Menjaga silaturahmi

Banyak manfaat silaturahmi

Menyambung tali silaturahmi bisa dilakukan kapan saja. Tapi momen silaturahmi biasanya sangat terasa kuat di hari lebaran. Lebaran menjadi salah satu hari baik untuk mengunjungi sanak saudara, kerabat, teman, dan para tetangga untuk menjalin kembali hubungan persaudaraan.

Silaturahmi memiliki sejumlah keutamaan. Tak hanya dilakukan saat lebaran, dilakukan di luar lebaran pun berkahnya tetap luar bias. Menjalin dan menyambung kembali hubungan baik bisa melipatgandakan kebaikan dan keberkahan. Berikut lima keutamaan silaturahmi yang bisa kita dapatkan, langsung simak di sini ya.

1. Diluaskan Rezekinya dan Dipanjangkan Umurnya

“Barangsiapa yang ingin diluaskan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka sambunglah tali silaturahmi” (HR. Bukhari – Muslim).

Dengan bersilaturahmi, kita bisa mendapat keutamaan untuk mendapatkan rezeki yang lebih luas. Mengunjungi anggota keluarga yang lebih tua dan dihormati bisa meningkatkan keharmonisan. Masih diberi kesempatan untuk bisa saling berkunjung dan mendoakan menjadi cara tersendiri untuk kita mensyukuri nikmat waktu dan usia yang masih kita miliki saat ini.

2. Menjaga Kerukunan

yang berlalu

Memaafkan yang telah berlalu./Copyright shutterstock.com

Mungkin sebelumnya kita punya salah dan belum sempat meminta maaf. Maka, dengan bersilaturahmi kita bisa meluruskan keadaan. Menyelesaikan masalah yang ada, saling memaafkan, dan bisa kembali rukun hidup berdampingan. Pertengkaran dan perselisihan yang ada pun bisa dicari jalan keluarnya bersama melalui momen silaturahmi ini.

3. Kembali Terhubung dengan Allah SWT

Dalam hadist yang diriwayatkan dari Abu Hurairah ra ia berkata sesungguhnya Rasulullah saw bersabda: “Sesungguhnya Allah swt menciptakan makhluk, hingga apabila Dia selesai dari (menciptakan) mereka, rahim berdiri seraya berkata: ini adalah kedudukan orang yang berlindung dengan-Mu dari memutuskan. Dia berfirman: “Benar, apakah engkau ridha jika Aku menyambung orang yang menyambung engkau dan memutuskan orang yang memutuskan engkau?” Ia menjawab: iya. Dia berfirman: “Itulah untukmu.”

Menyambung tali silaturahmi dengan manusia bisa menjadi cara kita untuk kembali terhubung dengan Sang Pecipta. Memperlakukan manusia dengan baik juga jadi salah satu cara menjalankan perintah-Nya. Menjaga kerukunan dan perdamaian dengan sesama merupakan salah satu cara kita untuk bisa dekat dengan Allah SWT.

Assalamualaikum shohib MDD

Jagalah tali silaturahmi

Marilah kita bertakwa kepada Allah Ta’ala. Takwa yang juga dapat mengantarkan kita pada kebaikan hubungan dengan sesama manusia. Lebih khusus lagi, yaitu sambunglah tali silaturahmi dengan keluarga yang masih ada hubungan nasab (anshab). Yang dimaksud, yaitu keluarga itu sendiri, seperti ibu, bapak, anak lelaki, anak perempuan ataupun orang-orang yang mempunyai hubungan darah dari orang-orang sebelum bapaknya atau ibunya. Inilah yang disebut arham atau ansab. Adapun kerabat dari suami atau istri, mereka adalah para ipar, tidak memiliki hubungan rahim ataupun nasab.

Banyak cara untuk menyambung tali silaturahmi. Misalnya dengan cara saling berziarah (berkunjung), saling memberi hadiah, atau dengan pemberian yang lain. Sambunglah silaturahmi itu dengan berlemah lembut, berkasih sayang, wajah berseri, memuliakan, dan dengan segala hal yang sudah dikenal manusia dalam membangun silaturahmi. Dengan silaturahmi, pahala yang besar akan diproleh dari Allah Azza wa Jalla. Silaturahim menyebabkan seseorang bisa masuk ke dalam surga. Silaturahim juga menyebabkan seorang hamba tidak akan putus hubungan dengan Allah di dunia dan akhirat.

Disebutkan dalam Shahîh al-Bukhâri dan Shahîh Muslim, dari Abu Ayyûb al-Anshârî:

أَنَّ رَجُلًا قَالَ : يا رَسُولَ اللَّهِ أَخْبِرْنِي بِمَا يُدْخِلُنِي الْجَنَّةَ وَيُبَاعِدُنِي مِنَ النَّارِ فَقَالَ النَّبِيُّ : لَقَدْ وُفِّقَ أَوْ قَالَ لَقَدْ هُدِيَ كَيْفَ قُلْتَ ؟ فَأَعَادَ الرَّجُلُ فَقَالَ النَّبِيُّ : تَعْبُدُ اللَّهَ لَا تُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا وَتُقِيمُ الصَّلَاةَ وَتُؤْتِي الزَّكَاةَ وَتَصِلُ ذَا رَحِمِكَ فَلَمَّا أَدْبَرَ قَالَ النَّبِيُّ : إِنْ تَمَسَّكَ بِمَا أَمَرْتُ بِهِ دَخَلَ الْجَنَّةَ

“Bahwasanya ada seseorang berkata kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Wahai Rasulullah, beritahukan kepadaku tentang sesuatu yang bisa memasukkan aku ke dalam surga dan menjauhkanku dari neraka,” maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sungguh dia telah diberi taufik,” atau “Sungguh telah diberi hidayah, apa tadi yang engkau katakan?” Lalu orang itupun mengulangi perkataannya. Setelah itu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Engkau beribadah kepada Allah dan tidak menyekutukannya dengan sesuatu pun, menegakkan shalat, membayar zakat, dan engkau menyambung silaturahmi”. Setelah orang itu pergi, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Jika dia melaksanakan apa yang aku perintahkan tadi, pastilah dia masuk surga”.

Silaturahmi juga merupakan faktor yang dapat menjadi penyebab umur panjang dan banyak rizki. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

مَنْ سَرَّهُ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ أَوْ يُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ

“Barang siapa yang ingin dilapangkan rizkinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung tali silaturahmi”. [Muttafaqun ‘alaihi].

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

الرَّحِمُ مُعَلَّقَةٌ بِالْعَرْشِ تَقُولُ مَنْ وَصَلَنِي وَصَلَهُ اللَّهُ وَمَنْ قَطَعَنِي قَطَعَهُ اللَّهُ

“Ar-rahim itu tergantung di Arsy. Ia berkata: “Barang siapa yang menyambungku, maka Allah akan menyambungnya. Dan barang siapa yang memutusku, maka Allah akan memutus hubungan dengannya”. [Muttafaqun ‘alaihi].

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menjelaskan bahwa menyambung silaturahmi lebih besar pahalanya daripada memerdekakan seorang budak. Dalam Shahîh al-Bukhâri, dari Maimûnah Ummul-Mukminîn, dia berkata:

يَا رَسُولَ اللَّهِ أَشَعَرْتَ أَنِّي أَعْتَقْتُ وَلِيدَتِي قَالَ أَوَفَعَلْتِ قَالَتْ نَعَمْ قَالَ أَمَا إِنَّكِ لَوْ أَعْطَيْتِهَا أَخْوَالَكِ كَانَ أَعْظَمَ لِأَجْرِكِ

“Wahai Rasulullah, tahukah engkau bahwa aku memerdekakan budakku?” Nabi bertanya, “Apakah engkau telah melaksanakannya?” Ia menjawab, “Ya”. Nabi bersabda, “Seandainya engkau berikan budak itu kepada paman-pamanmu, maka itu akan lebih besar pahalanya”.

Yang amat disayangkan, ternyata ada sebagian orang yang tidak mau menyambung silaturahmi dengan kerabatnya, kecuali apabila kerabat itu mau menyambungnya. Jika demikian, maka sebenarnya yang dilakukan orang ini bukanlah silaturahmi, tetapi hanya sebagai balasan. Karena setiap orang yang berakal tentu berkeinginan untuk membalas setiap kebaikan yang telah diberikan kepadanya, meskipun dari orang jauh.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لَيْسَ الْوَاصِلُ بِالْمُكَافِئِ وَلَكِنْ الْوَاصِلُ الَّذِي إِذَا قُطِعَتْ رَحِمُهُ وَصَلَهَا

“Orang yang menyambung silaturahmi itu, bukanlah yang menyambung hubungan yang sudah terjalin, akan tetapi orang yang menyambung silaturahmi ialah orang yang menjalin kembali hubungan kekerabatan yang sudah terputus”. [Muttafaqun ‘alaihi].

Oleh karena itu, sambunglah hubungan silaturahmi dengan kerabat-kerabat kita, meskipun mereka memutuskannya. Sungguh kita akan mendapatkan balasan yang baik atas mereka.

Diriwayatkan, telah datang seorang lelaki kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata:

يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ لِي قَرَابَةً أَصِلُهُمْ وَيَقْطَعُونِي وَأُحْسِنُ إِلَيْهِمْ وَيُسِيئُونَ إِلَيَّ وَأَحْلُمُ عَنْهُمْ وَيَجْهَلُونَ عَلَيَّ فَقَالَ لَئِنْ كُنْتَ كَمَا قُلْتَ فَكَأَنَّمَا تُسِفُّهُمْ الْمَلَّ وَلَا يَزَالُ مَعَكَ مِنَ اللَّهِ ظَهِيرٌ عَلَيْهِمْ مَا دُمْتَ عَلَى ذَلِكَ

“Wahai Rasulullah, aku mempunyai kerabat. Aku menyambung hubungan dengan mereka, akan tetapi mereka memutuskanku. Aku berbuat baik kepada mereka, akan tetapi mereka berbuat buruk terhadapku. Aku berlemah lembut kepada mereka, akan tetapi mereka kasar terhadapku,” maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila engkau benar demikian, maka seakan engkau menyuapi mereka pasir panas, dan Allah akan senantiasa tetap menjadi penolongmu selama engkau berbuat demikan.” [Muttafaq ‘alaihi].

Begitu pula firman Allah Ta’ala:

وَالَّذِينَ يَنْقُضُونَ عَهْدَ اللَّهِ مِنْ بَعْدِ مِيثَاقِهِ وَيَقْطَعُونَ مَا أَمَرَ اللَّهُ بِهِ أَنْ يُوصَلَ وَيُفْسِدُونَ فِي الْأَرْضِ ۙ أُولَٰئِكَ لَهُمُ اللَّعْنَةُ وَلَهُمْ سُوءُ الدَّارِ

“Orang-orang yang merusak janji Allah setelah diikrarkan dengan teguh dan memutuskan apa-apa yang Allah perintahkan supaya dihubungkan dan mengadakan kerusakan di bumi, orang-orang itulah yang memperoleh kutukan dan bagi mereka tempat kediaman yang buruk (Jahannam)”. [ar-Ra’d/13:25].

Dari Jubair bin Mut’im bahwasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda:

لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ قَاطِعٌ

“Tidaklah masuk surga orang yang suka memutus, ( memutus tali silaturahmi)”. [Mutafaqun ‘alaihi].

Memutus tali silaturahmi yang paling besar, yaitu memutus hubungan dengan orang tua, kemudian dengan kerabat terdekat, dan kerabat terdekat selanjutnya. Oleh karena itu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda

أَلَا أُنَبِّئُكُمْ بِأَكْبَرِ الْكَبَائِرِ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ قُلْنَا بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ الْإِشْرَاكُ بِاللَّهِ وَعُقُوقُ الْوَالِدَيْنِ

”Maukah kalian aku beritahu tentang dosa terbesar di antara dosa-dosa besar?” Beliau mengulangi pertanyaannya sebanyak tiga kali. Maka para sahabat menjawab: ”Mau, ya Rasulullah,” Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ”Berbuat syirik kepada Allah dan durhaka kepada kedua orang tua”.

Demikianlah, betapa besar dosa seseorang yang durhaka kepada orang tua. Dosa itu disebutkan setelah dosa syirik kepada Allah Ta’ala. Termasuk perbuatan durhaka kepada kedua orang tua, yaitu tidak mau berbuat baik kepada keduanya. Lebih parah lagi jika disertai dengan menyakiti dan memusuhi keduanya, baik secara langsung maupun tidak langsung.

Dalam shahîhain, dari ‘Abdullah bin ‘Amr, sesungguhnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:

مِنَ الْكَبَائِرِ شَتْمُ الرَّجُلِ وَالِدَيْهِ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَهَلْ يَشْتِمُ الرَّجُلُ وَالِدَيْهِ قَالَ نَعَمْ يَسُبُّ أَبَا الرَّجُلِ فَيَسُبُّ أَبَاهُ وَيَسُبُّ أُمَّهُ فَيَسُبُّ أُمَّهُ

”Termasuk perbuatan dosa besar, yaitu seseorang yang menghina orang tuanya,” maka para sahabat bertanya: ”Wahai Rasulullah, adakah orang yang menghina kedua orang tuanya sendiri?” Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ”Ya, seseorang menghina bapak orang lain, lalu orang lain ini membalas menghina bapaknya. Dan seseorang menghina ibu orang lain, lalu orang lain ini membalas dengan menghina ibunya”.

Wahai orang-orang yang mengaku beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Bertakwalah kepada Allah Azza wa Jalla. Dan marilah kita melihat diri kita masing-masing, sanak keluarga kita! Sudahkah kita menunaikan kewajiban atas mereka dengan menyambung tali silaturahmi? Sudahkah kita berlemah lembut terhadap mereka? Sudahkah kita tersenyum tatkala bertemu dengan mereka? Sudahkah kita mengunjungi mereka? Sudahkah kita mencintai, memuliakan, menghormati, saling menunjungi saat sehat, saling menjenguk ketika sakit? Sudahkah kita membantu memenuhi atau sekedar meringankan yang mereka butuhkan?

Read more https://almanhaj.or.id/2658-betapa-penting-menyambung-silaturahmi.html

Sosialisasi PIP

Apa itu PIP

Bandung- Sabtu 29 NOPEMBER 2019 Program Indonesia Pintar (PIP) adalah program prioritas Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud). Peserta PIP ini mendapatkan bantuan dana dalam bentuk Kartu Indonesia Pintar (KIP). Tahun ini Kemendikbud menetapkan target penambahan 450 ribu peserta didik yang mendapatkan KIP.

Untuk mencapai target itu, Kemendikbud telah menyiapkan beberapa upaya, di antaranya pendataan, melibatkan berbagai pihak dan meningkatkan jumlah sasaran.

“Langkah-langkah penanganan Anak tidak sekolah (ATS) agar dapat belajar kembali di sekolah maupun di pendidikan kesetaraan adalah dengan cara, satu, pendataan by name by address melalui satuan pendidikan. Dua, melibatkan berbagai pihak dalam pendataan dan mendorong ATS agar mau belajar kembali,”

Dan yang ketiga,  peningkatan jumlah sasaran Bantuan Operasional Pendidikan (BOP) kesetaraan, sehingga semua anak pemegang KIP dapat dilayani melalui program pendidikan kesetaraan.

Sabtu, 30 nop 2019. 3 robiul ahir 1441 H.

Imam jadi dasar persatuan

Umat ​​Islam mengetahui bahwa itu adalah ajaran yang bersumber dari al Qur’an dan hadits nabi. Oleh karena itu, terasa terasa berat, harus dijalankan. Al Qur’an memberikan pesan itu, tidak boleh di antara kaum muslimin bercerai berai. Di antara mereka bersaudara. Selain itu, dinyatakan pula di dalam hadits nabi itu, di antara kaum muslimin adalah bagaikan satu bangunan, maka bagian-bagiannya saling memperkuat.

Atas dasar pesan al Qur’an dan hadits yang disetujui, maka persatuan tidak perlu disetujui, diminta juga dicintai. Mencintai persatuan yang dilihat sama dengan menerima al Qur’an dan hadits nabi. Manakala al Qur’an tidak boleh diabaikan, maka itu juga tidak boleh diabaikan pesan Al Qur’amn itu sendiri. Maka, selalu membangun dan mempertahankan persatuan di antara kaum muslimin adalah tanggung jawab yang harus ditunaikan.

Persatuan sebagai sesuatu yang harus dicintai, maka dikeluarkan juga diperjuangkan. Berjuang harus selalu diikuti dengan pengorbanan. Tidak pernah ada perjuangan tanpa pengorbanan. Tatkala persatuan harus mempertimbangkan sesuatu yang dicintai, maka untuk mewujudkannya, harus dilakukan dengan perjuangan dan pengorbanan. Atas dasar pandangan, persatuan adalah bagian penting dari ajaran Islam yang harus dicintai itu, maka harus diperjuangkan hingga benar-benar terwujud.

Banyak orang sanggup berjuang menegakkan shalat, zakat, puasa, haji dan lain-lain, akan tetapi tatkala harus berjuang agar umat bersatu maka, tidak mudah menjalankannnya. Umat ​​Islam di mana-mana terpecah belah dalam berbagai aliran, golongan, organisasi, dan madzhab. Perbedaan itu juga selalu dijadikan alasan untuk tidak bersatu. Berbeda sebenarnya tidak berfikir, asalkan perbedaan tidak saling percaya kenal dan masih bersatu. Tatkala berbeda, maka mereka saling berhubungan.

Sebagai bukti bahwa pengajaran tentang persatuan itu sangat sulit dilakukan, umat Islam di berbagai belahan dunia masih terlibat perpecahan akibat mereka menjadi lemah, baik di bidang pengembangan ilmu pengetahuan, ekonomi, politik, sosial, dan lain-lain. Mula-mula yang dilakukan oleh Nabi Muhammad yang dilakukan nyampai di Madinah dalam berhijrah adalah membangun persatuan. Kaum Muhajirin dan kaum Anshar dipersiapkan oleh utusan Allah terakhir itu.

Demikian pula di Indonesia, umat Islam belum berhasil mengimplementasikan ajaran tentang persatuan. Organisasi, aliran, dan kelompok-kelopok umat Islam tidak memiliki batasan atau kesulitan dalam membangun sillaturrakhiem sebagai landasan dasar persatuan. Semangat berpecah belah bertentangan dengan ajaran atau doktrin Islam yang saling membutuhkan dan memperkukuh, hingga bagaikan bangunan yang satu. Kepentingan kelompok, aliran, dan organisasi lebih dikedepankan dibandingkan kepentingan ukhuwah Islamiyah yang dibutuhkan dijaga atau dipahami bersama.

Ternyata lebih aneh, lebih disukai organisasi politik umat Islam daripada Partai Persatuan, juga gagal bersatu. Beberapa bulan terakhir ini, partai politik yang membawa misi Islam dan oleh karena itu seluruh pimpinan dan anggotanya adalah umat Islam, terlibat perpecahan yang lebih mudah. Antar pengurus partai saling memecat, dan bahkan juga di antara kelompok di partai politik yang akan menyelenggarakan muktamar sendiri-sendiri.

Jika demikian yang terjadi, maka persatuan memang sulit diwujudkan. Persatuan belum dianggap penting dan diperjuangkan, padahal itu merupakan kunci kemajuan, kemenangan, dan kemuliaan. Terasa aneh, perpecahan umat menganggap hal biasa dan dianggap tidak menyimpang dari ajaran Islam. Tidak terkecuali partai politik bernama Partai Persatuan dan menggunakan lambang Ka’bah, tetapi masih belum mampu bersatu. Ayat al-Qur’an tentang umat Islam bersatu, seolah-olah boleh diabaikan dan dilupakan. Wallahu a’lam.

Jum’at 29 NOPEMBER 2019 M ( 2 Robiul awal 1441 H ) musuh manusia yang paling bahaya.

Musuh manusia yang paling bahaya


Golongan Munafik Lebih Berbahaya dari Musuh, Kenali Sifat dan Karakter Mereka!
Diterbitkan : Jumat, 29 NOPEMBER 2019


oleh : Ustadz Yachya Yusliha.

Golongan munafik adalah segolongan manusia yang menyusup ke tengah barisan orang-orang beriman. Mereka memiliki banyak topeng palsu untuk melindungi wujud asli mereka demi menyukseskan misi penghancuran barisan kaum muslimin melalui jalur internal.

Golongan munafik yang berada dalam tubuh umat Islam menyimpan banyak strategi dan siasat yang begitu licik tanpa peduli halal-haram. mereka adalah mata-mata yang menyesatkan. Mereka adalah mata orang-orang kafir dan musuh Islam yang sengaja ditanam. Mereka akan selalu mencari celah untuk merusak tatanan kehidupan, mental spiritual, dan persatuan kaum muslimin.

Golongan munafik adalah golongan penduduk bumi yang paling keji. Mereka sangat membahayakan Islam dan kaum muslimin.

Allah ‘azza wajalla berfirman,
وَإِذَا رَأَيْتَهُمْ تُعْجِبُكَ أَجْسَامُهُمْ ۖ وَإِنْ يَقُولُوا تَسْمَعْ لِقَوْلِهِمْ ۖ كَأَنَّهُمْ خُشُبٌ مُسَنَّدَةٌ ۖ يَحْسَبُونَ كُلَّ صَيْحَةٍ عَلَيْهِمْ ۚ هُمُ الْعَدُوُّ فَاحْذَرْهُمْ ۚ قَاتَلَهُمُ اللَّهُ ۖ أَنَّىٰ يُؤْفَكُونَ
Dan apabila kamu melihat mereka, tubuh-tubuh mereka menjadikan kamu kagum. Dan jika mereka berkata kamu mendengarkan perkataan mereka. Mereka adalah seakan-akan kayu yang tersandar. Mereka mengira bahwa tiap-tiap teriakan yang keras ditujukan kepada mereka. Mereka itulah musuh (yang sebenarnya) maka waspadalah terhadap mereka; semoga Allah membinasakan mereka. Bagaimanakah mereka sampai dipalingkan (dari kebenaran)?” (QS. Al-Munafiqun: 4) 
Golongan munafik adalah musuh.

Mereka adalah musuh nyata yang sangat membahayakan umat Islam. Oleh sebab itu, keberadaan mereka di tubuh umat ini harus segera diungkap. Identitas mereka harus segera diungkap. Strategi-strategi mereka dalam menghancurkan persatuan umat harus segera dibongkar.

Golongan munafik adalah segolongan manusia yang menampakkan wajah Islam namun menyembunyikan kekafiran. Golongan munafik pada aslinya bukanlah golongan orang-orang mukmin.

Semua pencitraan yang dilakukan oleh orang-orang munafik membawa misi membuat kerusakan, fitnah, mengacaukan serta memperburuk citra Islam dan kaum muslimin.

Syaikh Abdul Aziz bin Marzuq ath-Thuraifi fakkallahu asrah mengatakan,
“Allah ‘azza wajalla menyebut golongan munafik di dalam al-Quran lebih banyak dari menyebut kaum Yahudi, sebab golongan munafik menggunakan perantara-perantara syar’i untuk menghancurkan prinsip dasar Islam. Keberadaan mereka tersamarkan dari khalayak.”

Golongan munafik adalah kawanan yang berbahaya.

Bahaya yang mereka ciptakan lebih berbahaya dari bahaya yang diciptakan musuh yang memiliki wujud yang jelas. Oleh sebab itu, Allah ‘azza wajalla menyebut mereka dengan “Mereka adalah musuh, maka berhati-hatilah,” Allah ‘azza wajalla tidak menyebut mereka dengan “Mereka adalah bagian dari musuh.”
Allah ‘azza wajalla berfirman,
يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَالَّذِينَ آمَنُوا وَمَا يَخْدَعُونَ إِلَّا أَنْفُسَهُمْ وَمَا يَشْعُرُونَ
Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanya menipu dirinya sendiri sedang mereka tidak sadar.” (QS. Al-Baqarah: 9) 
Allah ‘azza wajalla telah mengungkap banyak sifat munafik di banyak tempat dalam al-Quran. Sifat-sifat munafik yang ditunjukkan oleh Allah ‘azza wajalla inilah yang dapat dijadikan acuan bagi orang mukmin untuk mendeteksi keberadaan mereka di balik persembunyiannya di dalam tubuh barisan kaum muslimin.
 
Di Dalam Hati Golongan Munafik Terdapat Penyakit

Golongan munafik sejatinya sama sekali tidak memiliki keberanian mental untuk menunjukkan wujud asli mereka di hadapan orang mukmin. Mereka juga tidak memiliki kemampuan untuk menunjukkan kemurnian keimanan mereka, jika mereka bersikukuh mengaku beriman.

Mereka tidak akan pernah mau terang-terangan jika mereka sebenarnya sangat mengingkari kebenaran.
Mengapa bisa demikian? Sebab dalam hati golongan munafik terdapat penyakit.

Sejatinnya hati mereka sakit sehingga mereka menyimpang dari jalan iman.
Allah ‘azza wajalla berfirman,
فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ فَزَادَهُمُ اللَّهُ مَرَضًا ۖ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ بِمَا كَانُوا يَكْذِبُونَ
Dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta.” (QS. Al-Baqarah: 10) 
 
Golongan Munafik adalah Perusak yang Mengaku Pembawa Perbaikan
Di antara ciri munafik adalah selalu mengaku-aku sebagai pembawa perbaikan, padahal sebenarnya mereka itulah golongan yang selalu melakukan aktivitas perusakan di muka bumi ini. Mereka berusaha sekuat tenaga untuk menghancurleburkan tiap gagasan-gagasan kebaikan.

Dan anehnya, setelah mereka menyelesaikan program-program penghancuran tersebut, dengan bangga dan tanpa merasa bersalah mereka mendeklarasikan diri sebagai golongan yang membawa perubahan yang menebar kebaikan.

Allah ‘azza wajalla berfirman,
وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ لَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ قَالُوا إِنَّمَا نَحْنُ مُصْلِحُونَ
Dan bila dikatakan kepada mereka: ‘Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi’. Mereka menjawab: ‘Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan’.” (QS. Al-Baqarah: 11) 
Fenomena pihak-pihak yang secara lantang mengaku-aku sebagai sang pembawa perbaikan, mengaku-aku sebagai pahlawan revolusi perbaikan masyarakat, sebagai tokoh pembangunan negara, negara pengatur perdamaian dunia, dan semisalnya, padahal secara nyata dan fakta mereka yang mengaku-aku ini sebenarnya adalah pihak perusak yang harus mempertanggungjawabkan kerusakan akibat perbuatan mereka di hadapan umat.

Allah ‘azza wajalla dengan sangat tegas membongkar karakter munafik mereka ini dengan argumentasi final; merekalah sebenarnya sang perusak tatanan kehidupan manusia dan alam ini! Merekalah golongan yang sebenarnya sedang memerangi proyek perbaikan yang dilakukan oleh orang-orang yang beriman!
Allah ‘azza wajalla berfirman,
أَلَا إِنَّهُمْ هُمُ الْمُفْسِدُونَ وَلَٰكِنْ لَا يَشْعُرُونَ
Ingatlah, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang membuat kerusakan, tetapi mereka tidak sadar.” (QS. Al-Baqarah: 12) 
 
Golongan Munafik Adalah Golongan Orang-orang Dungu Level Ilusi
Salah satu ciri karakter orang dungu adalah merasa lebih tinggi levelnya dari orang lain. Mereka lebih suka mengaku diri sebagai golongan yang memiliki keimanan dan keikhlasan yang kuat.

Padahal sejatinya itu hanyalah ilusi dan klaim belaka. Karena sejatinya mereka adalah orang-orang dungu yang gemar melakukan penyimpangan. Itulah mengapa mereka termasuk dalam golongan munafik.
Allah ‘azza wajalla berfirman,
وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ آمِنُوا كَمَا آمَنَ النَّاسُ قَالُوا أَنُؤْمِنُ كَمَا آمَنَ السُّفَهَاءُ ۗ أَلَا إِنَّهُمْ هُمُ السُّفَهَاءُ وَلَٰكِنْ لَا يَعْلَمُونَ
Apabila dikatakan kepada mereka: ‘Berimanlah kamu sebagaimana orang-orang lain telah beriman’. Mereka menjawab: ‘Akan berimankah kami sebagaimana orang-orang yang bodoh itu telah beriman?’ Ingatlah, sesungguhnya merekalah orang-orang yang bodoh; tetapi mereka tidak tahu.” (QS. Al-Baqarah: 13)
 
Golongan Munafik Adalah Manipulator dan Ahli Konspirasi
Golongan munafik memang dikenal sebagai manusia yang paling licik dalam membuat siasat. Segala bentuk sifat kekejian, pengecut, busuk, dan kotor melekat pada diri mereka. Mereka memasang wajah palsu sesuai dengan situasi dan kondisi yang menguntungkan.
Jika mereka sedang berada di tengah kerumunan orang beriman, mereka mengenakan topeng keimanan hingga tampak samar perbedaan antara kemunafikan mereka dengan umat beriman. Mereka baru akan membuka topeng wajah ketika berada di tengah kerumunan orang-orang kafir dan setan-setan berwujud manusia yang notabene adalah kawan perjuangan mereka.
Allah ‘azza wajalla berfiman,
وَإِذَا لَقُوا الَّذِينَ آمَنُوا قَالُوا آمَنَّا وَإِذَا خَلَوْا إِلَىٰ شَيَاطِينِهِمْ قَالُوا إِنَّا مَعَكُمْ إِنَّمَا نَحْنُ مُسْتَهْزِئُونَ
Dan bila mereka berjumpa dengan orang-orang yang beriman, mereka mengatakan: ‘Kami telah beriman’. Dan bila mereka kembali kepada syaitan-syaitan mereka, mereka mengatakan: ‘Sesungguhnya kami sependirian dengan kamu, kami hanyalah berolok-olok’.” (QS. Al-Baqarah: 14) 
Akan tetapi, Allah ‘azza wajalla menghadapi mereka dengan ancaman mengerikan yang dapat mengguncang eksistensi mereka sehingga mereka menjadi kehilangan arah dan terpukul. Jalan yang telah mereka pilih sejatinya adalah jalan yang menambah parah kesesatan dan permusuhan mereka terhadap umat beriman.
أُولَٰئِكَ الَّذِينَ اشْتَرَوُا الضَّلَالَةَ بِالْهُدَىٰ فَمَا رَبِحَتْ تِجَارَتُهُمْ وَمَا كَانُوا مُهْتَدِينَ
Mereka itulah orang yang membeli kesesatan dengan petunjuk, maka tidaklah beruntung perniagaan mereka dan tidaklah mereka mendapat petunjuk.” (QS. Al-Baqarah: 16) 
Bukankah mereka ini adalah segolongan manusia yang menyukai jalan kemunafikan yang mereka tempuh? Bukankah sebenarnya keimanan telah berada di depan mata mereka? Bukankah petunjuk Allah ‘azza wajalla telah nyata di sekeliling mereka?
Namun, karena mereka lebih memilih jalan kemunafikan, maka mereka merasakan sensasi kesesatan jalan yang mereka pilih sendiri.
مَثَلُهُمْ كَمَثَلِ الَّذِي اسْتَوْقَدَ نَارًا فَلَمَّا أَضَاءَتْ مَا حَوْلَهُ ذَهَبَ اللَّهُ بِنُورِهِمْ وَتَرَكَهُمْ فِي ظُلُمَاتٍ لَا يُبْصِرُونَ
Perumpamaan mereka adalah seperti orang yang menyalakan api, maka setelah api itu menerangi sekelilingnya Allah hilangkan cahaya (yang menyinari) mereka, dan membiarkan mereka dalam kegelapan, tidak dapat melihat.” (QS. Al-Baqarah: 17) 
Dan akhirnya, mereka menanggung hukuman berupa guncangan hati, kesesatan pikiran, dan kebingungan jalan hidup.
Allah ‘azza wajalla berfirman,
أَوْ كَصَيِّبٍ مِنَ السَّمَاءِ فِيهِ ظُلُمَاتٌ وَرَعْدٌ وَبَرْقٌ يَجْعَلُونَ أَصَابِعَهُمْ فِي آذَانِهِمْ مِنَ الصَّوَاعِقِ حَذَرَ الْمَوْتِ ۚ وَاللَّهُ مُحِيطٌ بِالْكَافِرِينَ
Atau seperti (orang-orang yang ditimpa) hujan lebat dari langit disertai gelap gulita, guruh dan kilat; mereka menyumbat telinganya dengan anak jarinya, karena (mendengar suara) petir, sebab takut akan mati. Dan Allah meliputi orang-orang yang kafir.” (QS. Al-Baqarah: 19) 
Mereka pun akhirnya juga harus menanggung kegelapan dan kebutaan penglihatan dan bashirah.
يَكَادُ الْبَرْقُ يَخْطَفُ أَبْصَارَهُمْ ۖ كُلَّمَا أَضَاءَ لَهُمْ مَشَوْا فِيهِ وَإِذَا أَظْلَمَ عَلَيْهِمْ قَامُوا ۚ وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ لَذَهَبَ بِسَمْعِهِمْ وَأَبْصَارِهِمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
Hampir-hampir kilat itu menyambar penglihatan mereka. Setiap kali kilat itu menyinari mereka, mereka berjalan di bawah sinar itu, dan bila gelap menimpa mereka, mereka berhenti. Jikalau Allah menghendaki, niscaya Dia melenyapkan pendengaran dan penglihatan mereka. Sesungguhnya Allah berkuasa atas segala sesuatu.” (QS. Al-Baqarah: 20) 
 
Golongan Munafik Paling Hobi Berkhianat
Golongan munafik di permukaan telah membuat janji dengan Allah ‘azza wajalla untuk melaksanakan berbagai amal kebaikan, berkomitmen untuk melaksanakan perintah Allah ‘azza wajalla, namun karena para pengkhianat janji itu hatinya hampa, akalnya kosong, dan setan-setan telah berhasil menjajah diri mereka, akhirnya dengan begitu mudahnya mereka berkhianat terhadap perjanjian yang tela mereka buat dengan Allah ‘azza wajalla.
Allah ‘azza wajalla berfirman,
وَمِنْهُمْ مَنْ عَاهَدَ اللَّهَ لَئِنْ آتَانَا مِنْ فَضْلِهِ لَنَصَّدَّقَنَّ وَلَنَكُونَنَّ مِنَ الصَّالِحِينَ
Dan di antara mereka ada orang yang telah berikrar kepada Allah: “Sesungguhnya jika Allah memberikan sebahagian karunia-Nya kepada kami, pastilah kami akan bersedekah dan pastilah kami termasuk orang-orang yang saleh.” (QS. At-Taubah: 75)
فَلَمَّا آتَاهُمْ مِنْ فَضْلِهِ بَخِلُوا بِهِ وَتَوَلَّوْا وَهُمْ مُعْرِضُونَ
Maka setelah Allah memberikan kepada mereka sebahagian dari karunia-Nya, mereka kikir dengan karunia itu, dan berpaling, dan mereka memanglah orang-orang yang selalu membelakangi (kebenaran).” (QS. At-Taubah: 76)
فَأَعْقَبَهُمْ نِفَاقاً فِي قُلُوبِهِمْ إِلَى يَوْمِ يَلْقَوْنَهُ بِمَا أَخْلَفُوا اللَّهَ مَا وَعَدُوهُ وَبِمَا كَانُوا يَكَذِبُونَ
Maka Allah menimbulkan kemunafikan pada hati mereka sampai kepada waktu mereka menemui Allah, karena mereka telah memungkiri terhadap Allah apa yang telah mereka ikrarkan kepada-Nya dan juga karena mereka selalu berdusta.” (QS. At-Taubah: 77)
 
Golongan Munafik Selalu Loyal Kepada Orang Kafir dan Benci Kepada Orang Mukmin
Golongan munafik di mana pun mereka berada pasti menganggap kemuliaan, kejayaan, dan kemajuan peradaban itu ada pada orang-orang kafir, sehingga loyalitas mereka persembahkan untuk orang-orang kafir tersebut.

Sementara rasa benci orang-orang munafik tersebut terhadap orang-orang beriman tak berkurang sedikit pun meskipun mereka berada di tengah-tengah mereka.

Mata mereka akan lebih terasa sejuk ketika mendapat informasi tentang kemajuan ekonomi, teknologi, dan peradaban bangsa-bangsa kafir.

Akan tetapi mereka akan merasa sangat sedih dan kecewa manakala kemajuan-kemajuan tersebut berada di tangan kaum mukminin.
Kecintaan orang-orang golongan munafik terhadap orang-orang kafir mereka letakkan jauh di atas dan selalu dijunjung tinggi. Sementara itu, mereka sama sekali tidak memiliki rasa cinta dan kasih sayang terhadap orang-orang beriman.

Orang-orang munafik lebih senang bergaul dengan orang-orang kafir, sementara keberadaan mereka di tengah kaum muslimin hanyalah sebuah kedok palsu yang tampak dari luar di mana mereka memiliki kepentingan busuk untuk mengacaukan barisan kaum muslimin.

Allah ‘azza wajalla berfirman,
الَّذِينَ يَتَّخِذُونَ الْكَافِرِينَ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُونِ الْمُؤْمِنِينَ ۚ أَيَبْتَغُونَ عِنْدَهُمُ الْعِزَّةَ فَإِنَّ الْعِزَّةَ لِلَّهِ جَمِيعًا
“(yaitu) orang-orang yang mengambil orang-orang kafir menjadi teman-teman penolong dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Apakah mereka mencari kekuatan di sisi orang kafir itu? Maka sesungguhnya semua kekuatan kepunyaan Allah.” (QS. An-Nisa’: 139)
 
Golongan Munafik Senantiasa Merapat ke Barisan Orang Mukmin ketika Kemenangan di Tangan Mereka
Salah satu karakter orang munafik adalah main enaknya sendiri. Ketika kemenangan jatuh ke tangan kaum beriman, orang-orang munafik ini merapat kepada mereka untuk mengharap bagian ghanimah.

الَّذِينَ يَتَرَبَّصُونَ بِكُمْ فَإِنْ كَانَ لَكُمْ فَتْحٌ مِنَ اللَّهِ قَالُوا أَلَمْ نَكُنْ مَعَكُمْ وَإِنْ كَانَ لِلْكَافِرِينَ نَصِيبٌ قَالُوا أَلَمْ نَسْتَحْوِذْ عَلَيْكُمْ وَنَمْنَعْكُمْ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ ۚ فَاللَّهُ يَحْكُمُ بَيْنَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ۗ وَلَنْ يَجْعَلَ اللَّهُ لِلْكَافِرِينَ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ سَبِيلًا
“(yaitu) orang-orang yang menunggu-nunggu (peristiwa) yang akan terjadi pada dirimu (hai orang-orang mukmin). Maka jika terjadi bagimu kemenangan dari Allah mereka berkata: ‘Bukankah kami (turut berperang) beserta kamu?’ Dan jika orang-orang kafir mendapat keberuntungan (kemenangan) mereka berkata: ‘Bukankah kami turut memenangkanmu, dan membela kamu dari orang-orang mukmin?’ Maka Allah akan memberi keputusan di antara kamu di hari kiamat dan Allah sekali-kali tidak akan memberi jalan kepada orang-orang kafir untuk memusnahkan orang-orang yang beriman.” (QS. An-Nisa’: 141)
 
Golongan Munafik Merasa Bahagia Jika Umat Beriman Ditimpa Musibah dan Ujian
Merupakan karakter dan sifat orang munafik adalah selalu merasa bahagia ketika umat beriman ditimpa musibah dan ujian. Sebaliknya, kesedihan dan duka cita mereka tertumpah ketika orang-orang beriman dan para mujahid fi sabilillah mendapat kebahagiaan dan kemenangan.
إِنْ تَمْسَسْكُمْ حَسَنَةٌ تَسُؤْهُمْ وَإِنْ تُصِبْكُمْ سَيِّئَةٌ يَفْرَحُوا بِهَا ۖ وَإِنْ تَصْبِرُوا وَتَتَّقُوا لَا يَضُرُّكُمْ كَيْدُهُمْ شَيْئًا ۗ إِنَّ اللَّهَ بِمَا يَعْمَلُونَ مُحِيطٌ
Jika kamu memperoleh kebaikan, niscaya mereka bersedih hati, tetapi Jika kamu mendapat bencana, mereka bergembira karenanya. Jika kamu bersabar dan bertakwa, niscaya tipu daya mereka sedikit pun tidak mendatangkan kemudaratan kepadamu. Sesungguhnya Allah mengetahui segala apa yang mereka kerjakan.” (QS. Ali Imran: 120)
 
Golongan Munafik Adalah Para Penyandang Gelar Murjifun
Al-Irjaf adalah aktivitas menebar berita heboh, bombastis, tapi kontennya dusta, yang tujuannya untuk menciptakan sebuah kegaduhan dan kepanikan. Orang yang suka melakukan perbuatan itu disebut dengan Murjif, jamaknya Murjifun.
Tipikal Murjif seperti itu terdapat pada diri golongan munafik. Mereka gemar menebar berita heboh dan bombastis namun kontennya dusta. Tujuan mereka adalah memecah belah barisan kaum muslimin, membuat gaduh, memunculkan kepanikan, adu domba, dan fitnah, sehingga umat beriman kehilangan persatuan, jati diri, dan kekuatan mereka.

Allah ‘azza wajalla berfirman,
وَإِذْ يَقُولُ الْمُنَافِقُونَ وَالَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ مَا وَعَدَنَا اللَّهُ وَرَسُولُهُ إِلَّا غُرُورًا
Dan (ingatlah) ketika orang-orang munafik dan orang-orang yang berpenyakit dalam hatinya berkata: ‘Allah dan Rasul-Nya tidak menjanjikan kepada kami melainkan tipu daya’.” (QS. Al-Ahzab: 12)
 
Golongan Munafik Adalah Orang-orang Pengecut
Orang-orang munafik akan tampak sifat kemunafikannya ketika mereka berada dalam situasi yang mencekam seperti ketika sedang terjadi pertempuran dengan musuh, ketika ditimpa musibah, ujian, dan cobaan yang begitu berat.
Mereka akan menjadi golongan yang pertama kali lari darinya, mereka akan menjadi orang yang pertama kali tampak rasa ketakutannya, dan mereka akan terlihat sebagai orang-orang yang mundur ke belakang dari medan pertempuran dengan musuh.
Allah ‘azza wajalla berfirman,
لَئِنْ أُخْرِجُوا لَا يَخْرُجُونَ مَعَهُمْ وَلَئِنْ قُوتِلُوا لَا يَنْصُرُونَهُمْ وَلَئِنْ نَصَرُوهُمْ لَيُوَلُّنَّ الْأَدْبَارَ ثُمَّ لَا يُنْصَرُونَ
Sesungguhnya jika mereka diusir, orang-orang munafik itu tidak akan keluar bersama mereka, dan sesungguhnya jika mereka diperangi, niscaya mereka tidak akan menolongnya; sesungguhnya jika mereka menolongnya, niscaya mereka akan berpaling lari ke belakang; kemudian mereka tidak akan mendapat pertolongan.” (QS. Al-Hasyr: 12)
 
Golongan Munafik Akan Selalu Menolak Berhukum dengan Hukum Allah ‘azza wajalla
Ciri-ciri dan sifat orang munafik yang paling tampak nyata adalah penolakan mereka terhadap berhukum dengan hukum Allah ‘azza wajalla. Mereka akan selalu melakukan pencegahan dengan berbagai macam cara dan modus jika ada syariat Allah ‘azza wajalla yang akan diterapkan untuk mengatur kehidupan manusia dalam bermasyarakat dan berbangsa.
Sebaliknya, orang-orang munafik ini justru akan merasa sangat senang jika hukum Thagut diterapkan di tengah-tengah masyarakat. Mereka akan mencari-cari argumentasi untuk membenarkan dan menguatkan legalitas pemberlakuan hukum selain dari hukum Allah ‘azza wajalla tersebut.
Mereka akan menempuh berbagai upaya untuk menghancurkan narasi penegakan syariat dan hukum Allah ‘azza wajalla demi menjaga eksistensi hukum buatan manusia tersebut. Hati nurani mereka benar-benar telah dikunci mati oleh Allah ‘azza wajalla dari cahaya kemuliaan Islam. Isinya hanya benci dan permusuhan terhadap syariat Allah ‘azza wajalla.
Allah ‘azza wajalla berfirman,
أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ يَزْعُمُونَ أَنَّهُمْ آمَنُوا بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ وَمَا أُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ يُرِيدُونَ أَنْ يَتَحَاكَمُوا إِلَى الطَّاغُوتِ وَقَدْ أُمِرُوا أَنْ يَكْفُرُوا بِهِ وَيُرِيدُ الشَّيْطَانُ أَنْ يُضِلَّهُمْ ضَلالاً بَعِيداً
Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu? Mereka hendak berhakim kepada thaghut, padahal mereka telah diperintah mengingkari thagut itu. Dan setan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya.” (QS. An-Nisa: 60) 
وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ تَعَالَوْا إِلَى مَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَإِلَى الرَّسُولِ رَأَيْتَ الْمُنَافِقِينَ يَصُدُّونَ عَنْكَ صُدُوداً
Apabila dikatakan kepada mereka: ‘Marilah kamu (tunduk) kepada hukum yang Allah telah turunkan dan kepada hukum Rasul’, niscaya kamu lihat orang-orang munafik menghalangi (manusia) dengan sekuat-kuatnya dari (mendekati) kamu.” (QS. An-Nisa: 61)
 
Membongkar Identitas Golongan Munafik, Menyatukan Kembali Barisan Umat Muslim
Keberadaan orang-orang munafik dalam tubuh umat Islam bak duri dalam daging. Ulah mereka akan selalu memberikan efek negatif bagi umat; barisan umat terpecah belah, narasi al-Haq dan al-Batil tercampur aduk, umat menjadi bingung, dan mental umat jatuh.
Oleh sebab itu, para ulama, da’i, dan penyeru umat harus terus berusaha membongkar identitas oknum-oknum munafik yang bersarang di dalam tubuh umat ini. Sebagai langkah untuk menyatukan kembali barisan umat yang telah terlalu lama tercerai-berai.
Kondisi yang menimpa umat saat ini merupakan satu indikasi bahwa orang-orang munafik yang menyelinap ke dalam tubuh kaum muslimin tidak diam. Mereka terus bekerja menciptakan kekacauan.
Allah ‘azza wajalla berfirman,
 يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ جَاهِدِ الْكُفَّارَ وَالْمُنَافِقِينَ وَاغْلُظْ عَلَيْهِمْ ۚ وَمَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ ۖ وَبِئْسَ الْمَصِيرُ
Hai Nabi, perangilah orang-orang kafir dan orang-orang munafik dan bersikap keraslah terhadap mereka. Tempat mereka adalah Jahanam dan itu adalah seburuk-buruknya tempat kembali.” (QS. At-Tahrim: 9) 
Ketika mereka terus bergerak menghancurkan umat dengan strategi liciknya dari dalam tubuh kaum muslimin, maka perintah Allah ‘azza wajalla tegas; membongkar identitas mereka, membongkar strategi-strategi kemunafikan mereka, perangi mereka, dan mengeluarkan mereka dari barisan kaum muslimin. Para ulama dan pemimpin umat harus segera bahu-membahu dan merapatkan barisan untuk menyelesaikan amanah umat ini.
Sangat menarik kalimat yang diucapkan oleh Syaikh Abdul Aziz bin Marzuq ath-Thuraifi fakkallahu asrah. Beliau mengatakan,
“Allah hanya menyebutkan ciri-ciri golongan munafik dalam Al-Quran tanpa menyebutkan nama orangnya. Sebab, nama mereka akan berubah di setiap zaman. Dengan hanya menyebut ciri-ciri mereka, nama mereka akan muncul dengan sendirinya dan berkumpul untuk mempertahankannya. Orang-orang akan segera menyaksikan mereka.” Wallahu a’lam

Kamis, 27 Nopember 2019 M

Memelihara kejujuran

MEMELIHARA KEJUJURAN

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ أَمَرَنَا بِاْلاِتِّحَادِ وَاْلاِعْتِصَامِ بِحَبْلِ اللهِ الْمَتِيْنِ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ، إِيَّاهُ نَعْبُدُ وَإِيَّاُه نَسْتَعِيْنُ. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اَلْمَبْعُوْثُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سيدنا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ. عِبَادَ الله، اِتَّقُوا اللهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ وَسَارِعُوْا إِلَى مَغْفِرَةِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ. فقال تعالى : يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ. أَمَّابَعْدُ؛
Sidang Jumat rahimakumullah
Sikap jujur merupakan sikap yang harus dimilki oleh setiap umat manusia, khususnya sebagai muslim. Sebab tanpa sikap jujur, akan sulit rasanya kita dapat dipercaya oleh masyarakat. Kaernanya kehidupan kita akan sulit pula berjalan dengan baik dan sukses.


Akan tetapi sikap jujur tersebut nampaknya sudah semakin langka di masyarakat kita, baik sikap jujur dalam pergaulan, perdagangan, pemerintahan maupun sikap jujur dalam hal-hala lain.

Sehingga seakan-akan kejujuran menjadi semacam “binatang langka” ditengah masyarakat yang makin moderen ini.


Yang demikian itu dapat kita saksikan dilingkungan kita sendiri. Orang bergaul, banyak yang tidak jujur lagi, mereka akrab karena ada kepentingan, jika sudah tidak ada kepentingan lagi, maka keakraban pun tidak ada lagi.

Dalam hal perdagangan, banyak yang curang dan dusta, mereka mencari keuntungan sebanyak-banyaknya walau harus merugikan dan mengecewakan orang lain.

Demikian pula dalam pemerintahan, orang melakukan korupsi dianggap biasa, menyalahgunakan jabatan dan wewenang dianggap perbuatan yang tidak aneh.

Akibatnya banyak uang negara yang hilang, banyak jabatan hanya untuk kepentingan pribadi, serta banyak rakyat yang dirugikan. Sungguh ketidakjujuran ini telah merajalela di masyarakat sehingga kewibawaan semakin hilang dan kehidupan masyarakat pun semakin timpang.


Sidang Jumat rahimakumullah
Semakin memudarnya sikap jujur di tengah masyarakat tersebut dapat terjadi karena :


Pertama, masih banyak orang menganggap bahwa kejujuran adalah sikap yang bersifat mengikat dan mengekang.


Sehingga manakala mereka bersikap jujur, maka mereka merasa tidak bebas dalam melakukan usaha-usahanya. Akhirnya dalam setiap usahanya, mereka tidak sungkan-sungkan melakukan kecurangan, kebohongan, maniupulasi, korupsi dan lain sebagainya.

Mereka pun tak mau peduli jika perbuatannya banyak menelantarkan dan merampas hak-hak masyarakat.
Berlaku jujur bila dipandang oleh nafsu manusia yang serakah, memang seakan mengikat dan mengekang. Karena keinginan nafsu serakahnya selalu berkecendrungan ingin cepat kaya, cepat berkuasa tanpa hambatan dan kesulitan walaupun harus menempuh jalan yang haram.


Tetapi bila kita memandangnya melalui hati yang jernih dan pikiran yang mendalam, sikap jujur itu justru akan melancarkan dan mensukseskan usahanya. Sebab dengan sikap jujur tersebut ia akan disenangi dan dipercaya masyarakat.

Disamping itu sikap jujur adalah perintah agama dan dibenarkan akal budi dan etika manapun. Tidak ada satupun budi manusia yang membenarkan adanya ketidak jujuran.


إن الصدق يهدي إلى البر وإن البر يهدي إلى الجنة, وإن الرجل ليصدق حتى يكتب عند الله صديقا. و إن الكذب يهدي إلى الفجور وإن الفجور يهدي إلى النار وإن الرجل ليكضب حتى يكتب عند الله كذابا (رواه البخاري وملم)


Sesungguhnya kebenaran (kejujuran) itu membawa kebaikan dan kebaikan itu membawa ke surga. Dan seserang yang membiasakan dirinya berkata benar akan tercatat disisi Allah sebagai orang yang benar (siddiq).

Sedangkan dusta membawa kepada kejelekan, sedang kejelekan membawa ke neraka. Dan seseorang yang suka berdusta akan tercatat disisi Allah sebagai pendusta (HR. Bukhari Muslim).


Sidang Jumat rahimakumullah
Penyebab kedua yang bisa memudarkan sikap jujur adalah karena masih banuak orang menganggap bawah berlaku jujur tidak menguntungkan.


Anggapan tersebut lahir dari beberapa pengalaman mereka dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya di beberapa instansi, orang-orang yang berlaku jujur justru disingkiran, karena tidak mau diajak kerjasama dalam penyimpangan. Juga dalam perdagangan, orang-orang jujur tidak pernah dapat untung banyak sehingga terpaksa ikut-ikutan berlaku curang dan menipu.


Jeleknya nasib orang-orang yang jujur tersebut ialah karena sudah demikian merajalelanya ketidak jujuran, sehingga yang benar malah tesingkir dan jujur malah tesungkur. Meskpun begitu, agama dan hati nurani manusia tetap tidak akan pernah membenarkan sikap dan perbuatan yang tidak jujur itu, bahkan dalam agama perbuatan tesebut merupakan perbuatan dosa yang tercela.


Orang-orang yang tidak jujur meskipun sepintas nampak berhasil, tetapi hakikatnya keberuntungan itu memendam bahaya kehancuran yang amat dahsyat. Yaitu jika perbuatan tersebut diketahui pihak berwajib atau oleh masyarakat, pasti akan dituntut di depan pengadilan dan masyarakat.


Kalaupun perbuatan itu selamat dari pengawasan pihak yang berwajib atau masyarakat, yang pasti mereka tidak akan lepas dari pengawasan Allah Swt dan kelak di akhirat nanti dituntut di depan pengadilan yaumil hisab. Disamping itu juga harta dari hasil perbuatan yang tidak jujur, tidak akan memberikan ketenangan dan berkah sedikitpun pada diri dan keluarganya.


Sebagai muslim hendaknya kita senantiasa menegakkan kejujuran, kapan saja dan dimana saja kita berada, memberikan contoh kepada yang lain, serta mewarnai terhadap lingkungan. Dengna jalan itulah insya Allah kejujuran akan dapat di tegakkan.


Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar. (At-Taubah: 119)


Sidang Jumat rahimakumullah
Penyebab ketiga, yang menimbulkan sikap tidak jujur adalah karena masih banyak juga orang-orang yang menganggap bahwa masyarakat mudah di bohongi, sehingga mereka dengan seenaknya melakukan ketidak jujuran.


Perlu kita sadari bahwa masyarakat adalah kelompok makhluk berakal serta mempunyai pandangan yang tajam terhadap persoalan dan tidak mudah di kibuli dan dibohongi.

Apalagi masyarakat di zaman moderen ini, mereka hidup di alam yang serba ilmu dan serba maju, tentu mereka akan lebih kritis lagi.
Kesadaran masyarakat tersebut ternyata telah dibuktikan oleh terbongkarnya berbagai kasus penyimpangan, penyelewengan dan penipuan yang diperbuat oleh orang-orang yang tidak jujur itu, sehingga mereka tidak dapat berkutik lagi, telah jatuh wibawanya dan telah tecoreng nama baiknya, suaranya tidak terdengar lagi dan bicaranya pun sudah tidak dipercaya lagi.


Adapun orang yang masih bergelimang dengan ketidakjujuran, terlibat dalam penipuan, penyelewengan dan penyimpangan, ia tidak akan lepas dari pengawasan masyarakat, cepat atau lambat perbuatannya pasti akan terungkap pula. Sedangkan diakhirat akan menerima siksaan yang lebih berat lagi. Firman Allah :


dan Katakanlah: “Yang benar telah datang dan yang batil telah lenyap”. Sesungguhnya yang batil itu adalah sesuatu yang pasti lenyap.

(Al-Isra: 81)
Sidang Jumat rahimakumullah
Dari uraian tadi dapatlah disimpulkan: pertama, kejujuran merupakan sikap dan perilaku yang harus dimiliki oleh setiap umat, khususnya umat Islam.

Kedua, berlaku jujur tidaklah mengekang dan merugikan, tetapi justru memudahkan dan menguntungkan. Ketiga, sikap dan perilaku yang tidak jujur tidak akan pernah membawa ketenangan dan kebahagiaan.


Sebagai penutup marilah kita laksanakan dan kita tegakkan kejujuran, serta kita warnai lingkungan kita dengan kejujuran tersebut. Semoga dengan jalan itu Allah akan melindungi dan memberkahi kita. Amin

YD1JNI Ujungberung

Rabu, 27 Nopember 2019 M/ 30 Robiul Awal 1441 H

Menjaga lisan …

Menjaga Lisan di Era Media Sosial

Menjaga Lisan di Era Media Sosial

An-Nawawi Asy-Syafi’i rahimahullahu Ta’ala berkata,

اعلم أنه لكلّ مكلّف أن يحفظَ لسانَه عن جميع الكلام إلا كلاماً تظهرُ المصلحة فيه، ومتى استوى الكلامُ وتركُه في المصلحة، فالسنّة الإِمساك عنه، لأنه قد ينجرّ الكلام المباح إلى حرام أو مكروه، بل هذا كثير أو غالب في العادة، والسلامة لا يعدلُها شيء

“Ketahuilah bahwa hendaknya setiap mukallaf menjaga lisannya dari seluruh perkataan, kecuali perkataan yang memang tampak ada maslahat di dalamnya. Ketika sama saja nilai maslahat antara berbicara atau diam, maka yang dianjurkan adalah tidak berbicara (diam). Hal ini karena perkataan yang mubah bisa menyeret kepada perkataan yang haram, atau minimal (menyeret kepada perkataan) yang makruh. Bahkan inilah yang banyak terjadi, atau mayoritas keadaan demikian. Sedangkan keselamatan itu tidaklah ternilai harganya.” (Al-Adzkaar, hal. 284)

Baca Juga: Pilihlah Teman yang Baik di Sosmed

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مِنْ حُسْنِ إِسْلَامِ المَرْءِ تَرْكُهُ مَا لَا يَعْنِيهِ

“Di antara tanda kebaikan Islam seseorang adalah dia meninggalkan hal-hal yang tidak ada manfaatnya.” (HR. Tirmidzi no. 2317, Ibnu Majah no. 3976, shahih)

Hendaknya setiap kita senantiasa menjaga diri dari berbicara atau menuliskan komentar yang tidak jelas manfaatnya. Kita tidaklah berbicara kecuali dalam hal-hal yang memang kita berharap ada manfaat untuk agama (diin) kita. Ketika kita melihat bahwa suatu perkataan itu tidak bermanfaat, maka kita pun menahan diri dari berbicara (alias diam). Kalaupun itu bermanfaat, kita pun masih perlu merenungkan: apakah ada manfaat lain yang lebih besar yang akan hilang jika saya tetap berbicara?

Sampai-sampai ulama terdahulu mengatakan bahwa jika kita ingin melihat isi hati seseorang, maka lihatlah ucapan yang keluar dari lisannya. Ucapan yang keluar dari lisan seseorang akan menunjukkan kepada kita kualitas isi hati seseorang, baik orang itu mau mengakui ataukah tidak. Jika yang keluar dari lisan dan komentarnya hanyalah ucapan-ucapan kotor, sumpah serapah, celaan, hinaan, makian, maka itulah cerminan kualitas isi hatinya.

Baca Juga: Bahaya Kebiasaan: Banyak Komentar, Malas Membaca

Yahya bin Mu’adz rahimahullahu Ta’ala berkata,

القلوب كالقدور في الصدور تغلي بما فيها ومغارفها ألسنتها فانتظر الرجل حتى يتكلم فأن لسانه يغترف لك ما في قلبه من بين حلو وحامض وعذب وأجاج يخبرك عن طعم قلبه اغتراف لسانه

“Hati itu bagaikan periuk dalam dada yang menampung isi di dalamnya. Sedangkan lisan itu bagaikan gayung. Lihatlah kualitas seseorang ketika dia berbicara. Karena lisannya itu akan mengambil apa yang ada dari dalam periuk yang ada dalam hatinya, baik rasanya itu manis, asam, segar, asin (yang sangat asin), atau selain itu. Rasa (kualitas) hatinya akan tampak dari perkataan lisannya.” (Hilyatul Auliya’, 10: 63)

Sebagian orang bersikap ceroboh dengan tidak memperhatikan apa yang keluar dari lisan dan komentar-komentarnya. Padahal, bisa jadi ucapan lisan itu akan mencampakkan dia ke jurang neraka sejauh jarak timur dan barat. Contohnya, dalam hadits Jundab radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَنَّ رَجُلًا قَالَ وَاللَّهِ لَا يَغْفِرُ اللَّهُ لِفُلَانٍ وَإِنَّ اللَّهَ تَعَالَى قَالَ مَنْ ذَا الَّذِي يَتَأَلَّى عَلَيَّ أَنْ لَا أَغْفِرَ لِفُلَانٍ فَإِنِّي قَدْ غَفَرْتُ لِفُلَانٍ وَأَحْبَطْتُ عَمَلَكَ

“Pada suatu ketika ada seseorang yang berkata, “Demi Allah, sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni si fulan.” Sementara Allah Ta’ala berfirman, “Siapa yang bersumpah dengan kesombongannya atas nama-Ku bahwasanya Aku tidak akan mengampuni si fulan? Ketahuilah, sesungguhnya Aku telah mengampuni si fulan dan telah menghapus amal perbuatanmu.” (HR. Muslim no. 2621)

Baca Juga: Kebangkrutan Besar Akibat Buruknya Lisan di Sosial Media

Hamba tersebut, yang rajin beribadah, hapuslah seluruh amalnya hanya karena satu kalimat atau satu ucapan yang ceroboh tersebut.

Maka benarlah bahwa keselamatan itu adalah dengan menjaga lisan. Sahabat ‘Uqbah bin ‘Aamir radhiyallahu ‘anhu bertanya,

يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا النَّجَاةُ

“Wahai Rasulullah, apakah keselamatan itu?”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,

أَمْسِكْ عَلَيْكَ لِسَانَكَ وَلْيَسَعْكَ بَيْتُكَ وَابْكِ عَلَى خَطِيئَتِكَ

“Jagalah lisanmu, hendaklah rumahmu membuatmu merasa lapang (artinya: betahlah untuk tinggal di rumah), dan menangislah karena dosa-dosamu.” (HR. Tirmidzi no. 2406, shahih)

Betapa banyak kita ceroboh dalam memposting, berkomentar di sana sini, namun tulisan-tulisan itu berbuah penyesalan, kemudian kita pun harus sibuk klarifikasi sana-sini, sibuk mencari-cari alasan agar bisa dimaklumi, juga sibuk meminta maaf atas perasaan saudara dan teman yang terluka atas komentar dan ucapan kita. Sesuatu yang harusnya tidak terjadi ketika kita selalu menimbang dan berpikir atas setiap ucapan dan komentar yang hendak kita ucapkan dan tuliskan.

Baca Juga: Bijak Menyikapi Kajian di YouTube dan Kajian LIVE di Media Sosial

Oleh karena itu, ketika salah seorang sahabat datang menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan bertanya,

يَا رَسُولَ اللَّهِ عَلِّمْنِي وَأَوْجِزْ

“Ajarkanlah (nasihatilah) aku dengan ringkas saja.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,

إِذَا قُمْتَ فِي صَلَاتِكَ فَصَلِّ صَلَاةَ مُوَدِّعٍ وَلَا تَكَلَّمْ بِكَلَامٍ تَعْتَذِرُ مِنْهُ وَأَجْمِعْ الْيَأْسَ عَمَّا فِي أَيْدِي النَّاسِ

“Apabila kamu (hendak) mendirikan shalat, maka shalatlah seperti shalatnya orang yang hendak berpisah.

Janganlah kamu mengatakan suatu perkataan yang akan membuatmu harus meminta maaf di kemudian hari. 

Dan kumpulkanlah rasa putus asa dari apa yang di miliki oleh orang lain.” (HR. Ibnu Majah no. 4171, hadits hasan)

yd1jni@gmail.com

Selasa, 26 Nopember 2019 M/ 29 Robiul Awal 1441 H.

MEMELIHARA KESEMPURNAAN IMAN.

Iman dalam Pandangan Ahlus Sunnah wal Jama’ah

Pembicaraan tentang masalah iman merupakan salah satu perkara penting yang mendasar. Bahkan ini merupakan dasar aqidah seorang muslim. Salah dalam memahami keimanan bisa menyebabkan seseorang terjerumus dalam keharaman, kebid’ahan, bahkan bisa berujung kekafiran. Semoga sekelumit pembahasan masalah iman ini dapat bermanfaat bagi kita semua.

[Definisi Iman]

Para ulama mendefinisikan iman yaitu ucapan dengan lisan, keyakinan hati, serta pengamalan dengan anggota badan,  bisa bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan kemaksiatan. Inilah makna iman menurut Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Mayoritas Ahlus Sunnah mengartikan iman mencakup i’tiqad (keyakinan), perkataan, dan perbuatan.

Imam Muhammad bin Isma’il bin Muhammad bin al Fadhl at Taimi al Asbahani mengatakan : “ Iman menurut pandangan syariat adalah pembenaran hati, dan amalan anggota badan”.

Imam Al Baghawi mengatakan : ” Para sahabat, tabi’in, dan ulama ahlis sunnah sesudah mereka bahwa amal termasuk keimanan… mereka mengatakan bahwa iman adalah perkataan, amalan, dan aqidah

Al Imam Asy Syafi’i berkata dalam kitab Al Umm : “ Telah terjadi ijma’ (konsesus)  di kalangan para sahabat, para tabi’in, dan pengikut sesudah mereka dari yang kami dapatkan bahwasanya iman adalah perkataan, amal, dan niat. Tidaklah cukup salah satu saja tanpa mencakup ketiga unsur yang lainnya

Al Imam Al Laalikaa-i meriwayatkan dari Imam Bukhari : “ Aku telah bertemu lebih dari seribu ulama dari berbagai negeri. Tidak aku dapatkan satupun di antara mereka berselisih bahwasanya iman adalah ucapan dan perbuatan,bisa  bertambah dan berkurang “

Kesimpulannya menurut  definisi syariat tentang iman bahwasanya iman mencakup perkataan dan perbuatan. Perkataan mencakup dua hal : perkataan hati, yaitu i’tiqad (keyakinan) dan perkataan lisan. Perbuatan juga mencakup dua hal yati perbuatan hati, yaitu niat dan ikhlas, serta perbuatan anggota badan. Sehingga tidak ada perbedaan makna dari ucapan para ulama di atas, yang ada hanya sebatas perbedaan istilah saja.[1]

[Iman Mencakup Keyakinan, Perkataan, dan Perbuatan]

Berikut dalil-dalil yang menjelaskan bahwa iman mencakup keyakinan hati, perkataan, dan perbuatan.

Dalil tentang keyakinan hati :

Allah Ta’ala berfirman :

وَلَمَّا يَدْخُلِ اْلإِيمَانُ فِي قُلُوبِكُمْ

karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu” (Al Hujurat:14)

الْإِيمَانَ قُلُوبِهِمُ فِي كَتَبَ

Meraka itulah orang-orang yang telah menanamkan keimanan dalam hati mereka” (Al Mujaadilah:22)

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

يَا مَعْشَرَ مَنْ آمَنَ بِلِسَانِهِ وَلَمْ يَدْخُلِ الإِيمَانُ قَلْبَهُ

Wahai orang-orang yang beriman dengan lisannya namun keimanannya belum masuk ke dalam hatinya”[2]

Dalil tentang perkataan lisan :

Firman Allah Ta’ala :

قُولُوا ءَامَنَّا بِاللهِ وَمَآأُنزِلَ إِلَيْنَا وَمَآأُنزِلَ إِلَى إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ وَاْلأَسْبَاطِ وَمَآأُوتِيَ مُوسَى وَعِيسَى وَمَآأُوتِيَ النَّبِيُّونَ مِن رَّبِّهِمْ لاَ نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِّنْهُمْ وِنَحْنُ لَهُ مُسْلِمُونَ {136}

Katakanlah (hai orang-orang mu’min): “Kami beriman kepada Allah dan apa yang diturunkan kepada kami, dan apa yang diturunkan kepada Ibrahim, Isma’il, Ishaq, Ya’qub dan anak cucunya, dan apa yang diberikan kepada Musa dan Isa serta apa yang diberikan kepada nabi-nabi dari Tuhannya. Kami tidak membeda-bedakan seorangpun diantara mereka dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya” (Al Baqarah:136)

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

أُمِرْتُ أَنْ أُقَاتِلَ النَّاسَ حَتَّى يَقُولُوا لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ فَمَنْ قَالَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ فَقَدْ عَصَمَ مِنِّى مَالَهُ وَنَفْسَهُ إِلاَّ بِحَقِّهِ وَحِسَابُهُ عَلَى اللَّهِ

Aku diperintahkan untuk memerangi manusia hingga mereka mengucapkan, ‘Tidak ada tuhan (yang berhak disembah) melainkan Allah’, maka barangsiapa yang mengucapkan, ‘Tidak ada tuhan (yang berhak disembah) melainkan Allah’, maka sungguh dia telah menjaga harta dan jiwanya dari (seranganku) kecuali dengan hak Islam, dan hisabnya diserahkan kepada Allah”[3]

Dalil tentang amalan anggota badan :

Allah Ta’ala berfirman :

وَمَا كَانَ اللهُ لِيُضِيعَ إِيمَانَكُمْ … {143}

dan Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu (shalatmu)” (Al Baqarah:143)

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

لاَ يَزْنِى الزَّانِى حِينَ يَزْنِى وَهُوَ مُؤْمِنٌ

Seorang mukmin tidak disebut mukmin saat ia berzina”[4]

Dan masih banyak dalil-dalil lain dari al Quran dan hadist yang menunjukkan bahwa iman mencakup keyakinan, perkataan, dan perbuatan[5]

[Iman Bisa Bertambah dan juga Berkurang]

Di antara keyakinan yang benar tentang iman adalah bahwasanya iman dapat bertambah dan juga dapat berkurang. Bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan kemaksiatan. Dalilnya adalah firman Allah Ta’ala :

فَزَادَهُمْ إِيمَانًا

maka perkataan itu menambah keimanan mereka” (Ali Imran :173)

لِيَزْدَادُوا إِيمَانًا مَّعَ إِيمَانِهِمْ {4}

supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka (yang telah ada)” (Al Fath:4)

Nabi Shalallahu ‘alihi wa sallam bersabda :

يَخْرُجُ مِنَ النَّارِ مَنْ قَالَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَكَانَ فِى قَلْبِهِ مِنَ الْخَيْرِ مَا يَزِنُ ذَرَّةً

akan keluar dari neraka, orang yang mengucapkan, ‘Laa Ilaaha Illaahu (Tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah) ‘, dan di dalam hatinya terdapat kebaikan seberat biji sawi”[6]

Dalam hadist di atas nabi menjelaskan bahwa iman bertingkat-tingkat. Jika sesuatu bisa mengalami penambahan, maka bisa juga berkurang, karena konsekuensi dari penambahan adalah sesuatu yang diberi tambahan itu lebih kurang daripada yang bartambah.[7]

Iman dapat bertambah disebabkan karena bebrapa hal :

1.      Mengenal Allah Ta’ala melalui nama-nama dan sifat-sifat-Nya. Semakin seseorang mengenal Allah, keimanannya semkain bertambah.

2.      Memperhatikan ayat-ayat Allah baik ayat-ayat kauniyah maupun ayat syar’iyah.

3.      Banyak melakukan ketaaatan.

4.      Meninggalkan kemakisatan dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah

Adapun ha-hal yang dapat mengurangi keimanan di antaranya :

1.      Berpaling dari mengenal Allah dan nama-nama serta sifat-sifat-Nya

2.      Tidak mau memperhatikan ayat-ayat kauniyah dan syar’iyah

3.      Sedikitnya amal shalih

4.      Melakukan kemaksiatan kepada Allah[8]

[Iman Memiliki Banyak Cabang]

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

الإِيمَانُ بِضْعٌ وَسَبْعُونَ أَوْ بِضْعٌ وَسِتُّونَ شُعْبَةً فَأَفْضَلُهَا قَوْلُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَدْنَاهَا إِمَاطَةُ الأَذَى عَنِ الطَّرِيقِ وَالْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنَ الإِيمَانِ

Iman itu ada tujuh puluh tiga sampai tujuh puluh sembilan, atau enam puluh tiga sampai enam puluh sembilan cabang. Yang paling utama adalah perkataan, Laa illaaha illallah (Tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah). Dan yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan. Dan malu itu adalah sebagian dari iman.”[9]

Hadist ini diantara dalil yang menunjukkan bahwa iman mencakup keyakinan hati dan amalan hati, perkataan lisan, dan juga perbuatan anggota badan .Selain itu, hadist ini juga menunjukkan bahwa iman itu memiliki cabang-cabang.

Al Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata : “ Pokok keimanan memiliki cabang yang banyak. Setiap cabang adalah bagian dari iman. Shalat adalah cabang keimanan, begitu pula zakat, haji, puasa, dan amalan-amalan hati seperti malu, tawakal… Di antara cabang-cabang tersebut adacabang  yang jika hilang maka akan membatalkan keimanan seperti cabang syahadat. Ada pula cabang yang jika hilang tidak membatalkan keimanan seperti menyingkirkan gangguan dari jalan. Di antara dua cabang tersebut terdapat cabang-cabang keimanan lain yang bertingkat-tingkat. Ada cabang  yang mengikuti dan lebih dekat ke cabanag syahadat. Ada pula yang mengikuti dan lebih dekat ke cabang menyingkirkan gangguan dari jalan. Demikian pula kekafiran, memiliki pokok dan cabng-cabang. Sebagaimana cabang iman adalah termasuk keimanan, maka cabang kekafiran juga termasuk kekafiran. Malu adalah cabang iman, maka berkurangnya rasa malu merupakan cabang dari kekafiran. Jujur adalah cabang iman, sedangkan dusta adalah cabang kekafiran. Maksiat seluruhnya adalah cabang kekafiran, sebgaiaman semua ketaatan adalah cabang keimanan”[10]

[Keimanan Betingkat-Tingkat]

Syaikh Ibnu Baaz ketika mengomentari perkataan Imam at Thahawi “ Iman adalah satu kesatuan dan pemiliknya memiliki keimanan yang sama” mengatakan : “Perkataan Imam at Thahawi ini perlu ditinjau lagi, bahkan ini merupakan perkataan yang batil.  Orang yang beriman tidaklah sama dalam keimanannya. Justru sebaliknya, mereka memiliki keimanan yang bertingkat-tingkat dengan perbedaan yang mencolok. Iman para rasul tidaklah dapat disamakan dengan iman selain mereka. Demikian pula iman para al khulafaur rasyidin beserta para sahabat yang lain, tidaklah sama dengan yang lainnya. Iman orang-orang yang betul-betul beriman juga tidak sama dengan iman orang yang fasik. Hal ini didasari pada perbedaan yang ada dalam hati, berupa pengenalan terhadap Allah, nama-nama dan sifat-sifat-Nya, dan segala yang disyariatkan bagi hamba-Nya. Inilah pendapat Ahlus sunnah wal jama’ah, berbeda dengan pendapat murjiah dan yang sepaham dengan mereka.Wallahul musta’an “[11]

Permasalahan ini sangat jelas jika kita melihat dalil-dalil yang ada dalam al Quran dan as Sunnah serta realita yang terjadi bahwa keimanan itu bertingkat-tingkat.

Allah melebihkan sebagian rasul dibandingkan rasul yang lainnya. Allah Ta’ala berfirman :

تِلْكَ الرُّسُلُ فَضَّلْنَا بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ مِّنْهُم مَّن كَلَّمَ اللهُ وَرَفَعَ بَعْضَهُمْ دَرَجَاتٍ … {253}

Rasul-rasul itu Kami lebihkan sebagian (dari) mereka atas sebagian yang lain. Di antara mereka ada yang Allah berkata-kata (langsung dengan dia) dan sebagiannya Allah meninggikannya beberapa derajat. …” (Al Baqarah:253)

Pemberian keutamaan sebgaian rasul dibandingkan yang lain disebabkan perbedaan tingkat keimanan mereka.  Demikian pula di antara para rasul ada yang termasuk ulul ‘azmi. Mereka adalah rasul-rasul yang memiliki kedudukan yang paling agung dan derajat yang paling tinggi. Para rasul tidak sama semua kedudukannaya di sisi Allah.

Allah Ta’ala berfirman :

فَاصْبِرْ كَمَا صَبَرَ أُوْلُوا الْعَزْمِ مِنَ الرُّسُلِ … {35}

Maka bersabarlah kamu seperti orang-orang yang mempunyai keteguhan hati dari rasul-rasul …” (Al Ahqaf:35)

Demikian pula keimanan para sahabat. Keimanan mereka berbeda-beda. Keimanan yang paling tingggi adalah keimanan yang dimiliki oleh Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu. Rasulullah sahalallhu ‘alaihi wa sallam bersabda :“Seandainya keimaanan seluruh umat ditimbang dengan keimanan Abu bakar, maka keimanan Abu Bakar lebih berat”. Abu Bakar Su’bah al Qaari berkata : “Tidaklah Abu Bakar mendhaului kalian dengan banyaknya sholat dan shodaqoh, namun dengan iman yang menancap di hatinya”[12]

[Pelaku Dosa Besar Tetaplah Seorang Mukmin]

Termasuk pembahasan penting dalam masalah iman adalah dalam menghukumi pelaku dosa besar. Pada dasarnya, seorang mukmin yang melakukan kemaksiatan yang tidak sampai derajat kekafiran tetap dihukumi sebagai seorang mukmin. Inilah madzab ahlus sunnah wal jama’ah. Di antara dalilnya  yaitu ayat qishos dalam firman Allah :

فَمَنْ عُفِيَ لَهُ مِنْ أَخِيهِ شَيْءُُ فَاتِّبَاعُ بِالْمَعْرُوفِ

Maka barangsiapa yang mendapat suatu pema’afan dari saudaranya, hendaklah (yang mema’afkan) mengikuti dengan cara yang baik” (Al Baqarah:178). Mereka (pelaku maksiat) tetap dianggap saudara seiman dengan kemksiatan yang mereka lakukan. Allah juga berfirman :

وَإِن طَآئِفَتَانِ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ اقْتَتَلُوا فَأَصْلِحُوا بَيْنَهُمَا فَإِن بَغَتْ إِحْدَاهُمَا عَلَى اْلأُخْرَى فَقَاتِلُوا الَّتِي تَبْغِي حَتَّى تَفِىءَ إِلَى أَمْرِ اللهِ فَإن فَآءَتْ فَأَصْلِحُوا بَيْنَهُمَا بِالْعَدْلِ وَأَقْسِطُوا إِنَّ اللهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ {9} إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ … {10}

Dan kalau ada dua golongan dari mereka yang beriman itu berperang hendaklah kamu damaikan antara keduanya! Tapi kalau yang satu melanggar perjanjian terhadap yang lain, hendaklah yang melanggar perjanjian itu kamu perangi sampai surut kembali pada perintah Allah. Kalau dia telah surut, damaikanlah antara keduanya menurut keadilan, dan hendaklah kamu berlaku adil; sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil. Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu” (Al Hujurat:9-10). Dalam ayat ini Allah menyifati dua kelompok yang berperang dengan predikat mukmin walaupun mereka saling berperang. Allah juga memberitakan bahwa mereka adalah saudara, dan persaudaraan tidaklah terwujud kecuali antara sesama kaum mukminin, bukan antara mukmin dan kafir.

Adapun orang-orang fasik yang berbuat kemakisatan, keimanan mereka tidak hilang secara total Dalil-dalil syariat terkadang menetapkan keimanan pada mereka, seperti firman Allah :

وَتَحْرِيرُ رَقَبَةٍ مُّؤْمِنَةٍ

(hendaklah) ia memerdekakan seorang hamba sahaya (budak)  yang beriman” (An Nisaa’:92). Budak beriman yang dimaksud termasuk juga budak yang fasik.

Terkadang juga dalil-dalil syariat menafikan keimanan pada mereka, seperti dalam hadist:

لاَ يَزْنِى الزَّانِى حِينَ يَزْنِى وَهُوَ مُؤْمِنٌ

Seorang mukmin tidak disebut mukmin saat ia berzina”[13]

Madzab ahlussunnah dalam menyikapi pelaku maksiat adalah tidak mengkafirkannya, namun juga tidak memutlakkan keimanan pada diri mereka. Oleh akarena itu kita katakan sebgaimana penjelasan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah: “ Mereka (orang-orang fasik) adalah mukmin dengan keimanan  yang kurang (tidak sempurna), atau bisa juga dikatakan mukmin dengan keimanannya dan fasik dengan dosa besarnya. Mereka tidak mendapat predikat iman secara mutlak, tidak pula hilang keimanan (secara total) dengan dosa besarnya”[14] (Matan al ‘Aqidah al Washitiyah)

[Antara Iman dan Islam]

Apa perbedaan antara iman dan islam? Kata iman dan islam terkadang disebutkan bersamaan dalam satu kalimat, namun terkadang disebutkan salah satunya saja. Jika disebutkan salah satunya saja, maka mencakup makna keduanya. Dan bila disebutkan kedua-duanya, maka iman dan islam memiliki makna yang berbeda. Jika disebutkan iman saja, maka tercakup di dalamnya makna iman dan islam. Demikian pula sebaliknya. Namun, jika desebutkan iman dan islam, maka masing-masing memilki makna sendiri-sendiri. Iman mencakup malan-amalan hati, sedangkan islam mencakup amalan-amalan lahir.

Imam Ibnu Rajab al Hambali menjelaskan : “Jika masing-masing islam dan iman disebutkan secara sendiri-sendiri (disebutkan iman saja atau islam saja) maka tidak ada perbedaan di antara keduanya. Namun, apabila disebutkan secra bersaamaan, di antara keduanya ada perbedaan. Iman adalah keyakinan hati, pengakuan dan pengenalan. Sedangkan islam adalah berserah diri kepada Allah, tunduk kepadan-Nya dengan melakukan amlan ketaatan “[15]

[Kadar Minimal Rukun Iman]

Pokok-pokok keimanan terdapat dalam rukun iman yang enam, sebagaimana diterangkan Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadist Jibril :

قَالَ أَنْ تُؤْمِنَ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَتُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ

Kamu beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para Rasul-Nya, hari akhir, dan takdir baik dan buruk.” [16]

Masing-masing rukun iman memiliki kadar minimal sehingga dikatakan sah keimanan seseorang terhadap rukun tersebut. Secara umum, kadar minimal untuk keenam rukun iman tersebut adalah sebagai  beikut

Iman kepada Allah:

–          Beriman dengan wujud Allah

–          Beriman dengan rububiyah Allah

–          Beriman dengan uluhiyah Allah

–          Beriman dengan nama-nama dan sifat-sifat Allah

Iman kepada para malaikat Allah:

–          Beriman dengan keberadaan para malaikat Allah

–          Mengimani secara rinci nama-nama malaikat yang kita ketahui, dan mengimani secara global yang tidak kita ketahui

–          Mengimani secara rinci sifat-sifat mereka yang kita ketahui, dan mengimani secara global yang tidak kita ketahui

–          Mengimani secara rinci tugas-tugas  mereka yang kita ketahui, dan mengimani secara global yang tidak kita ketahui

Iman kepada kitab-kitab Allah :

–          Mengimanai bahwa seluruh kitab berasal dari Allah

–          Mengimani secara rinci nama-nama kitab Allah yang kita ketahui dan mengimani secara global yang tidak kita ketahui

–          Membenarkan berita-berita yang terdapat dalam kitab-kitab tersebut

–          Beramal dengan hukum-hukum yang ada di dalamnya selama belum dihapus

Iman kepada para rasul Allah :

–          Mengimani bahwa seluruh risalah para rasul berasal dari Allah

–          Mengimani secra rinci nama para nabi dan rasul Allah yang kita ketahui dan mengimani secara global yang tidak kita ketahui

–          Membenarkan berita yang shahih yang datang dari mereka

–          Beramal dengan syariat Rasul yang diutus kepada kita (yaitu Muhammad shalallhu ‘alaihi wa sallam)

Iman kepada hari akhir :

–          Beriman dengan hari kebangkitan

–          Beriman dengan hari perhitungan dan pembalasan  (al hisaab wal jazaa’)

–          Beriman dengan surga dan neraka

–          Beriman dengan segala sesuatu yang terjadi setelah kematian

Iman kepada takdir Allah :

–          Beriman bahwasanya Allah mengetahui segala sesuatu yang terjadi

–          Beriman bahwasanya Allah telah menetapkan segala sesuatu di Lauh mahfudz

–          Beriman bahwa segala sesuatu terjadi dengan kehendak Allah

–          Beriman bahwa segala sesuatu yang terjadi merupakan makhluk Allah[17]

Barangsiapa yang tidak mengimani pokok-pokok yang ada pada kadar minimal rukun iman, maka batal rukun iman tersebut. Dan barangsiapa yang batal salah satu rukun iman, maka batal pula seluruh keimanannya.

[Hukum Mengatakan “ Saya Mukmin InsyaAllah”]

Bolehkah mengucapkan perkataan “Saya mukmin InsyaAllah?”. Perkataan ini diistilahkan oleh para ulama dengan al istisnaa’ fil iman (pengecualian dalam keimanan). Manusia terbagi menjadi tiga kelompok dalam masalah ini. Ada yang mengharamkannya secara mutlak, ada yang membolehkannya secara mutlak, dan ada yang merinci hukumnya.

Syaikh Muhammad bin Shalih al ‘Utsaimin rahimahullah pernah ditanya tentang hukum perkataan : Saya mukmin Insya Allah”. Beliau menjelaskan : “ Perkataan seseorang ‘Saya mukmin Insya Allah’ diistilahkan oleh para ulama dengan al istisnaa’ fil iman (pengecualian dalam keimanan). Masalah ini perlu perincian :

1.      Jika istisna’ muncul karena ragu dengan adanya pokok keimanan maka ini merupakan keharaman bahkan kekafiran.. Karena iman adalah sesuatu yang pasti (yakin) sedangkan keraguan membatalkan keimanan.

2.      Jika istisna’ muncul karena khawatir terjatuh dalam tazkiyatun nafsi (menyucikan diri), namun tetap disertai penerapan iman secara perkataan, perbuatan, dan keyakinan,  maka hal ini sesuatu yang wajib karena adanya rasa khawatir terhadap sesuatu yang berbahaya yang dapat merusak iman.

3.      Jika maksud istisna’ adalah bertabaruk dengan menyebut masyiah (kehendak Allah) atau untuk menjelaskan alasan, dan iman yang ada dalam hati tetap tergantung kehendak Allah, maka hal ini diperbolehkan. Dan penjelasan untuk penyebutan alasan (bayaani ta’lil) tidaklah meniadakan pembenaran iman. Telah terdapat penjelasan hal ini seperti dalam firman Allah :

َتَدْخُلُنَّ الْمَسْجِدَ الْحَرَامَ إِن شَآءَ اللهُ ءَامِنِينَ مُحَلِّقِينَ رُءُوسَكُمْ وَمُقَصِّرِينَ لاَتَخَافُونَ …{27}

… bahwa sesungguhnya kamu pasti akan memasuki Masjidil Haram, insya Allah dalam keadaan aman, dengan mencukur rambut kepala dan mengguntingnya, sedang kamu tidak merasa takut…” (Al Fath :27). Dan juga dalam do’a Nabi ketika ziarah kubur :

وَإِنَّا إِنْ شَاءَ اللَّهُ بِكُمْ لاَحِقُونَ “ dan kami insya Allah akan menyusul kalian”[18]

Dengan penjelasan di atas, maka tidak boleh memutlakkan hukum dalam masalah al istisna’ fil iman. Yang benar adalah merinci masalah ini[19].

Demikian beberapa penjelasan mengenai permasalahan iman. Semoga bermanfaat.

Alhamdulillahiladzi bi ni’matihi tatimus shaalihaat

Simak selengkapnya disini. Klik https://muslim.or.id/5478-iman-dalam-pandangan-ahlus-sunnah-wal-jamaah.html

Assalamualaikum …

Nafsu adalah ibarat kuda liar, sukar dikawal, berbahaya, dan dapat memudharatkan.

N A F S U

Nafsu adalah ibarat kuda liar, sukar dikawal, berbahaya, dan dapat memudharatkan.

Walau bagaimanapun dengan latihan yang sungguh-sungguh, ia dapat dijinakkan, dikawal, dan memberi banyak manfaat.

Seorang cendekiawan Islam berkata,

“Beruntunglah orang yang menjadikan akalnya sebagai pemimpin, dan nafsunya sebagai tawanan, dan celakalah orang yang menjadikan nafsunya sebagai pemimpin, dan akalnya sebagai tawanan.”

Imam Al-Ghazali رحمة الله تعالى mengatakan,

“Apabila nafsu menguasai akal, maka manusia itu lebih hina daripada hewan, dan apabila akal menguasai nafsu, maka manusia itu lebih mulia daripada Malaikat.”

Imam Al-Ghazali رحمة الله تعالى juga mengatakan,

“Antara tanda kecintaan hamba kepada Allah, ialah dia mengutamakan perkara yang disukai Allah daripada kehendak nafsu serta kehendak peribadi, dalam aspek zahir atau batin.”

Di dalam kitab “Al-Asas fit Tafsir”, Said Hawa pernah berkata,

“Pada dasarnya melawan hawa nafsu bermaksud menundukkan hawa nafsu agar ia mengikut kehendak Allah dalam setiap perkara.”

Manfaat pake baju merah

Perhatikan di bawah ini

Banyak cewek yang enggan pakai baju merah. Takut dikira cari perhatian, katanya. Warna merah juga dianggap agak menakutkan bagi orang-orang yang kurang percaya diri. Padahal ternyata pakai baju merah di kondisi tertentu bisa bikin kita jadi “pemenang” karena warna baju yang kita kenakan bisa menimbulkan efek psikologis tertentu.
Warna merah melambangkan panas, amarah, gairah, kekuasaan, dan kekuatan. Jadi gunakan efek dahsyat busana warna merah untuk lebih stand out di situasi-situasi tertentu. Berikut manfaat dan inspirasi supaya lebih berani mengenakan busana merah.
1. Melihat warna merah bisa meningkatkan ingatan, lebih bersemangat, dan kuat.


rebelcircus.com

Warna merah bisa memperbaiki fokus dan perhatian pada detail. Warna merah juga dapat mengingatkanmu pada sesuatu yang benar-benar penting. Pakai sesuatu yang berwarna merah dalam bidang penglihatanmu sambil kamu menuliskan apa yang harus kamu ingat. Pasti bakalan lebih ingat, deh.
Selain itu, pakai baju merah saat berolahraga agar lebih semangat atau ingin lebih dominan saat berada di gym. Karena merah juga dianggap sebagai warna penyemangat, meningkatkan kecakapan, meningkatkan metabolisme, juga meningkatkan performa.
2. Merah adalah warna yang paling intens secara emosional dan membawa keberuntungan.



Pinterest.com

Merah diasosiasikan dengan emosi yang kuat, karena dapat menstimulir denyut jantung dan pernapasan lebih cepat. Jika merah digunakan sebagai warna aksen, maka dapat memotivasi orang untuk membuat keputusan cepat dan meningkatkan harapan. Selain itu juga mempromosikan perasaan berapi-api, kekuasaan, agresi, atau perang.
Itu sebabnya warna merah juga dianggap sebagai warna ironis, tapi itu tergantung bagaimana kamu melihatnya. Karena merah juga dipercaya sebagai warna keberuntungan. Jadi kalau kamu sedang mencari perhatian, maka ini adalah warna busana yang cocok untukmu.
3. Busana merah meningkatkan kepercayaan diri dan dikaitkan dengan cinta, gairah serta keinginan.

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai