TAFSIR SURAT AL-BAQARAH AYAT 23

Allah SWT berfirman:

وَإِنْ كُنْتُمْ فِى رَيْبٍ مِّمَّا نَزَّلْنَا عَلٰى عَبْدِنَا فَأْتُوا بِسُورَةٍ مِّنْ مِّثْلِهِۦ وَادْعُوا شُهَدَآءَكُمْ مِّنْ دُونِ اللَّهِ إِنْ كُنْتُمْ صٰدِقِينَ
wa ing kuntum fii roibim mimmaa nazzalnaa ‘alaa ‘abdinaa fa`tuu bisuurotim mim mislihii wad’uu syuhadaaa`akum min duunillaahi ing kuntum shoodiqiin

“(Sekiranya kamu merasa ragu) atau bimbang (tentang apa yang Kami turunkan kepada hamba Kami) maksudnya tentang Alquran yang Kami wahyukan kepada Muhammad, bahwa itu benar-benar dari Allah, (maka buatlah sebuah surah yang sebanding dengannya) dengan surah yang diwahyukan itu.

‘Min mitslihi’, min yang berarti dari, maksudnya di sini ialah untuk menjadi keterangan atau penjelasan, hingga artinya ialah yang sebanding dengannya, baik dalam kedalaman makna maupun dalam keindahan susunan kata serta pemberitaan tentang hal-hal gaib dan sebagainya.

Yang dimaksud dengan ‘surah’ ialah suatu penggal perkataan yang mempunyai permulaan kesudahan dan sekurang-kurangnya terdiri dari tiga ayat.

(Dan ajaklah saksi-saksimu) maksudnya tuhan-tuhanmu yang kamu sembah itu (selain dari Allah) untuk menjadi penolong-penolongmu, (jika kamu orang-orang yang benar) bahwa Alquran itu hanyalah buatan dan ucapan Muhammad belaka, maka cobalah lakukan demikian, bukankah kamu orang-orang yang berlidah fasih seperti Muhammad pula?”

(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 23)

KODE SANDI, BILIH PERLU MANGGA KLIK


,,
Kode Sandi HT (Handy Talky) Dari Kepolisian

  1. 1. SANDI ANGKA
    1-1 = Hubungi via Hp/Telephone
    1-4 = Ingin bicara diudara (langsung) 
    3-3 = Kualitas suara jelek
    3-3L = Kecelakaan korban luka
    3-3M = Kecelakaan korban material
    3-3K = Kecelakaan korban meninggal
    3-3KA = Kecelakaan kereta api
    3-4-K = Kecelakaan, korbanmeninggal, pelaku melarikan diri
    4-4 = Penerimaan jelek
    5-5 = Penerimaan baik
    8-4 = Tespesawat/penerimaannya
    8-6 = Dimengerti
    8-7 = Disampaikan
    8-8 = Ingin berjumpa langsung
    10-2 = Posisi/keberadaan
    10-4 = Diterima
    10-4 = roger that
    10-8 = Menuju
    1-1-2 = Emergency / darudat
    2-8-5 = Pemerkosaan
    3-0-3 = Perjudian
    3-0-1= lagi kimpoi
    3-3-8 = Pembunuhan
    3-6-3 = Pencurian
    3-6-5 = Perampokan
    8-1-0 = Pembunuhan
    8-1-1 = Kembali mengudara/memancar
    8-1-2 = Berita agar diulangi (kurang jelas)
    8-1-3 = Selamat bertugas
    8-1-4 = Laporan/pembicaraan terlalu cepat
    8-1-5 = Cuaca
    8-1-6 = Jam/waktu
    8-1-9 = Situasi
    8-1-10 = Komandan
  2. SANDI ALPHABET LOKAL/INDONESIA
    A=Ambon
    B=Bandung
    C=Cepu
    D=Demak
    F=Flores
    G=Garut
    H=Halong
    I=Irian
    J=Jepara
    K=Kendal
    L=Lombok
    M=Medan
    N=Namlea
    O=Opak
    P=Pati
    Q=Quibek
    R=Rembang
    S=Solo
    T=Timor
    U=Ungaran
    V=Viktor
    W=Wilis
    X=Ekstra
    Y=Yongki
    Z=Zainal
  3. SANDI ALPHABET INTERNASIONAL
    A=Alpha
    B=Bravo
    C=Charlie
    D=Delta
    E=Echo
    F=Foxtrot
    G=Golf
    H=Hotel
    I=India
    J=Juliett
    K=Kilo
    L=Lima
    M=Mike
    N=November
    O=Oscar
    P=Papa
    Q=Quebec
    R=Romeo
    S=Sierra
    T=Tango
    U=Uniform
    V=Victor
    W=Whiskey
    X=X-Ray
    Y=Yankee
    Z=Zulu
  4. SANDI KATA 
    Taruna = Berita
    Gelombang = Jam/waktu
    Semut = Pelajar
    Lalat = Mahasiswa
    Pangkalan = Rumah/kediaman
    Cangkulan = Kantor/tempatkerja
    Gajah = Derek
    Cicak = KPK <- pemulungs
    Komando = Kantor polisi
    Tikar = Surat
    Buntut tikus = Antenapendek (HT)
    Belalai gajah = Antenaatas
    Bandeng = Mayat
    Laka = Kecelakaan
    Jaya 65 = Kebakaran
    Timor Kupang Pati = Tempat Kejadian Perkara
    Timor Lombok Pati = Telepon
    Timor Kupang Ambon = TerKendali Aman
    Halong Timur = Handy Talky (HT)
    Halong Pati = Hand Phone (HP)
    Kupang Rembang = KendaRaan
    Kupang Ambon = KeretaApi
    Wilis Kendal = Walikota
    Kendal Cepu = KeCamatan
    Kendal Lombok = KeLurahan
    Rembang Wilis = RW
    Rembang Timur = RT
    Rembang Rembang = Serse
    Rembang Solo = RumahSakit
    Rembang Pati = Rupiah
    AnakKijang = Pencuri/Tersangka
    Angkot cipayung-ciracas = T-14-Koperasi Wahana Kalpika
    Ambon Demak = Angkatan Darat
    Ambon Lombok = Angkatan Laut
    Ambon Ungaran = Angkatan Udara
    Pati Medan = Polisi Militer
    Timor Medan = Tamu/Teman
    Lombok-Lombok = LaluL intas
    Timor Lombok = Lampu Lalu Lintas/Traffic Light
    Sepi = Senjata Api
    Sajam = Senjata Tajam
    Curat = PencurianDenganPemberatan
    Curas = Pencurian Dengan Kekerasan
    Curanmor = Pencurian Kendaraan Bermotor
    Bandung Umar Solo = BUS
    Medan-Medan = Metro Mini
    Pati Demak Irian = Jam/Waktu
    Solo Medan Pati = Pelajar
    Solo Medan Ungaran = Mahasiswa
    Solo Timur Medan = Rumah/Kediaman
    Opak Kendal Jepara = Kantor/Tempat Kerja
    Opak Pati Solo = Derek
    Lombok Pati = Kantor Polisi
    Lombok Irian = Surat
    Lombok Demak = Antena Pendek (HT)
    Bandung-Bandung = Barang Bukti (BB)
    Bandung2 Padat = Makan
    Bandung2 Medan = Bahan Bakar Minyak
    Lampiran/Ambon = Istri
    Monik = Anak
    Solo Bandung = Stand By
    Solo Garut = SiaGa
    Medan Demak = Meninggal Dunia
    Pati Ambon Medan = Pengamanan
    Ambon Pati-Pati = Apel
    PalangHitam = Mobil Jenazah
    Demak Pati Kendal = Dinas Pemadam Kebakaran
    wayang = intel+serse
    panah = polantas
    Sandi PangkatKesatuanPolisi
    Kresna = Presiden
    Bima = WakilPresiden
    Timor Bandung I = Kapolri
    Metro I = Kapolda
    Timor I = Kapolres
    Jajaran 1 = Kapolsek
    Jajaran 2 = Wakapolsek
    Jajaran 3 = Serse
    Jajaran 4 = Sabhara
    Jajaran 5 = Bimas/Babinkamtibmas
    Jajaran 6 = Lantas/LaluLintas

Tafsir surat al-baqarah ayat 14

وَإِذَا لَقُوا۟ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ قَالُوٓا۟ ءَامَنَّا وَإِذَا خَلَوْا۟ إِلَىٰ شَيَٰطِينِهِمْ قَالُوٓا۟ إِنَّا مَعَكُمْ إِنَّمَا نَحْنُ مُسْتَهْزِءُونَ

Arab-Latin: Wa iżā laqullażīna āmanụ qālū āmannā, wa iżā khalau ilā syayāṭīnihim qālū innā ma’akum innamā naḥnu mustahzi`ụn Terjemah Arti: Dan bila mereka berjumpa dengan orang-orang yang beriman, mereka mengatakan: “Kami telah beriman”.

Dan bila mereka kembali kepada syaitan-syaitan mereka, mereka mengatakan: “Sesungguhnya kami sependirian dengan kamu, kami hanyalah berolok-olok”. Tafsir Quran Surat Al-Baqarah Ayat 14 14.

Apabila mereka berjumpa dengan orang-orang mukmin, mereka berkata, “Kami percaya dengan apa yang kalian imani.” Mereka mengatakan hal itu karena takut kepada orang-orang mukmin. Dan apabila mereka berpisah dengan orang-orang mukmin dan berjumpa dengan para pemimpin mereka secara tertutup, mereka menegaskan akan tetap patuh kepada mereka (para pemimpin kafir).

Mereka mengatakan, “Sesungguhnya kami tetap bersama kalian dan sejalan dengan kalian, tetapi kami sengaja menunjukkan sikap setuju dengan orang-orang yang mukmin semata-mata untuk mengejek dan mengolok-olok mereka.

” Tafsir Al-Mukhtashar / Markaz Tafsir Riyadh, di bawah pengawasan Syaikh Dr. Shalih bin Abdullah bin Humaid (Imam Masjidil Haram) Orang-orang munafik tersebut apabila bertemu dengan kaum Mukminin mereka berkata: “kami membenarkan agama Islam seperti kalian”.

akan tetapi jika mereka berpaling dan Pergi mendatangi para pemuka mereka yang kafir lagi membangkang terhadap Allah, mereka menegaskan di hadapan para tokoh itu bahwa mereka Tetaplah di atas kekafiran yang dulu dan tidak meninggalkannya, sesungguhnya mereka sekedar mengolok-olok kaum mukminin dan mengejek mereka. Tafsir Al-Muyassar / Kementerian Agama Saudi Arabia 14.

Setelah Allah menjelaskan dalam ayat-ayat ini kemunafikan mereka dan sebabnya, serta keadaan mereka saat diseru kepada kebenaran, kemudian Allah menjelaskan ciri-ciri mereka dari sisi perkataan mereka yang menipu dengan berfirman: وإذا لقوا Yakni orang-orang munafik jika berkumpul dengan orang-orang beriman maka mereka akan menampakkan keimanan; namun jika mereka berkumpul dengan para pemimpin kafir maka mereka menyatakan kekafiran, dan apa yang mereka katakan kepada orang-orang beriman hanyalah olok-olok semata. Adapun perkataan mereka (إنا معكم) dengan kalimat penegasan adalah karena kemahiran mereka dalam berbuat nifak saat bertemu kaum muslimin yang menimbulkan keraguan dan sangkaan para pemimpin orang-orang kafir akan keteguhan kaum munafik itu dalam kekafiran. Oleh sebab itu mereka butuh penegasan bahwa mereka tetap teguh dalam kekafiran. Demikian pula penegasan yang ada dalam kalimat (إنما نحن مستهزؤون).

Tafsir Al-Madinah Al-Munawwarah / Markaz Ta’dzhim al-Qur’an di bawah pengawasan Syaikh Prof. Dr. Imad Zuhair Hafidz, professor fakultas al-Qur’an Universitas Islam Madinah 14. وَاِذَا خَلَوْا اِلٰى شَيٰطِيْنِهِمْ (Tetapi apabila mereka kembali kepada setan-setan (para pemimpin) mereka) Yakni pemimpin-pemimpin mereka dalam kekufuran yang senantiasa merencanakan keburukan. قَالُوْٓا اِنَّا مَعَكُمْ ۙ (mereka berkata, Sesungguhnya kami bersama kamu) Yakni senantiasa dalam kekufuran. اِنَّمَا نَحْنُ مُسْتَهْزِءُوْنَ (kami hanya berolok-olok) Yakni kepada orang-orang mukmin dengan mengaku sehati dengan mereka, padahal hati kami sama sekali tidak condong kepada mereka.

Zubdatut Tafsir Min Fathil Qadir / Syaikh Dr. Muhammad Sulaiman Al Asyqar, mudarris tafsir Universitas Islam Madinah Perhatikanlah bagaimana mereka mengatakan : { اِنَّا مَعَكُمْ } “sesungguhnya kami bersama kalian (wahai orang beriman)” , padahal kenyataannya adalah menyalahi hal itu, karena orang-orang beriman meragukan keimanan dalam diri para munafiqin, sedangkan kaum mereka tidak meragukan dan tidak mempermasalahkan tetapnya mereka diatas agama; karena tatkala kemunafikan mereka muncul ketika bertemu dengan para mukminin yang akhirnya menjadi sebab keraguan para pembesar-pembesar agama mereka tentang tetapnya para munafik ini diatas kekafiran, mereka butuh kepada sesuatu yang meyakinkan bahwa para munafik itu sebenarnya tetap diatas agama mereka.

Li Yaddabbaru Ayatih / Markaz Tadabbur di bawah pengawasan Syaikh Prof. Dr. Umar bin Abdullah al-Muqbil, professor fakultas syari’ah Universitas Qashim – Saudi Arabia Ketika mereka bertemu orang-orang mukmin, mereka menampakkan keimanan mereka, dan ketika kembali kepada pemimpin-pemimpin kafir mereka, mereka berkata: kami adalah orang-orang yang tetap ingkar dan memperolok orang-orang muslim dengan berpura-pura sepakat dengan mereka Tafsir Al-Wajiz / Syaikh Prof.

Dr. Wahbah az-Zuhaili, pakar fiqih dan tafsir negeri Suriah Allah mengabarkan bahwasanya orang-orang munafik jika mereka berkata kepada orang-orang yang beriman ketika mereka berbaur dengan orang-orang yang beriman maka mereka akan menampakan keimanan mereka ; maka jika mereka kembali kepada para pembesar pembesar mereka yang kafir mereka berkata : kami bersama kalian secara keyakinan dan agama , karena takut kepada orang-orang yang beriman dan hanya memperolok mereka. An-Nafahat Al-Makkiyah / Syaikh Muhammad bin Shalih asy-Syawi 14.

Inilah yang biasa keluar dari lisan-lisan mereka yang bukan dari hati mereka, yaitu bahwasanya mereka ini bila berkumpul dengan kaum Mukminin, maka mereka menampakkan bahwa mereka dalam satu manhaj dengan kaum Mukminin dan bahwa mereka sama dengan kaum Mukminin, namun bila mereka kembali kepada setan-setan mereka –yaitu pemimpin-pemimpin dan ketua-ketua kejahatan mereka-, maka mereka berkata, “sesungguhnya pada hakikatnya kami ini bersama kalian, kami hanya mengolok-olok kaum Mukminin dengan menampakkan kepada mereka bahwa kami berada di atas jalan mereka. “

Inilah kondisi mereka secara lahir dan batin, dan tidaklah makar yang buruk itu kecuali akan menimpa pelakunya. Tafsir as-Sa’di / Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di, pakar tafsir abad 14 H Makna kata : لَقُواْ al-Mulaaqaah berarti bertemu secara tatap muka ءَامَنُواْ Aamanuu : Iman secara syar’i adalah meyakini tentang Allah dari semua yang diberitakan oleh Rasulullah g dari Allah.

Orang yang meyakininya dinamakan orang mukmin yang sejati. خَلَوۡاْ al-Khuluwwu bisyai’i artinya adalah berpaling darinya شَيَٰطِينِهِمۡ asy-Syaithoon maknanya adalah segala sesuatu yang jauh dari kebaikan, dekat kepada keburukan. Berbuat kerusakan dan tidak melakukan perbaikan, baik itu manusia ataupun.

Adapun yang dimaksud di sini adalah para pembesarnya dalam melakukan keburukan dan kerusakan. مُسۡتَهۡزِءُونَ al-istihzaa’u meremehkan dan merendahkan orang lain. Makna ayat : Ayat-ayat di atas masih saja membicarakan tentang kaum munafik dan sifat-sifatnya.

Allah mengabarkan pada ayat (14) bahwa mereka disebabkan nifaq dan kebusukan dalam hatinya jika bertemu orang mukmin di suatu tempat, akan memberi tahukan bawha mereka beriman kepada Allah, rasulNya, dan syariatNya. Namun, apabila berkumpul dengan pembesar-pembesar kesesatan mereka mengejek apa yang dikatakan tentang keimanan dan berkata,”Kami bersama kalian di atas agama kalian, dan kami tidak akan beriman selamanya.

Adapun kami menampakkan keimanan hanya sebagai ejekan bagi Muhammad dan sahabat-sahabatnya.” Pelajaran dari ayat : Pemberitahuan tentang orang-orang munafik dan peringatan dari kelakuan mereka yang memiliki dua wajah, bertemu dengan orang ini dengan wajah baik, dan bertemu orang lain dengan wajah buruknya. Dalam hadits disebutkan,”Orang yang paling buruk di antara kalian adalah bermuka dua.” Aisarut Tafasir / Syaikh Abu Bakar Jabir al-Jazairi, mudarris tafsir di Masjid Nabawi Yakni orang-orang munafik.

Maksudnya, pemimpin-pemimpin mereka yang kafir. Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur’an / Ustadz Marwan Hadidi bin Musa, M.Pd.I Dan apabila mereka, orang-orang munafik, berjumpa dengan orang yang beriman, mereka berkata, kami telah beriman seperti yang kalian yakini tentang kebenaran rasul dan dakwahnya. Mereka menyatakan beriman secara lisan untuk melindungi diri dan meraih keuntungan material.

Tetapi apabila mereka kembali kepada teman-teman dan para pemimpin mereka yang menyerupai setan-setan dalam perilaku mereka yang selalu berbuat kerusakan dan kejahatan, mereka berkata, sesungguhnya kami tidak berubah dan tetap bersama kamu di satu jalan dan satu perbuatan, kami hanya berolok-olok ketika kami mengatakan beriman di hadapan orang-orang mukmin.

Sebagai balasan atas perbuatan mereka itu, Allah akan memperlakukan mereka seperti orang yang memperolok-olokkan dan merendahkan mereka, dan membiarkan mereka dengan menangguhkan siksa-Nya beberapa saat sehingga mereka semakin jauh terombang-ambing dalam kesesatan dan semakin buta dari kebenaran, sampai akhirnya datang saat yang tepat untuk menyiksa mereka, seperti yang akan dijelaskan pada surah a’li imra’n/3: 87. Tafsir Ringkas Kementrian Agama RI

TAFSIR SURAT AL-BAQARAH AYAT 13

Quran Surat Al-Baqarah Ayat 13 Anda belum mahir membaca Qur’an?

وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ ءَامِنُوا۟ كَمَآ ءَامَنَ ٱلنَّاسُ قَالُوٓا۟ أَنُؤْمِنُ كَمَآ ءَامَنَ ٱلسُّفَهَآءُ ۗ أَلَآ إِنَّهُمْ هُمُ ٱلسُّفَهَآءُ وَلَٰكِن لَّا يَعْلَمُونَ

Arab-Latin: Wa iżā qīla lahum āminụ kamā āmanan-nāsu qālū a nu`minu kamā āmanas-sufahā`, alā innahum humus-sufahā`u wa lākil lā ya’lamụn Terjemah Arti: Apabila dikatakan kepada mereka: “Berimanlah kamu sebagaimana orang-orang lain telah beriman”.

Mereka menjawab: “Akan berimankah kami sebagaimana orang-orang yang bodoh itu telah beriman?” Ingatlah, sesungguhnya merekalah orang-orang yang bodoh; tetapi mereka tidak tahu. Tafsir Quran Surat Al-Baqarah Ayat 13 13.

Apabila mereka disuruh beriman sebagaimana sahabat-sahabat Nabi Muhammad -ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam- yang telah menyatakan keimanannya, mereka menjawab secara angkuh dan sinis dengan mengatakan, “Apakah kami harus beriman seperti orang-orang yang akalnya rendah itu?!” Padahal sejatinya merekalah yang bodoh, tetapi mereka tidak mengetahuinya. Tafsir Al-Mukhtashar / Markaz Tafsir Riyadh, di bawah pengawasan Syaikh Dr. Shalih bin Abdullah bin Humaid (Imam Masjidil Haram) Dan apabila dikatakan kepada orang-orang munafik “berimanlah kalian sebagaimana para sahabat yang telah beriman yaitu beriman dengan hati, lisan dan anggota tubuh”. mereka mendebat seraya berkata : “Apakah kami beriman seperti beriman nya orang-orang yang lemah akal dan pemikirannya sehingga kami dan mereka nantinya sama dalam kebodohan?” maka Allah menjawab mereka dengan menyatakan bahwa sesungguhnya kebodohan hanya melekat pada mereka sedangkan mereka tidak sadar bahwa apa yang ada pada mereka sendiri adalah kesesatan dan kerugian. Tafsir Al-Muyassar / Kementerian Agama Saudi Arabia 13.

Dan apabila orang-orang munafik itu dinasehati agar beriman kepada Allah sebagaimana kaum mukminin beriman kepada Rasulullah, maka mereka akan menolak dan bersikap angkuh.

Mereka tetap berlepas diri dari keimanan sekuat tenaga, sehingga Allah mensifati mereka sebagai orang-orang yang tak berilmu. Prasangka mereka bahwa kekafiran mereka adalah keimanan dan keimanan yang dianut kaum muslimin adalah kebodohan merupakan tanda bahwa mereka tidak berilmu.

Mereka mengatakan: “Apakah kami harus beriman seperti orang-orang bodoh itu beriman?” Maka Allah menyangkal mereka dan menyatakan bahwa merekalah sesungguhnya orang-orang yang bodoh, dan bagian dari kebodohan mereka adalah mereka tidak mengetahui keadaan mereka sendiri dan akhir dari urusan mereka kelak. Tafsir Al-Madinah Al-Munawwarah / Markaz Ta’dzhim al-Qur’an di bawah pengawasan Syaikh Prof. Dr.

Imad Zuhair Hafidz, professor fakultas al-Qur’an Universitas Islam Madinah 13.

اَلَآ اِنَّهُمْ هُمُ السُّفَهَاۤءُ وَلٰكِنْ لَّا يَعْلَمُوْنَ

(Ingatlah, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang kurang akal, tetapi mereka tidak tahu) Mereka menisbahkan kurangnya akal kepada orang-orang mukmin sebagai bentuk penghinaan, maka Allah menuliskan bahwa sifat kurang akal itu hanya ada pada mereka.

Zubdatut Tafsir Min Fathil Qadir / Syaikh Dr. Muhammad Sulaiman Al Asyqar, mudarris tafsir Universitas Islam Madinah Diantara penampakan kesombongan pikiran adalah : ketidak ridhoan terhadap apa yang diridhoi oleh orang-orang kalangan bawah, amatilah ayat-ayat berikut ini :

{ قَالُوا أَنُؤْمِنُ كَمَا آمَنَ السُّفَهَاءُ }

“Mereka menjawab: “Akan berimankah kami sebagaimana orang-orang yang bodoh itu telah beriman?” [ al-Baqarah : 13 ],

{ قَالُوا أَنُؤْمِنُ لَكَ وَاتَّبَعَكَ الْأَرْذَلُونَ }

“Mereka berkata: “Apakah kami akan beriman kepadamu, padahal yang mengikuti kamu ialah orang-orang yang hina?” [ asy-Syu’ara’ : 111 ],

{ فَقَالَ الْمَلَأُ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ قَوْمِهِ مَا نَرَاكَ إِلَّا بَشَرًا مِثْلَنَا وَمَا نَرَاكَ اتَّبَعَكَ إِلَّا الَّذِينَ هُمْ أَرَاذِلُنَا بَادِيَ الرَّأْيِ } “

Maka berkatalah pemimpin-pemimpin yang kafir dari kaumnya: “Kami tidak melihat kamu, melainkan (sebagai) seorang manusia (biasa) seperti kami, dan kami tidak melihat orang-orang yang mengikuti kamu, melainkan orang-orang yang hina dina di antara kami yang lekas percaya saja” [ Hud : 27 ], dan gambaran yang lebis dahsyat adalah :

{ وَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا لِلَّذِينَ آمَنُوا لَوْ كَانَ خَيْرًا مَا سَبَقُونَا إِلَيْهِ ۚ وَإِذْ لَمْ يَهْتَدُوا بِهِ فَسَيَقُولُونَ هَٰذَا إِفْكٌ قَدِيمٌ }

“Dan orang-orang kafir berkata kepada orang-orang yang beriman: “Kalau sekiranya di (Al Quran) adalah suatu yang baik, tentulah mereka tiada mendahului kami (beriman) kepadanya. Dan karena mereka tidak mendapat petunjuk dengannya maka mereka akan berkata: “Ini adalah dusta yang lama”. [ al-Ahqaf : 11 ] .

Li Yaddabbaru Ayatih / Markaz Tadabbur di bawah pengawasan Syaikh Prof. Dr. Umar bin Abdullah al-Muqbil, professor fakultas syari’ah Universitas Qashim – Saudi Arabia Ketika dimintai (pertanggung jawaban) keimanan dari mereka, mereka enggan meniru orang-orang mukmin dan menggambarkan mereka sebagai orang bodoh yaitu bahwa orang mukmin itu ceroboh dan berpikiran rendah namun kenyataannya merekalah orang-orang bodoh yang sebenarnya, yaitu orang-orang bodoh yang tidak mengetahui hakikat dari apa yang mereka kerjakan Tafsir Al-Wajiz / Syaikh Prof. Dr. Wahbah az-Zuhaili, pakar fiqih dan tafsir negeri Suriah Begitu juga jika dikatakan kepada mereka orang-orang munafik :

berimanlah kalian dimana para sahabat telah beriman kepada nabi mereka dengan keimanan yang Hakiki ; mereka menolak dan berkata :

Bagaimana mungkin kami melakukan bagaimana perbuatan mereka orang-orang yang bodoh yang lemah akalnya ? ; maka Allah membantah atas perkataan mereka bahwasanya mereka lah orang-orang yang bodoh dan pandir akan tetapi mereka tidak materi keburukan apa yang telah mereka perbuat dan kekejian atas apa yang telah mereka aku kan dari kesombongan dan kekafiran serta kesesatan.

An-Nafahat Al-Makkiyah / Syaikh Muhammad bin Shalih asy-Syawi 13.

Maksudnya, bila dikatakan kepada orang-orang munafik “Berimanlah seperti orang-orang beriman, ” yakni seperti berimannya para sahabat, yaitu keimanan dengan hati dan lisan, maka mereka berkata dengan sangkaan mereka yang batil, “Apakah kami akan beriman seperti berimannya orang-orang yang bodoh itu?” maksud mereka –semoga Allah memburukkan mereka – adalah para sahabat karena dugaan mereka bahwasanya kebodohan mereka yang menyebabkan mereka untuk beriman, meninggalkan negeri, dan memusuhi kaum kafir, sedangkan akal menurut mereka adalah berlawanan dengan hal itu.

Mereka menisbatkan para sahabat kepada kebodohan, dan kandungan statemen tersebut adalah bahwa merekalah orang-orang yang pintar (cendikiawan) yang memiliki kecerdasan dan pikiran yang matang. Maka Allah membalas mereka dan mengabarkan kepada mereka bahwasanya merekalah orang-orang bodoh yang sebenarnya, karena hakikat kebodohan itu adalah ketidaktahuan seorang manusia kepada kemaslahatan pribadinya dan perbuatannya yang melakukan apa-apa yang justru memudaratkannya. Hal inilah yang terbukti terjadi pada mereka (dan terjadi benar atas mereka), sebagaimana juga akal dan kecerdasan itu adalah pengetahuan seorang manusia kepada halm yang bermanfaat bagi dirinya dan berbuat apa yang berguna untuknya serta menghindar dari apa yang memudaratkan dirinya, dan inilah yang terbukti terjadi pada para sahabat dan kaum Mukminin. Maka patokannya adalah dengan ciri yang menempel pada diri dan bukti, tidak hanya sekedar sangkaan dan perkataan kosong belaka.

Tafsir as-Sa’di / Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di, pakar tafsir abad 14 H Makna kata : ٱلسُّفَهَآءُ : As-Sufahaa’ merupakan bentuk jamak dari Safiih (bodoh) yang berarti akalnya kurang, tidak bsia berpikir dan berusaha sendiri.

Makna ayat : Kemudian Allah Ta’ala memberitahukan tentang orang munafik apabila diperingatkan oleh orang mukmin “Jujurlah dalam keimanan kalian dan berimanlah seperti fulan, atau yang lain seperti Abdullah bin Salam, mereka membantah “Apakah kami harus beriman seperti imannya orang-orang bodoh yang tidak memiliki ilmu itu?!” Allah membantah pernyataan mereka dan menegaskan bahwa kebodohan itu ada pada diri orang munafik, bukan pada orang mukmin yang jujur imannya.

Lantas Allah Ta’ala memberikan sifat orang munafik dengan kebodohan tidak memiliki ilmu.

Pelajaran dari ayat : Orang-orang yang berbuat kerusakan di muka bumi selalu berasalan bahwa perbuatannya sebagai bentuk perbaikan bukan sebagai kerusakan.

Aisarut Tafasir / Syaikh Abu Bakar Jabir al-Jazairi, mudarris tafsir di Masjid Nabawi Yakni sebagaimana para sahabat Nabi radhiyallahu ‘ahum beriman, di mana iman mereka tidak sekedar di lisan tetapi masuk ke hati dan diamalkan oleh anggota badan, mereka membantah dengan mengatakan, “Apakah kami akan beriman sebagaimana orang-orang yang kurang akal beriman?” maka Allah membantah bahwa merekalah yang kurang akal, karena hakikat kurang akal adalah tidak mengetahui hal yang bermaslahat untuk dirinya dan mengerjakan sesuatu yang merugikannya.

Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur’an / Ustadz Marwan Hadidi bin Musa, M.Pd.I Dan apabila dikatakan dan dinasihatkan kepada mereka, berimanlah kamu dengan tulus ikhlas sebagaimana orang lain yang menyambut suara dan seruan akal sehat telah beriman, seperti yang dilakukan para sahabat pengikut nabi Muhammad, mereka menjawab dengan penuh kesombongan dan nada menghina, apakah kami akan beriman seperti orang-orang yang kurang akal itu beriman’ tidak pantas bagi kami untuk mengikuti orang-orang bodoh itu, sebab dengan begitu berarti kami sama bodohnya dengan mereka.

Allah membantah kecongkakan mereka dengan mengingatkan orangorang mukmin, ingatlah, sesungguhnya hanya mereka itulah orang-orang yang kurang akal dan bodoh, tetapi mereka tidak tahu dan tidak sadar bahwa kebodohan dan sifat kurang akal itu ada dalam diri mereka, dan mereka juga tidak menyadari kesesatan mereka itu.

Dan apabila mereka, orang-orang munafik, berjumpa dengan orang yang beriman, mereka berkata, kami telah beriman seperti yang kalian yakini tentang kebenaran rasul dan dakwahnya.

Mereka menyatakan beriman secara lisan untuk melindungi diri dan meraih keuntungan material.

Tetapi apabila mereka kembali kepada teman-teman dan para pemimpin mereka yang menyerupai setan-setan dalam perilaku mereka yang selalu berbuat kerusakan dan kejahatan, mereka berkata, sesungguhnya kami tidak berubah dan tetap bersama kamu di satu jalan dan satu perbuatan, kami hanya berolok-olok ketika kami mengatakan beriman di hadapan orang-orang mukmin.

INFORMASI TATA CARA TIDUR YANG BAIK MENURUT ISLAM

4 Posisi Tidur yang Baik Menurut Islam

4 Posisi Tidur yang Baik Menurut Islam

Didalam Islam sendiri mengatur berbagai macam hal sesuai dengan tuntunan Alquran ataupun hadist.

Termasuk dengan posisi tidur yang baik menurut Islam. Hal ini pun sesuai dengan HR bukhari dan Muslim yang menjelaskan apabila hendaknya seseorang berbaring dengan lambung kanan.

Pada hadist tersebut memberikan pemahaman agar seseorang tidur dengan lambung kanan.

Posisi tidur yang sesuai dengan ajaran umat Islam tersebut bukan tanpa alasan. Tentunya dibalik posisi tersebut ada beberapa manfaat yang bisa anda dapatkan seperti manfaat kesehatan.

Berikut ini beberapa posisi tidur menurut Islam yang dianjurkan untuk dilakukan.

Posisi Tidur yang Baik Menurut Islam

Untuk mengetahui bagaimanakah posisi tidur dalam Islam, sehingga tidur anda bisa lebih nyenyak, dan sangat bermanfaat bagi anda yang mengalami kendala sulit tidur, anda bisa langsung menyimak ulasan dibawah ini.

1. Miring ke kanan

Posisi tidur dalam Islam adalah miring ke kanan.

Anda bisa memposisikan tidur dengan miring ke kanan. Agar lebih nyaman, anda juga bisa memeluk guling anda. Tetapi sebelum anda memutuskan untuk tidur, ada baiknya untuk menyempurnakan tidur dengan wudhu dan sholat terlebih dahulu.

2. Meletakkan tangan di bawah pipi

Posisi tidur menurut Islam yang satu ini dianjurkan dalam Islam dimana terdapat didalam HR abu Dawud nomor 5045, At Tirmidzi 3395 dan Ibnu Majah dimana berbunyi apabila Nabi Muhammad SAW tidur dengan meletakkan tangan kanannya tepat dibawah pipi kananya.

3. Tidak tidur dengan cara tengkurap

Didalam Islam tidur dengan cara tengkurap sangat tidak dianjurkan. Hal ini karena akan mempengaruhi kesehatan anda terutama perut. Hal ini juga sesuai dengan HR abu Dawud dimana berbunyi apabila posisi tidur dengan tengkurap itu merupakan posisi tidur menurut Islam yang cukup dimurkai oleh Allah.

4. Tidur dengan tidak menyamping ke kiri

Posisi tidur menurut Islam yang berikutnya adalah tidak tidur dengan menyamping ke kiri. Hal ini ternyata bukan tanpa alasan. Karena apabila anda membiaskan tidur ke samping kiri maka lama ke lamaan organ tubuh anda akan terganggu terutama jantung dan paru-paru.

Demikian beberapa posisi tidur yang baik menurut Islam. Posisi tidur diatas tentu bukan tanpa alasan karena posisi tidur yang baik adalah posisi tidur yang tidak membuat seseorang tersiksa setelahnya. 

YD1JNI YACHYA YUSLIHA

Tafsir surat al-baqarah ayat 12

أَلَآ إِنَّهُمْ هُمُ ٱلْمُفْسِدُونَ وَلَٰكِن لَّا يَشْعُرُونَ

Assalamualaikum jamaah Ustadz Online

Arab-Latin: Al innahum humul-mufsidụna wa lākil lā yasy’urụn Terjemah Arti: Ingatlah, sungguh mereka yang membuat orang lain menjadi rusak, tetapi mereka tidak sadar.

Tafsir Quran Surat Al-Baqarah Ayat 12 12. Meskipun sebenarnya mereka pembuat kerusakan, tetapi mereka tidak menyadarinya.

Dan mereka juga tidak membiarkan itu bertindak mereka adalah kerusakan itu sendiri.

Tafsir Al-Mukhtashar / Markaz Tafsir Riyadh, di bawah pengawasan Syaikh Dr. Shalih bin Abdullah bin Humaid (Imam Masjidil Haram) Sesungguhnya apa yang mereka lakukan dan mereka sangkakan itu adalah kerusakan yang sebenarnya.

Akan tetapi karena kebodohan dan pembangkangan mereka, mereka tidak menyadarinya.

Tafsir Al-Muyassar / Kementerian Agama Arab Saudi 12. اَلَآ اِنَّهُمْ هُمُ الْمُفْسِدُوْنَ (Ingatlah, sesungguhnya merekalah yang berbuat kerusakan) Ketika Allah melarang mereka berbuat kerusakan mereka malah mengaku merekalah yang melakukan perbaikan, sehingga Allah memabalas klaim mereka dengan balasan yang telak dengan mensifati mereka dengan sifat asli mereka yang suka berbuat kerusakan.

وَلٰكِنْ لَّا يَشْعُرُوْنَ

(tetapi mereka tidak menyadari) Yakni mereka tidak mengetahui bahwa mereka adalah orang-orang yang suka berbuat kerusakan dikarenakan mereka suka memusuhi kebenaran dan orang-orang yang berada dalam kebenaran dan suka menghalangi orang-orang dari jalan Allah.

Zubdatut Tafsir Min Fathil Qadir / Syaikh Dr. Muhammad Sulaiman Al Asyqar, mudarris tafsir Universitas Islam Madinah 11-12 Tidak semua pengakuan yang dilontar oleh seseorang tentang suatu perkara mesti dibenarkan; karena orang-orang munafiq tatkala mereka berkata :

{ إِنَّمَا نَحْنُ مُصْلِحُونَ }

“sesungguhnya kami adalah orang-orang yang mengadakan perbaikan” , Allah kemudian membantah perkataan mereka dengan firman-Nya :

{ أَلَا إِنَّهُمْ هُمُ الْمُفْسِدُونَ }

“Ketahuilah sesungguhnya mereka itu adalah orang-orang yang mendatangkan kerusakan” ; dan tidak semua apa yang dihiasi oleh jiwa selalu baik; sebagaimana yang difirmankan oleh Allah :

{ أَفَمَنْ زُيِّنَ لَهُ سُوءُ عَمَلِهِ فَرَآهُ حَسَنًا ۖ فَإِنَّ اللَّهَ يُضِلُّ مَنْ يَشَاءُ وَيَهْدِي مَنْ يَشَاءُ }

“Maka apakah orang yang dijadikan (syaitan) menganggap baik pekerjaannya yang buruk lalu dia meyakini pekerjaan itu baik, (sama dengan orang yang tidak ditipu oleh syaitan)? Maka sesungguhnya Allah menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya dan menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya”.

Li Yaddabbaru Ayatih / Markaz Tadabbur di bawah pengawasan Syaikh Prof. Dr. Umar bin Abdullah al-Muqbil, professor fakultas syari’ah Universitas Qashim – Saudi Arabia Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang melakukan kerusakan yang sebenarnya karena melanggar perintah-perintah Allah dan melakukan kemaksiatan namun mereka tidak menyadari bahwa mereka adalah orang yang benar-benar melakukan kerusakan.

Sungguh kerusakan telah menguasai hati mereka Tafsir Al-Wajiz / Syaikh Prof. Dr. Wahbah az-Zuhaili, pakar fiqih dan tafsir negeri Suriah Oleh karena itu Allah membongkar kedok mereka, dan Allah mengabarkan bahwa mereka adalah perusak akan tetapi mereka tidak menyadari bahwasannya para perusak itu secara hakiki disebabkan karena kebodohan mereka dan kesombongan mereka.

An-Nafahat Al-Makkiyah / Syaikh Muhammad bin Shalih asy-Syawi 12. “ Ingatlah, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang membuat kerusakan, ” karena tidak ada yang lebih besar Allah, menghalangi dari jalan Allah, menipu Allah dan para kekasihNya, dan (justru sebaliknya) mereka mencintai orang-orang yang memerangi Allah dan RosulNya dan dengan itu semua dia mengklaim bahwa hal itu adalah perbaikan, lalu apakah setelah kerusakan ini ada kerusakan yang kebih besar lagi? Akan tetapi mereka tidak mengetahui ilmu yang bermanfaat bagi diri mereka walaupun mereka terkadang telah mengetahui ilmu tersebut, namun hal itu adalah tanda telah ditegakannya hujjah Allah atas mereka.

Sesungguhnya perbuatan maksiat mereka di atas muka bumi adalah pengrusakan karena menjadi penyebab dari kerusakan segala hal yang ada di atas muka bumi berupa biji-bijian, buah-buahan, pepohonan, dan tumbuh-tumbuhan, dimana terjadi kerusakan yang disebabkan oleh kemaksiatan, dan juga karena perbaikan di muka bumi adalah dengan memakmurkannya dengan ketaatan kepada Allah dan beriman kepadaNya.

Oleh karena itu Allah menciptakan makhluk dan menetapkannya di bumi, menentukan rizki bagi mereka agar mereka memanfaatkannya untuk taat kepada Allah dan beribadah kepadaNya, dan bila dilakukan di atas bumi ini hal yang bertentangan dengan itu, maka hal itu adalah usaha melakukan kerusakan padanya dan penghancuran baginya dari hal yang menjadi tujuan dia diciptakan.

Tafsir as-Sa’di / Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di, pakar tafsir abad 14 H Makna kata : لَّا يَشۡعُرُونَ Laa yasy’uruun : Artinya Tidak mengetahui dan tidak menyadari.

Makna ayat : Maka Allah Ta’ala menepis anggapan mereka dan menjelaskan bahwa merekalah sejatinya yang berbuat kerusakan, bukan orang-orang mukmin yang menegur mereka.

Akan tetapi orang munafik tidak menyadari disebabkan karena kekufuran sudah menguasai hati mereka.

Pelajaran dari ayat : Membuat perbaikan di muka bumi dilakukan dengan cara beramal dalam ketaatan kepda Allah dan rasulNya, sedangkan berbuat kerusakan di muka bumi adalah dengan bermaksiat kepada Allah dan rasulNya.

Aisarut Tafasir / Syaikh Abu Bakar Jabir al-Jazairi, mudarris tafsir di Masjid Nabawi Karena tidak ada kerusakan yang paling besar daripada mengingkari ayat-ayat Allah, menghalangi manusia dari jalan-Nya, hendak menipu Allah dan para wali-Nya dan menolong orang-orang yang memerangi Allah dan rasul-Nya ditambah dengan agggapan bahwa hal itu merupakan perwujudan mengadakan perbaikan.

Perbuatan maksiat dikatakan sebagai kerusakan karena rusaknya bumi diakibatkan oleh maksiat, sebaliknya bumi hanya akan menjadi baik dengan iman dan keta’atan kepada Allah Ta’ala.

Untuk itulah Allah menciptakan manusia dan melimpahkan rezeki kepada mereka, yakni agar mereka gunakan untuk keta’atan dan ibadah kepada-Nya, jika yang dilakukan malah kebalikannya maka sama saja berusaha merusak bumi.

Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur’an / Ustadz Marwan Hadidi bin Musa, M.Pd.I Karena kelakuan mereka yang selalu menampakkan keimanan dan menyembunyikan kekufuran serta menganggap kerusakan mereka sebagai kebaikan, Allah mengingatkan orang-orang mukmin agar tidak tertipu dengan itu semua.

Ingatlah, sesungguhnya merekalah yang berbuat kerusakan.

Diri mereka telah rusak karena keyakinan yang batil dan perbuatan yang jahat.

Mereka pun telah merusak orang lain dengan menyebar fitnah dan memicu konflik di tengah masyarakat.

Tetapi, karena hati yang telah tertutup dan rasa bangga diri yang berlebihan, mereka tidak menyadari kerusakan tersebut dan akibat buruk yang akan menimpa mereka oleh sebab kemunafikan.

Dan apabila dikatakan dan dinasihatkan kepada mereka, berimanlah kamu dengan tulus ikhlas sebagaimana orang lain yang menyambut suara dan seruan akal sehat telah beriman, seperti yang dilakukan para sahabat pengikut nabi Muhammad, mereka menjawab dengan penuh kesombongan dan nada menghina, apakah kami akan beriman seperti orang-orang yang kurang akal itu beriman’ tidak pantas bagi kami untuk mengikuti orang-orang bodoh itu, sebab dengan begitu berarti kami sama bodohnya dengan mereka.

Allah membantah kecongkakan mereka dengan mengingatkan orang orang mukmin, ingatlah, sesungguhnya hanya mereka itulah orang-orang yang kurang akal dan bodoh, tetapi mereka tidak tahu dan tidak sadar bahwa kebodohan dan sifat kurang akal itu ada dalam diri mereka, dan mereka juga tidak menyadari kesesatan mereka itu.

LAPORAN SITUASI SAAT INI             ID-001/IV/2020

Semarang – 

Peristiwa pilu dialami perawat di Kota Semarang. Perawat tersebut dipukul saat gegara mengingatkan pasiennya menggunakan masker saat berobat.

“Saat berobat terlapor diingatkan oleh perawat untuk mengenakan masker justru marah dan memaki serta melakukan pemukulan,” ujar Plt Kapolsek Semarang Timur Iptu Budi Antoro kepada wartawan, Sabtu (11/4/2020).

Kejadian itu terekam di kamera CCTV Klinik Pratama Dwi Puspita Semarang dan videonya viral di media sosial. Dalam video tersebut tampak seorang pria menampar perawat di lobi yang sebelumnya sempat terlihat ada percakapan di antara keduanya.


Baca juga: 3 Terduga Provokator Penolakan Jenazah Perawat Semarang Diamankan Polisi!

Korban yang diketahui berinisial H (30) warga Sendangguwo, Tembalang kemudian melaporkan kejadian itu ke Polsek Semarang Timur. Sedangkan terlapor diketahui berinisial BC. Saat ini polisi masih mengumpulkan keterangan dari korban dan saksi.

Untuk diketahui, dalam laporan korban, tertulis peristiwa terjadi sekitar Kamis (9/4) pukul 09.00 WIB.


Baca juga: Kisah Pilu Penolakan Jenazah Perawat Corona di Semarang

“Masih memeriksa korban dan sejumlah saksi,” kata Budi.

JAMAAH KULTUM PREKWENSI 141.380 MHZ

  1. Yachya Yusliha
  2. Hamba Allah
  3. A.Jimi
  4. Abah kipray
  5. Abag ucing
  6. Abeng
  7. BSU Kake
  8. Abah Tarmedi
  9. Haji Deek
  10. Asep al-Fatih
  11. Euis fatimah
  12. Abuy
  13. Ahmad Barnah
  14. Aki Jilun
  15. Ustadz Abas
  16. Wawan Heriawan
  17. Pak Agus
  18. Pak Hidayat
  19. pak Marzuki
  20. Bu Rosidah
  21. A.Jb
  22. Atmo
  23. Bunda Noor
  24. Bunda Rena
  25. kang Demak
  26. Haji Deden
  27. Haji Fery
  28. Neng Oca
  29. Neng Seni
  30. Mamah Osin
  31. Kang Dedem
  32. Wa Eka
  33. Wa Andar
  34. Abah Giok
  35. Haji Leo
  36. Gun S
  37. kang kobra
  38. Teh Maya
  39. Iwan Hartiwan
  40. kang Obot
  41. Pak Kumis
  42. Hadi Ope
  43. Kang Jeki
  44. Haji Boy
  45. Mamah Emput
  46. Kang Gareng
  47. Mang oyo
  48. Opay
  49. Bah Ekos alias US 2
  50. Oskar
  51. Tatang Imanuel
  52. Pak Hidayat
  53. Pak Ridho
  54. pak Ridwan
  55. Robin
  56. Tatang Cartil
  57. Pak Teguh
  58. Teh Inyoh
  59. kang Wildan
  60. Pak Yunus/odong
  61. Aki duha

memo : yang lainya belum di catat

🙏🙏🙏

Tafsir surat al-baqarah ayat 11

Quran Surat Al-Baqarah Ayat 11 Anda belum mahir membaca Qur’an? Ingin segera bisa? Klik di sini sekarang!

وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ لَا تُفْسِدُوا۟ فِى ٱلْأَرْضِ قَالُوٓا۟ إِنَّمَا نَحْنُ مُصْلِحُونَ

Arab-Latin: Wa iżā qīla lahum lā tufsidụ fil arḍi qālū innamā naḥnu muṣliḥụn

Terjemah Arti:

Dan bila dikatakan kepada mereka: “Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi”.

Mereka menjawab: “Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan”.

Tafsir Quran Surat Al-Baqarah Ayat 11 11. Apabila mereka dilarang membuat kerusakan di muka bumi berupa kekafiran, perbuatan dosa dan lain-lain, mereka mengingkarinya.

Mereka beranggapan bahwa mereka adalah orang-orang yang baik dan selalu menganjurkan perbaikan.

Tafsir Al-Mukhtashar / Markaz Tafsir Riyadh, di bawah pengawasan Syaikh Dr. Shalih bin Abdullah bin Humaid (Imam Masjidil Haram) Apabila mereka dinasehati agar berhenti berbuat kerusakan dimuka bumi dengan perbuatan kekufuran dan perbuatan maksiat dan membocorkan rahasia rahasia kaum mukminin, serta loyalitas terhadap orang-orang kafir, mereka berkata dengan pendustaan dan mendebat “sesunguhnya kami  adalah orang-orang yang melakukan perbaikan”

Setelah Allah mengabarkan apa yang mereka sembunyikan dalam hati mereka, Allah kemudian melanjutkannya dengan menyebutkan tanda yang dapat menunjukkan hakikat mereka.

Allah menjelaskan bahwa jika mereka dilarang berbuat kerusakan yang besar, mereka menyangkal dan mengklaim telah melakukan perbaikan yang besar, dengan firman-Nya: (وإذا قيل لهم) Allah menggunakan kalimat dalam bentuk negasi untuk menunjukkan bahwa mereka menyangkal semua orang yang menasehati mereka, siapapun itu.

Apabila orang-orang munafik tersebut dilarang melakukan kerusakan di bumi, semisal melakukan berbagai kemaksiatan, maka mereka menyombongkan diri dan enggan meninggalkan kemaksiatannya, kemudian mereka mengklaim bahwa mereka adalah orang-orang yang melakukan perbaikan.

Kemudian Allah menjelaskan bahwa mereka adalah orang-orang yang berbuat kerusakan.

Allah menyingkap kedustaan mereka dan menjelaskan bahwa mereka tidak merasa berbuat kerusakan akibat kebodohan mereka.

Allah menyangkal mereka dengan menggunakan kalimat yang ringkas namun lebih tegas daripada yang mereka katakan, sebab ‘tariful musnad’ menunjukkan bahwa ‘musnad’ hanya berlaku pada ‘musnad ilaih’, dengan firman-Nya (ألا إنهم هم المفسدون) -yakni dalam hal ini hanya merekalah yang berbuat kerusakan.

Perbuatan-perbuatan yang mereka bangga-banggakan dan mereka akui merupakan perbuatan yang cerdas dan membangun namun ternyata hanya mengakibatkan kerusakan yang besar, hanya saja mereka tidak menyadarinya karena begitu tersembunyi dan karena penutup yang ada pada hati mereka yang diakibatkan kemunafikan mereka.

Imad Zuhair Hafidz, professor fakultas al-Qur’an Universitas Islam Madinah 11. وَاِذَا قِيْلَ لَهُمْ لَا تُفْسِدُوْا فِى الْاَرْضِۙ (Dan apabila dikatakan kepada mereka, “Janganlah berbuat kerusakan di bumi) Yang disebabkan kenifakan dan perbuatan mereka menjadikan orang-orang kafir sebagai pemimpin dan juga perbuatan memecah belah agar manusia menjauhi Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan al-Qur’an.

Dan jika melakukan perbuatan-perbuatan ini maka rusaklah apa yang ada dibumi dengan kebinasaan dan kehancuran.

Zubdatut Tafsir Min Fathil Qadir / Syaikh Dr. Muhammad Sulaiman Al Asyqar, mudarris tafsir Universitas Islam Madinah 11-12 Tidak semua pengakuan yang dilontar oleh seseorang tentang suatu perkara mesti dibenarkan; karena orang-orang munafiq tatkala mereka berkata :

{ إِنَّمَا نَحْنُ مُصْلِحُونَ }

“sesungguhnya kami adalah orang-orang yang mengadakan perbaikan” , Allah kemudian membantah perkataan mereka dengan firman-Nya :

{ أَلَا إِنَّهُمْ هُمُ الْمُفْسِدُونَ }

“Ketahuilah sesungguhnya mereka itu adalah orang-orang yang mendatangkan kerusakan” ; dan tidak semua apa yang dihiasi oleh jiwa selalu baik; sebagaimana yang difirmankan oleh Allah :

{ أَفَمَنْ زُيِّنَ لَهُ سُوءُ عَمَلِهِ فَرَآهُ حَسَنًا ۖ فَإِنَّ اللَّهَ يُضِلُّ مَنْ يَشَاءُ وَيَهْدِي مَنْ يَشَاءُ }

“Maka apakah orang yang dijadikan (syaitan) menganggap baik pekerjaannya yang buruk lalu dia meyakini pekerjaan itu baik, (sama dengan orang yang tidak ditipu oleh syaitan)? Maka sesungguhnya Allah menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya dan menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya”.

Li Yaddabbaru Ayatih / Markaz Tadabbur di bawah pengawasan Syaikh Prof. Dr. Umar bin Abdullah al-Muqbil, professor fakultas syari’ah Universitas Qashim – Saudi Arabia Jika dikatakan kepada mereka: “Janganlah melakukan kerusakan di bumi dengan berbuat munafik, mengikuti kekafiran, dan mencerai-beraikan orang-orang mukmin!”, mereka akan mengaku bahwa mereka adalah orang-orang yang melakukan pembaruan Tafsir Al-Wajiz / Syaikh Prof. Dr. Wahbah az-Zuhaili, pakar fiqih dan tafsir negeri Suriah Allah menjelaskan bahwasanya orang-orang munafik dikatakan kepada mereka : janganlah kalian merusak di bumi Dengan menyebarkan kekufuran dan kemaksiatan, maka mereka menjawab : mereka hanyalah menginginkan perbaikan dan kebenaran.

An-Nafahat Al-Makkiyah / Syaikh Muhammad bin Shalih asy-Syawi 11. Maksudnya, apabila mereka (orang-orang munafik) dilarang berbuat kerusakan di atas bumi yaitu melakukan kekufuran dan kemaksiatan, dan di antara perbuatan itu adalah menyebarluaskan rahasia-rahasia kaum Mukminin kepada musuh-musuh mereka dan memberikan loyalitas mereka (orang-orang munafik) itu kepada orang-orang kafir, ”mereka menjawab , ’sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan’.” Sehingga mereka mengumpulkan antara merusak di muka bumi dan sikap menampakkan bahwa itu bukanlah suatu tindakan pengrusakan, akan tetapi hal itu adalah perbaikan , sebagai suatu pemutarbalikan fakta dan penyatuan antara perbuatan batil dengan keyakinan bahwa hal itu benar.

Mereka itu lebih besar kejahatannya daripada orang yang melakukan kemaksiatan dengan keyakinan akan keharamannya, maka yang terakhir ini lebih dekat kepada keselamatan dan lebih diharapkan untuk bertaubat.

Dan ketika perkataan mereka, ”sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan “ ini adalah suatu pembatasan terhadap perbaikan hanya dari pihak mereka dan termasuk di dalamnya bahwa kaum Mukminin bukanlah dari orang-orang yang melakukan perbaikan, maka Allah membalikkan anggapan mereka dengan firmanNya, Tafsir as-Sa’di / Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di, pakar tafsir abad 14 H Makna kata : لَا تُفۡسِدُواْ فِي ٱلۡأَرۡضِ : Al-Fasaad fil ardhi yaitu dengan berbuat kekufuran dan berlaku maksiat di bumi.

إِنَّمَا نَحۡنُ مُصۡلِحُونَ

: Al-Islaah fil ardhi maknanya mengadakan perbaikan dengan keimanan yang benar dan amalan shalih, meninggalkan syirik dan dosa-dosa.

Makna ayat : Allah subhanahu wa Ta’ala menyebutkan keadaan orang munafik tatkala ada orang mukmin yang berkata kepadanya “Janganlah berbuat kerusakan di muka bumi” dengan kemunafikan serta berloyalitas kepada kaum yahudi dan orang-orang kafir, mereka menjawab “Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan.”

Menurut persangkaannya. Pelajaran dari ayat : 1. Celaan terhadap penyataan bohong, yang biasanya menjadi karakter orang munafik Aisarut Tafasir / Syaikh Abu Bakar Jabir al-Jazairi, mudarris tafsir di Masjid Nabawi Yakni ketika mereka dinasehati.

Kerusakan yang mereka perbuat di muka bumi bukan berarti kerusakan benda, melainkan dengan melakukan kekafiran dan kemaksiatan, yang di antaranya menyebarkan rahasia kaum muslimin kepada musuh mereka, menghasut orang-orang kafir untuk memusuhi dan menentang orang-orang Islam.

Secara dusta dan bermaksud membantah. Perbuatan yang mereka lakukan itu dengan anggapan mengadakan perbaikan sesungguhnya adalah kerusakan, akan tetapi karena kebodohan dan penentangan mereka membuat mereka tidak menyadari bahwa yang demikian merupakan kerusakan.

Kemaksiatan yang besar adalah kemaksiatan yang dilakukan dengan meyakini benarnya perbuatan itu dan seperti inilah keadaan mereka sehingga sangat sulit untuk rujuk, berbeda dengan kemaksiatan yang dilakukan dengan meyakini salahnya perbuatan itu,

orang yang seperti ini lebih mudah untuk rujuk.

Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur’an / Ustadz Marwan Hadidi bin Musa, M.Pd.I Dan apabila dikatakan dan dinasihatkan kepada mereka, janganlah berbuat kerusakan di bumi, dengan melanggar nilai-nilai yang ditetapkan agama, menghalangi orang dari jalan Allah, menyebar fitnah, dan memicu konflik, mereka justru mengklaim bahwa diri mereka bersih dari perusakan dan tidak bermaksud melakukan kerusakan.

Mereka menjawab, sesungguhnya kami justru orang-orang yang melakukan perbaikan.

Itu semua akibat rasa bangga diri mereka yang berlebihan. Begitulah perilaku setiap perusak yang tertipu oleh dirinya: selalu merasa kerusakan yang dilakukannya sebagai kebaikan.

Karena kelakuan mereka yang selalu menampakkan keimanan dan menyembunyikan kekufuran serta menganggap kerusakan mereka sebagai kebaikan, Allah mengingatkan orang-orang mukmin agar tidak tertipu dengan itu semua.

Ingatlah, sesungguhnya merekalah yang berbuat kerusakan.

Diri mereka telah rusak karena keyakinan yang batil dan perbuatan yang jahat.

Mereka pun telah merusak orang lain dengan menyebar fitnah dan memicu konflik di tengah masyarakat.

Tetapi, karena hati yang telah tertutup dan rasa bangga diri yang berlebihan, mereka tidak menyadari kerusakan tersebut dan akibat buruk yang akan menimpa mereka oleh sebab kemunafikan.

INDAHNYA BANYAK SAUDARA

*ANGGOTA KULTUM 141.380*

001. Yachya Yusliha
002. Hamba Allah
003. A.Jimi
004. Abah kipray
005. Abag ucing
006. Abeng
007. BSU Kake
008. Abah Tarmedi
009. Haji Deek
010. Asep al-Fatih
011. Euis fatimah
012. Abuy
013. Ahmad Barnah
014. Aki Jilun
015. Ustadz Abas
016. Wawan Heriawan
017. Pak Agus
018. Pak Hidayat
019. pak Marzuki
020. Bu Rosidah
021. A.Jb
022. Atmo
023. Bunda Noor
024. Bunda Rena
025. kang Demak
026. Haji Deden
027. Haji Fery
028. Neng Oca
029. Neng Seni
030. Mamah Osin
031. Kang Dedem
032. Dadan
031. Teh Duri
032. Wa Eka
033. Wa Andar
034. Abah Giok
035. Haji Leo
036. Gun S
037. kang kobra
038. Teh Maya
040. Iwan Hartiwan
041. Oyo
042. Pak Kumis
043. Hadi Ope
044. Kang Jeki
045. Haji Boy
046. Mamah Emput
047. Kang Gareng
048. Mang oyo
049. Opay
050. Bah Ekos alias US 2
051. Oskar
052. Tatang Imanuel
053. Pak Hidat
054. Pak Ridho
055. pak Ridwan
056. Robin
057. Tatang Cartil
058.  Pak Teguh
059. Teh Inyoh
060. kang Wildan
061. Pak Yunus/odong

*ALHAMDULILLAH BANYAK SAUDARA* di 141.380 Mhz



Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai