنُونَ

“Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman?.” (QS. Al Anbiya’ (21) : 30).

Al Baghowi menafsirkan ayat ini, “Kami menghidupkan segala sesuatu menjadi hidup dengan air yang turun dari langit yaitu menghidupkan hewan, tanaman dan pepohonan. Air hujan inilah sebab hidupnya segala sesuatu.” */(bersambung Hujan menjadi Musibah karena Kejahilan Manusia)

MANFAAT HIJRAH

Manfaat Hijrah: Antara Sunnatullah dan Berkah

Jika kita mendengar kata hijrah, mungkin yang nampak dalam pikiran kita adalah berbondong-bondong pergi ke suatu tempat yang jauh seperti yang dilakukan Nabi Muhammad saw.. Hijrah berasal dari bahasa Arab yang berarti berpindah.

Dalam bahasa Inggris hijrah adalah “migration”. Hijrah sangatlah bermanfaat terutama ketika resource di tempat kita sudah menipis, lapangan pekerjaan sulit didapatkan ataupun merasa tidak nyaman karena ada ancaman yang dapat menyusahkan kita.

Hijrah untuk mencari resource yang lebih banyak telah dilakukan oleh kaum primitif nomaden sejak dahulu kala.

Hijrah untuk mencari lapangan kerja dapat kita saksikan di sekitar perkotaan, yaitu urbanisasi.

Berkenaan dengan hijrah, saya pernah berbincang dengan seseorang yang terusir dari tempat tinggalnya dikarenakan perbedaan pemahaman soal keagamaan.

Rumah dan harta warisannya ditinggalkan karena diancam.

Namun dengan teguh, ia mengungsi ke suatu tempat yang lebih aman meski dengan bekal seadanya.

Ia sangat menyayangkan perlakuan orang-orang yang melakukan kezaliman tersebut, ia tidak mengutuk mereka bahkan ia mendoakan supaya mereka diberikan petunjuk supaya lebih moderat.

“Sekarang saya lebih maju di tempat yang baru ini, kedua anak saya pun bisa sekolah dengan tenang.

Ini manfaat berhijrah. Ini semua telah Allah SWT takdirkan, dan Allah selalu memberikan yang terbaik.

Saya sangat bersyukur,” tuturnya kepada saya.

Dengan demikian ini merupakan sebuah wacana bagi saya bahwa berhijrah memiliki manfaat yang besar. *Ustadz Yachya Yusliha*

Tafsir surat an-nisa ayat 86

Ayat ke 86

Artinya:

Apabila kamu diberi penghormatan dengan sesuatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik dari padanya, atau balaslah penghormatan itu (dengan yang serupa). Sesungguhnya Allah memperhitungankan segala sesuatu.  (4: 86)

Ayat ini menyinggung soal sikap antara sesama umat Islam dan menyatakan bahwa dalam interaksi dengan orang lain maka fondasinya harus kasih sayang dan penghormatan. Dalam istilah al-Quran disebut mahabbah dan tahiyyah baik itu berbentuk ucapan atau perbuatan. Saling mengucapkan salam  saat bertemu dengan orang lain serta memberikan hadiah dalam pertemuan keluarga dan sahabat merupakan hal yang dianjurkan oleh Islam. Ayat ini melihat salam dan hadiah sebagai perkara yang disepakati dan menghimbau kepada umat Islam untuk melakukannya setiap kali bertemu.

Islam memerintahkan umat Islam agar menjawab salam dengan jawaban yang lebih baik, atau sama. Dengan ungkapan lain, berikanlah jawaban salam orang lain dengan lebih baik dan hangat serta balaslah hadiah mereka dengan hadiah yang lebih baik. Dalam sejarah disebutkan, salah seorang dari budak Imam Hasan Mujtaba as menghadiahkan sekuntum bunga kepada beliau. Menjawab kebaikan budaknya, Imam Hasan as memerdekakannya dan menjelaskan alasan dari perbuatannya itu lewat ayat ini.

Dari ayat tadi terdapat  tiga  pelajaran yang dapat dipetik:‎

1.  Segala bentuk kasih sayang dari orang lain kita balas dengan bentuk yang terbaik dan  tidak sama.

2.  Menolak kebaikan orang lain adalah perbuatan yang tidak benar. Hadiah harus diterima dan haruslah dibalas dengan lebih baik.

3.  Mengabaikan salam dan penghormatan orang lain berdampak negatif yang akan dirasakan oleh manusia di dunia dan akhirat.

Pentingnya mengajak dalam kebaikan

أهمية الدعوة والتبليغ رسالة الدينية
Pentingnya mengajakالدعوة dan menyampaikanالتبليغ risaalah agamaالاسلام

قال الله سبحانه وتعالى في كتابه الكريم
Firman Allahu سبحانه وتعالى dalam Al Quran yang muliya

ولتكن منكم أمة يدعون إلى الخير ويأمرون بالمعروف وينهون عن المنكر. (آل عمران ٣ الآية ١٠٤)
Hendaklah ada diantara kamu segolongan ummahالأمة yang menyeru (berdakwah/الدعوة) kepada kebaikan dan memerintah dengan makruufمعروف dan mencegah daripada kemunkaranمنكر. (Aali imroonآل عمران suurahسورة ke 3 ayatالاية ke 104)

ادع إلى سبيل ربك بالحكمة والموعظة الحسنة وجادلهم بالتي هي أحسن. (سورة النحل ١٦ الآية ١٢٥)
Serulah manusia ke jalan Tuhanmu dengan bijaksana (الحكمة/hikmah) dan pelajaran yang baik (موعظة الحسنة/mauizhoh hasanah) dan bantahlah mereka pula dengan ahsanأحسن (yang baik pula). (Suurahسورة An nahlالنحل suurah 16 ayatالاية ke 125).

ومن أحسن قولا ممن دعا إلى الله وعمل صالحا وقال إنني من المسلمين. (سورة فصلت ٤١ الآية ٣٣)
Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amalعمل yang sholihصالح, dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?” (Suurahسورة fushilatفصلت 41 ayatالاية ke 33)

وقال النبي صلى الله عليه وسلم
Hadits hadits Nabi صلى الله عليه وسلم

عن أبي مسعود الأنصاري رضي الله عنه قال : قال النبي صلى الله عليه وسلم : من دل على خير فله مثل أجر فاعله. (رواه مسلم رقم الحديث ١٨٩٣)
Dari abii masuud al anshoriyالانصاري radhiyallahuرضي الله عنه berkata : bersabda Nabi صلى الله عليه وسلم : barangsiapa yang menunjukkan pada suatu kebaikan maka, ia mendapat fahala yang serupa. (Diriwayatkan imam muslimمسلم no hadits 1893)

عن أبي هريرة رضي الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال : (من دعا إلى هدى كان له من الأجر مثل أجور من تبعه لا ينقص من أجورهم شيئا). رواه مسلم رقم الحديث ٢٦٧٤
Dari abii huroiroh رضي الله عنه bahwasanya Rasulullah صلى الله عليه وسلم telah bersabda : (Barangsiapa yang mengajak (berdakwahالدعوة) kepada petunjuk (Alhudaالهدى) kebaikan. Maka, baginya ganjaran fahala seumpama dengan yang mengikutinya, tanpa mengurangi daripada fahala keduanya sedikitpun). Diriwayatkan imam muslimمسلم no haditsالحديث ke 2674

صدق الله العلي العظيم وصدق رسوله الكريم والله سبحانه وتعالى أعلم

PEDAGANG YANG JUJUR

KEUTAMAAN PEDAGANG YANG JUJUR DAN AMANAH

عن عبد الله بن عمر رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه و سلم: «التاجر الأمين الصدوق المسلم مع الشهداء – وفي رواية: مع النبيين و الصديقين و الشهداء – يوم القيامة» رواه ابن ماجه والحاكم والدارقطني وغيرهم

Dari ‘Abdullah bin’ Umar  radhiallahu ‘anhu  bahwa Rasuluillah  shallallahu’ alaihi wa sallam  bersabda, “ Seorang pedagang muslim yang jujur ​​dan amanah (percaya) akan (mengumpulkan) bersama para Nabi, orang-orang shiddiq dan orang-orang yang mati syahid pada hari kiamat (nanti). ” [1]

Hadis yang agung ini menunjukkan besarnya keutamaan seorang pedagang yang memiliki sifat-sifat ini, karena dia akan dimuliakan dengan keutamaan besar dan kedudukan yang tinggi di sisi Allah  Subhanahu wa Ta’ala , dengan berbagi bersama para nabi, orang-orang shiddiq dan orang-orang yang mati syahid pada hari kiamat. Imam ath-Thiibi mengomentari hadis ini dengan mengatakan, “Barangsiapa yang selalu mengutamakan sifat jujur ​​dan amanah, maka dia termasuk golongan orang-orang yang taat (kepada Allah  Subhanahu wa Ta’ala ); dari kalangan orang-orang shiddiq dan orang-orang yang mati syahid, tapi barangsiapa yang selalu memilih sifat dusta dan khianat, maka dia termasuk golongan orang-orang yang durhaka (kepada Allah  Subhanahu wa Ta’ala); dari kalangan orang-orang yang fasik (buruk) atau pelaku maksiat ”. [2]

Beberapa faidah penting yang dapat kita petik dari hadis ini:

– Maksud sifat jujur ​​dan aman di dalam berdagang adalah di dalam penjelasan yang disampaikan dengan membeli di atas dan menjelaskan tentang cacat atau kekurangan pada barang dagangan yang dijual jika memang ada cacatnya. [3]

– Inilah alasan yang menjadikan keberkahan dan menguntungkan dalam perdagangan dan jual beli, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “ Jika semua pedagang dan pembeli lebih jujur ​​dan lebih baik, maka Allah akan memberkahi semua dalam jual beli tersebut. Akan tetapi jika kaduanya berdusta dan kalah (hal tersebut), maka akan hilang keberkahan jual beli tersebut ”. [4]

– Berdagang yang halal dengan sifat-sifat terpuji yang menerima dalam hadis ini adalah pekerjaan yang disponsori dan diminta oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para shahabat y, yang ingin diperbincangkan dalam hadis yang shahih. [5]  Sementara hadis ” Sembilan persepuluh (90%) rezeki adalah dari perniagaan “, maka ini adalah hadis yang lemah, diterjemahkan yang diterjemahkan oleh syaikh al-Albani. [6]

– Maksud dari keutamaan dalam hadis ini: “… bersama para Nabi, orang-orang shiddiq dan orang-orang yang mati syahid pada hari kiamat (nanti)” guna maksud derajat dan kedudukannya sama dengan derajat dan kedudukannya, tetapi maksudnya mendukung di dalam golongan mereka, mengumumkan firman Allah  Subhanahu wa Ta’ala :

ومن يطع الله والرسول فأولئك مع الذين أنعم الله عليهم من النبيين والصديقين والشهداء والصالحين وحسن أولئك رفيقا. ذَلِكَ الْفَضْلُ مِنَ اللَّهِ وَكَفَى بِاللَّهِ عَلِيمًا

“ Dan barangsiapa yang menaati Allah dan Rasul-Nya, mereka akan dikumpulkan bersama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: para nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang yang saleh. Dan mereka yang dianggap sebagai teman. Yang demikian itu adalah karunia dari Allah, dan Allah cukup mengetahui. ”  (QS an-Nisaa ‘: 69-70) [7] .

وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين ، وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai