Ciri-ciri Islam Sebagai Agama Universal

Assalamualaikum wr.wb

    Dapat disebutkan adanya tiga buah ciri agama Islam yang menjadikan agama Islam berhak dinyatakan sebagai agama yang Universal, yaitu :

  1. Kesanggupannya memenuhi kebutuhan seluruh umat manusia untuk menegakkan kesatuan, memelihara nilai kemanusiaan dan menjaga keselamatan setiap individu dalam hidup di dunia kini dan di akhirat nanti.
  2. Hukum-hukumnya menjamin tegaknya kemanusiaan di dalam satu kesatuan dan tidak berkecenderungan untuk menghidup-hidupkan fanatisme rasial.
  3. Konsisten dengan relitas-realitas alam semesta, tidak bertentangan dengan kebenaran-kebenaran ilmu pengetahuan atau pikiran logis.

       Jika kita kaji ajaran-ajaran Islam ternyata ciri-ciri tersebut benar-benar terpenuhi dalam segala aspeknya. Aspek ‘aqidah yang bersendi pada keyakinan tauhid, keyakinan bahwa hanya Allah saja berhak dipertuhan, akan membawa pada kesatuan umat tauhid baik dalam tujuan hidup maupun dalam perilaku.

Umat tauhid menjalani hidup selalu melihat Allah dengan mata hati dan takut kepada-Nya dalam kesunyian maupun terang-terangan, dalam suasana tertutup maupun terbuka. Hanya “ma’rifat kepada Allah” sajalah yang mampu menjaga perilaku, memelihara perjalanan hidup dan menghidupkan hati nurani.

‘Aqidah Islamiyah menjaga individu dari godaan-godaan hawa nafsu. Orang mukmin menjalani hidup di bumi Allah selalu berfikir akan kekuasaan Allah yang tercermin dalam kejadian bumi dan langit.

Hati yang berhubungan dengan Tuhan akan mendorong orang mukmin menjalani hidup di dunia dengan baik dan benar. ‘Aqidah Islamiyah menegakkan nilai persamaan kemanusian; umat manusia adalah hamba Allah yang sama kedudukannya di hadhirat Allah; berlebih kurang hanya terjadi dengan perbedaan taqwa dan amal shalih.

Fanatisme rasial terdesak, persaudaraan dan kasih sayang dalam keimanan hidup subur. Dalam sejarah tercatat bahwa ‘aqidah Islamiyah telah menghimpun berbagai suku dan bangsa di bawah bendera Islam; bersama Rasulullah s.a.w.

berhimpunlah sahabat-sahabat Bilal asala keturunan Habsyi, Shuhaib asala keturunan Romawi, Salman al-Farisi keturunan Parsi dan Umar asal keturunan Arab Quraisy.

‘Aqidah Islamiyah yang bertumpu pada ajaran tauhid konsisten dengan wujud alam semesta yang merupakan ayat-ayat Allah, memberitakan kekuasaan dan keesaan mutlak Allah.

Manusia perlu kepada pelayan alam semesta, tetapi alam pun memerlukan memerlukan usaha manusia untuk melestarikan dan mengembangkan potensinya agar dapat melayani kebutuhan hidup manusia sepanjang mungkin umur kemanusiaan dan kehidupan. 

Ayat-ayat al-Qur’an yang menyebutkan ni’mat Allah berupa berbagai macam kekuatan dan kemampuan alam guna melayani kepentingan hidup manusia mengundang kegiatan-kegiatan umat manusia, baik dalam bidang ilmiah maupun usaha guna memanfaatkan potensi alam. (surat Yasin ayat 33-45)

Wassalamualaikum wr.wb

Jama’ah kultum 141.380 mhz

001. Yachya Yusliha
002. Hamba Allah
003. A.Jimi
004. Abah kipray
005. Abag ucing
006. Abeng
007. BSU Kake
008. Abah Tarmedi
009. Haji Deek
010. Asep al-Fatih
011. Euis fatimah
012. Abuy
013. Ahmad Barnah
014. Aki Jilun
015. Ustadz Abas
016. Wawan Heriawan
017. Pak Agus
018. Pak Hidayat
019. pak Marzuki
020. Bu Rosidah
021. A.Jb
022. Atmo
023. Bunda Noor
024. Bunda Rena
025. kang Demak
026. Haji Deden
027. Haji Fery
028. Neng Oca
029. Neng Seni
030. Mamah Osin
031. Kang Dedem
032. Wa Eka
033. Wa Andar
034. Abah Giok
035. Haji Leo
036. Gun S
037. kang kobra
038. Teh Maya
039. Pak Kumis
040. Iwan Hartiwan
041. kang Obot
042. U. Supriatna
043. Hadi Ope
044. Kang Jeki
045. Haji Boy
046. Mamah Emput
047. Kang Gareng
048. Mang oyo
049. Opay
050. Bah Ekos alias US 2
051. Oskar
052. Tatang Imanuel
053. Pak Hidayat
054. Pak Ridho W.
055. pak Ridwan
056. Robin
057. Tatang Cartil
058.  Pak Teguh
059. Teh Inyoh
060. kang Wildan
061. Pak Yunus/odong
062. Aki duha
063. Teh Duri
064. kang Nonoy
065. Wa Zurel
066. Ridwan tanjungsari
067. Pa Feri Majalaya
068. Wa Kunu *pasir luhur*
069. Pak Dadan Kardana
070. Kang Sukoy *Cimenyan*
071. Kang Koko *Dago*
072. kang Syam *kircon*
073. Mamih Ana *Uber*
074. Pak Dadan *Gedebage*
075. pak Jojo *cipatik*
076. IB *Manjah lega*
077. Wa Bayu *Lembang*
078. Lili Suhaeli *Cikadut*
079. Melodi *Majalaya*
080. Papah Nandang
081. Bunda Iin. *jelekong*
082. Andrie *Cimenyan*
083. Kang Bon-bon *Arcamanik*

memo : *yang lainya belum di catat*



TAFSIR SURAT AL-BAQARAH AYAT 29

Allah SWT berfirman:

هُوَ الَّذِى خَلَقَ لَكُمْ مَّا فِى الْأَرْضِ جَمِيعًا ثُمَّ اسْتَوٰىٓ إِلَى السَّمَآءِ فَسَوّٰىهُنَّ سَبْعَ سَمٰوٰتٍ  ۚ وَهُوَ بِكُلِّ شَىْءٍ عَلِيمٌ
huwallazii kholaqo lakum maa fil-ardhi jamii’an summastawaaa ilas-samaaai fa sawwaahunna sab'a samaawaat, wa huwa bikulli syaiin ‘aliim

“(Dialah yang telah menciptakan bagimu segala yang terdapat di muka bumi) yaitu menciptakan bumi beserta isinya, (kesemuanya) agar kamu memperoleh manfaat dan mengambil perbandingan darinya, (kemudian Dia hendak menyengaja hendak menciptakan) artinya setelah menciptakan bumi tadi Dia bermaksud hendak menciptakan pula (langit, maka dijadikan-Nya langit itu) ‘hunna’ sebagai kata ganti benda yang dimaksud adalah langit itu.

Maksudnya ialah dijadikan-Nya, sebagaimana didapati pada ayat yang lain, ‘faqadhaahunna,’ yang berarti maka ditetapkan-Nya mereka, (tujuh langit dan Dia Maha Mengetahui atas segala sesuatu) dikemukakan secara ‘mujmal’ ringkas atau secara mufasshal terinci, maksudnya, Tidakkah Allah yang mampu menciptakan semua itu dari mula pertama, padahal Dia lebih besar dan lebih hebat daripada kamu, akan mampu pula menghidupkan kamu kembali?”
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 29)

TAFSIR SURAT AL-BAQARAH AYAT 28

Allah SWT berfirman:

كَيْفَ تَكْفُرُونَ بِاللَّهِ وَكُنْتُمْ أَمْوٰتًا فَأَحْيٰكُمْ  ۖ ثُمَّ يُمِيتُكُمْ ثُمَّ يُحْيِيكُمْ ثُمَّ إِلَيْهِ تُرْجَعُونَ


kaifa takfuruuna billaahi wa kuntum amwaatan fa ahyaakum, summa yumiitukum summa yuhyiikum summa ilaihi turja’uun

” (Mengapa kamu kafir) hai warga Mekah? (kepada Allah, padahal) sesungguhnya (tadinya kamu mati) yakni ketika masih menjadi mani dalam sulbi bapakmu (lalu kamu dihidupkan-Nya) dalam rahim ibumu dan di dunia dengan jalan meniupkan roh pada tubuhmu.

Pertanyaan di sini untuk menyatakan keheranan atas kekafiran mereka padahal bukti-bukti cukup ada atau dapat juga sebagai celaan dan kecaman terhadap mereka, (kemudian dimatikan-Nya) ketika sampainya ajalmu (lalu dihidupkan-Nya kembali) pada saat berbangkit (kemudian kamu dikembalikan kepada-Nya) yakni setelah berbangkit itu lalu dibalas-Nya amal perbuatanmu.

Sebagai alasan kemungkinan saat berbangkit, Allah berfirman,”
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 28)

TAFSIR SURAT AL-BAQARAH AYAT 27

Allah SWT berfirman:

الَّذِينَ يَنْقُضُونَ عَهْدَ اللَّهِ مِنۢ بَعْدِ مِيثٰقِهِۦ وَيَقْطَعُونَ مَآ أَمَرَ اللَّهُ بِهِۦٓ أَنْ يُوصَلَ وَيُفْسِدُونَ فِى الْأَرْضِ  ۚ أُولٰٓئِكَ هُمُ الْخٰسِرُونَ


allaziina yangqudhuuna ‘ahdallohi mim ba’di miisaaqihii wa yaqtho’uuna maaa amarollaahu bihiii ay yuushola wa yufsiduuna fil-ardh, ulaaa`ika humul-khoosiruun

“(Orang-orang yang) merupakan ‘na`at’ atau sifat (melanggar janji Allah) melanggar kewajiban yang ditugaskan Allah kepada mereka dalam Kitab-Kitab Suci berupa keimanan kepada Nabi Muhammad saw. (setelah teguhnya) setelah kukuhnya perjanjian itu, (dan memutus apa yang diperintahkan Allah dengannya untuk dihubungkan), yakni beriman dan menghubungkan silaturahmi dengan Nabi saw. serta lain-lainnya.

Anak kalimat ‘untuk dihubungkan’ menjadi kata ganti dari ‘dengannya’, (dan membuat kerusakan di muka bumi) dengan melakukan maksiat serta menyimpang dari keimanan (merekalah) orang-orang yang mempunyai sifat seperti yang dilukiskan itu (orang-orang yang rugi) karena mereka dimasukkan ke dalam neraka untuk selama-lamanya.”
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 27)

TAFSIR SURAT AL-BAQARAH AYAT 26

Allah SWT berfirman:

إِنَّ اللَّهَ لَا يَسْتَحْىِۦٓ أَنْ يَضْرِبَ مَثَلًا مَّا بَعُوضَةً فَمَا فَوْقَهَا  ۚ فَأَمَّا الَّذِينَ ءَامَنُوا فَيَعْلَمُونَ أَنَّهُ الْحَقُّ مِنْ رَّبِّهِمْ  ۖ وَأَمَّا الَّذِينَ كَفَرُوا فَيَقُولُونَ مَاذَآ أَرَادَ اللَّهُ بِهٰذَا مَثَلًا  ۘ يُضِلُّ بِهِۦ كَثِيرًا وَيَهْدِى بِهِۦ كَثِيرًا  ۚ وَمَا يُضِلُّ بِهِۦٓ إِلَّا الْفٰسِقِينَ


innalloha laa yastahyiii ay yadhriba masalam maa ba’uudhotan fa maa fauqohaa, fa ammallaziina aamanuu fa ya’lamuuna annahul-haqqu mir robbihim, wa ammallaziina kafaruu fa yaquuluuna maazaaa aroodallohu bihaazaa masalaa, yudhillu bihii kasiirow wa yahdii bihii kasiiroo, wa maa yudhillu bihiii illal-faasiqiin

“Untuk menolak perkataan orang-orang Yahudi, Apa maksud Allah menyebutkan barang-barang hina ini, yakni ketika Allah mengambil perbandingan pada lalat dalam firman-Nya, …dan sekiranya lalat mengambil sesuatu dari mereka dan pada laba-laba dalam firman-Nya, Tak ubahnya seperti laba-laba, Allah menurunkan: (Sesungguhnya Allah tidak segan membuat) atau mengambil (perbandingan) berfungsi sebagai maful awal atau obyek pertama, sedangkan (apa juga) kata penyerta yang diberi keterangan dengan kata-kata yang di belakangnya menjadi maful tsani atau obyek kedua hingga berarti tamsil perbandingan apa pun jua.

Atau dapat juga sebagai tambahan untuk memperkuat kehinaan, sedangkan kata-kata di belakangnya menjadi maf`ul tsani (seekor nyamuk) yakni serangga kecil, (atau yang lebih atas dari itu) artinya yang lebih besar dari itu, maksudnya Allah tak hendak mengabaikan hal-hal tersebut, karena mengandung hukum yang perlu diterangkan-Nya.

(Ada pun orang-orang yang beriman, maka mereka yakin bahwa ia), maksudnya perumpamaan itu (benar), tepat dan cocok dengan situasinya (dari Tuhan mereka, tetapi orang-orang kafir mengatakan, Apakah maksud Allah menjadikan ini sebagai perumpamaan?) Matsalan atau perumpamaan itu berfungsi sebagai tamyiz hingga berarti dengan perumpamaan ini. ‘

Ma’ yang berarti ‘apakah’ merupakan kata-kata pertanyaan disertai kecaman dan berfungsi sebagai mubtada atau subyek. Sedangkan ‘dza’ berarti yang berikut shilahnya atau kata-kata pelengkapnya menjadi khabar atau predikat, hingga maksudnya ialah ‘apa gunanya?’ Sebagai jawaban terhadap mereka Allah berfirman: (Allah menyesatkan dengannya), maksudnya dengan tamsil perbandingan ini, (banyak manusia) berpaling dari kebenaran disebabkan kekafiran mereka terhadapnya, (dan dengan perumpamaan itu, banyak pula orang yang diberi-Nya petunjuk), yaitu dari golongan orang-orang beriman disebabkan mereka membenarkan dan mempercayainya (Tetapi yang disesatkan-Nya itu hanyalah orang-orang yang fasik), yakni yang menyimpang dan tak mau menaati-Nya.”
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 26)

TAFSIR SURAT AL-BAQARAH AYAT 25

Allah SWT berfirman:

وَبَشِّرِ الَّذِينَ ءَامَنُوا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ أَنَّ لَهُمْ جَنّٰتٍ تَجْرِى مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهٰرُ  ۖ كُلَّمَا رُزِقُوا مِنْهَا مِنْ ثَمَرَةٍ رِّزْقًا  ۙ قَالُوا هٰذَا الَّذِى رُزِقْنَا مِنْ قَبْلُ  ۖ وَأُتُوا بِهِۦ مُتَشٰبِهًا  ۖ وَلَهُمْ فِيهَآ أَزْوٰجٌ مُّطَهَّرَةٌ  ۖ وَهُمْ فِيهَا خٰلِدُونَ


wa basysyirillaziina aamanuu wa ‘amilush-shoolihaati anna lahum jannaatin tajrii min tahtihal-an-haar, kullamaa ruziquu min-haa min samarotir rizqong qooluu haazallazii ruziqnaa ming qoblu wa utuu bihii mutasyaabihaa, wa lahum fiihaaa azwaajum muthohharotuw wa hum fiihaa khooliduun

“(Dan sampaikanlah berita gembira) kabarkanlah (kepada orang-orang yang beriman) yang membenarkan Allah (dan mengerjakan kebaikan), baik yang fardu atau yang sunah (bahwa bagi mereka disediakan surga-surga), yaitu taman-taman yang ada pepohonan dan tempat-tempat kediaman (yang mengalir di bawahnya) maksudnya di bawah kayu-kayuan dan mahligai-mahligainya (sungai-sungai) maksudnya air yang berada di sungai-sungai itu, karena sungai artinya ialah galian tempat mengalirnya air, sebab airlah yang telah menggali atau menjadikannya ‘nahr’ dan menisbatkan ‘mengalir’ pada selokan disebut ‘majaz’ atau simbolisme.

(Setiap mereka diberi rezeki di dalam surga itu) maksudnya diberi makanan (berupa buah-buahan, mereka mengatakan, Inilah yang pernah) maksudnya seperti inilah yang pernah (diberikan kepada kami dulu), yakni sebelum masuk surga, karena buah-buahan itu seperti itu pula ciri masing-masingnya, hampir serupa.

(Mereka disuguhi) atau dipetikkan buah itu (dalam keadaan serupa), yakni warnanya tetapi berbeda rasanya, (dan diberi istri-istri) berupa wanita-wanita cantik dan selainnya, (yang suci) suci dari haid dan dari kotoran lainnya, (dan mereka kekal di dalamnya) untuk selama-lamanya, hingga mereka tak pernah fana dan tidak pula dikeluarkan dari dalamnya.”
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 25)

TAFSIR SURAT AL-BAQARAH AYAT 24

Allah SWT berfirman:

فَإِنْ لَّمْ تَفْعَلُوا وَلَنْ تَفْعَلُوا فَاتَّقُوا النَّارَ الَّتِى وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ  ۖ أُعِدَّتْ لِلْكٰفِرِينَ
fa il lam taf’aluu wa lan taf’aluu fattaqun-naarollatii waquuduhan-naasu wal-hijaarotu u’iddat lil-kaafiriin

“Tatkala mereka tidak mampu memenuhi permintaan itu, maka Allah swt. berfirman, (Dan jika kamu tidak dapat melakukan) apa yang disebutkan itu disebabkan kelemahan dan ketidakmampuanmu (dan kamu pasti tidak akan dapat melakukannya) demikian itu untuk selama-lamanya disebabkan terhalang mukjizat Alquran itu, (maka jagalah dirimu dari neraka) dengan jalan beriman kepada Allah dan meyakini bahwa Alquran itu bukanlah ucapan manusia (yang kayu apinya terdiri dari manusia), yakni orang-orang kafir (dan batu), misalnya yang dipakai untuk membuat patung-patung atau berhala-berhala mereka.

Maksudnya api neraka itu amat panas dan tambah menyala dengan bahan bakar manusia dan batu jadi bukan seperti api dunia yang hanya dapat dinyalakan dengan kayu bakar atau yang lainnya (yang disediakan bagi orang-orang kafir) sebagai alat untuk menyiksa mereka. Kalimat belakang ini dapat menjadi kalimat baru atau menunjukkan keadaan yang lazim.”
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 24)

* Via Al-Qur’an Indonesia http://quran-id.com

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai