TAFSIR SURAT AL-BAQARAH AYAT 10

Quran Surat Al-Baqarah Ayat 10

Penulis : Ustadz Yachya Yusliha.

فِى قُلُوبِهِم مَّرَضٌ فَزَادَهُمُ ٱللَّهُ مَرَضًا ۖ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌۢ بِمَا كَانُوا۟ يَكْذِبُونَ

Arab-Latin: Fī qulụbihim maraḍun fa zādahumullāhu maraḍā, wa lahum ‘ażābun alīmum bimā kānụ yakżibụn Terjemah Arti:

Dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta.

Tafsir Quran Surat Al-Baqarah Ayat 10 10. Penyebabnya ialah karena di dalam hati mereka terdapat keraguan, maka Allah menambah keraguan itu dengan keraguan lainnya, karena setiap perbuatan akan dibalas dengan perbuatan serupa.

Kelak mereka akan mendapatkan azab yang sangat pedih di kerak neraka yang paling bawah.

Hal itu karena mereka telah berdusta atas nama Allah dan atas nama manusia lainnya.

Dan juga karena mereka mendustakan agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad -ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam-.

Tafsir Al-Mukhtashar / Markaz Tafsir Riyadh, di bawah pengawasan Syaikh Dr. Shalih bin Abdullah bin Humaid (Imam Masjidil Haram) Di dalam hati mereka terdapat keraguan dan kerusakan akibatnya mereka diuji Allah dengan berbuat berbagai macam maksiat yang mewajibkan adanya siksaan bagi mereka, sehingga Allah pun menambah keraguan pada hati mereka dan bagi mereka siksaan yang menyedihkan akibat kedustaan dan kemunafikan mereka.

Kelalaian mereka ini kerena alat yang dapat mereka gunakan untuk memahami dalam keadaan sakit, sehingga penyakit mereka menyibukkannya dari memahami apa yang bermanfaat bagi mereka, dan hanya condong kepada apa yang dapat menyakiti mereka.

Dalam hati mereka terdapat keraguan, kemunafikan, dan kedengkian; akibatnya mereka diganjar dengan berbagai perbuatan maksiat yang layak mendapat balasan siksa, dan bagi mereka azab yang pedih akibat kedustaan mereka.

Tafsir Al-Madinah Al-Munawwarah / Markaz Ta’dzhim al-Qur’an di bawah pengawasan Syaikh Prof. Dr. Imad Zuhair Hafidz, professor fakultas al-Qur’an Universitas Islam Madinah 10.

فِيْ قُلُوْبِهِمْ مَّرَضٌۙ

yang dimaksud dengan penyakit disini adalah kerusakan akidah mereka baik itu disebabkan oleh keraguan, kemunafikan, atau keingkaran.

فَزَادَهُمُ اللّٰهُ مَرَضًا

Yakni dengan bertambahnya kenikmatan-kenikmatan yang senantiasa bertambah kepada Rasulullah baik itu kenikmatan duniawiyah maupun diniyyah maka berbambah pula penyakit mereka, mereka pun dihukum dengan bertambahnya keraguan, kekecewaan, dan kenifakan.

وَلَهُمْ عَذَابٌ اَلِيْمٌ

Yakni azab yang menyakitkan

بِمَا كَانُوْا يَكْذِبُوْنَ

Yakni sebab pengakuan mereka bahwa mereka beriman padahal mereka tidak beriman.

Zubdatut Tafsir Min Fathil Qadir / Syaikh Dr. Muhammad Sulaiman Al Asyqar, mudarris tafsir Universitas Islam Madinah Perhatikanlah firman Allah dalam pensifatan-Nya terhadap orang-orang munafiq :

{ فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ فَزَادَهُمُ اللَّهُ مَرَضًا }

Orang sakit mendapati rasa suatu makanan berbeda dengan rasa yang sebenarnya, dia akan menemukan yang asam menjadi manis, yang manis menjadi pahit, hal ini serupa dengan keadaan orang-orang munafiq yang melihat kebenaran menjadi kebathilan, dan kebathilan seakan-akan menjadi benar.

Li Yaddabbaru Ayatih / Markaz Tadabbur di bawah pengawasan Syaikh Prof. Dr. Umar bin Abdullah al-Muqbil, professor fakultas syari’ah Universitas Qashim – Saudi Arabia Di dalam hati mereka terdapat kerusakan akidah baik keragu-raguan dan kemunafikan ataupun kekufuran dan kedustaan.

Kemudian Allah menambahkan penyakit lain pada (diri) mereka, yaitu dengki dan kebencian terhadap tingginya (derajat) kalam Allah, tetapnya kaidah Islam dan pertolongan (Allah) kepada orang-orang mukmin.

Dan bagi mereka azab yang menyakitkan akibat kebohongan dan keangkuhan mereka dengan berpura-pura beriman Tafsir Al-Wajiz / Syaikh Prof. Dr. Wahbah az-Zuhaili, pakar fiqih dan tafsir negeri Suriah Allah mengabarkan bahwasanya orang-orang munafik terdapat di hatinya keraguan dan kemunafikan ; Bagaimana berkata Ibnu Mas’ud menafsirkan firman Allah : maka Allah menambahkan di dalam hati mereka penyakit , yaitu sebuah keraguan .

Allah juga menjelaskan bahwasanya mereka orang-orang yang munafik pada hari kiamat akan mendapatkan azab pedih karena Sebab mereka mendustakan .

pada ayat ini orang-orang munafik disifati dengan kebodohan bagi mereka , dan juga mereka menolak untuk mengikuti cahaya yang datang pada utusan-utusan Allah untuk mereka , dengan ini pada sebagian mereka ditimpa dengan di kuncinya hati mereka serta terhalanginya mereka dari petunjuk , maka bagaimana azab yang pantas bagi mereka ? An-Nafahat Al-Makkiyah / Syaikh Muhammad bin Shalih asy-Syawi 10. firmanNya, “dalam hati mereka ada penyakit”.

Yang dimaksud dengan penyakit disini adalah penyakit keraguan, syubhat, dan kemunafikan.

Hal itu dikarenakan hati itu dihadapkan oleh dua penyakit yang menyebabkannya jauh dari kesehatannya dan kenormalannya, yaitu penyakit syubhat yang batil dan penyakit syahwat yang menjerumuskan.

Kekufuran, kemunafikan, keragu-raguan, dan semua bid’ah-bid’ah itu adalah penyakit-penyakit syubhat, sedangkan perzinaan, suka akan kekejian dan menyukai kemaksiatan serta melakukannya, adalah di antara penyakit-penyakit syahwat.

Sebagaimana firman Allah ta’ala : ” sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya” (QS. Al-Ahzab : 32) Yakni syahwat zina. Dan orang yang selamat adalah orang yang diselamatkan dari kedua penyakit tersebut, hingga terwujudlah baginya keyakinan, keimanan, dan kesabaran dari setiap kemaksiatan lalu dia berjalan dalam pakaian-pakaian keselamatan.

Dan firmanNYa tentang kaum munafikin, “dalam hati mereka ada penyakit, maka Allah menambah penyakitnya, ” adalah sebuah penjelasan tentang hikmah Allah ta’ala terhadap penentuan kemaksiatan atas pelaku-pelakunya dan bahwasanya hal itu disebabkan dosa-dosa mereka yang terdahulu. Allah menguji mereka dengan kemaksiatan yang terjadi kemudian yang mengakibatkan hukuman.

Sebagaimana firman Allah ta’ala : “Dan (begitu pula) Kami memalingkan hati dan penglihatan mereka seperti mereka belum pernah beriman kepadanya (Al Quran) pada permulaannya, dan Kami biarkan mereka bergelimang dalam kesesatannya yang sangat” (QS. Al-‘An’am : 110) “Maka tatkala mereka berpaling (dari kebenaran), Allah memalingkan hati mereka” (QS. As-Shof :5) “Dan adapun orang-orang yang di dalam hati mereka ada penyakit, maka dengan surat itu bertambah kekafiran mereka, disamping kekafirannya (yang telah ada) dan mereka mati dalam keadaan kafir.” (QS. At-Taubah : 125) Maka hukuman bagi kemaksiatan adalah kemaksiatan setelahnya, sebagaimana balasan kebaikan adalah kebaikan setelahnya.

Allah berfirman : “Dan Allah akan menambah petunjuk kepada mereka yang telah mendapat petunjuk” (QS. Maryam : 76) Tafsir as-Sa’di / Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di, pakar tafsir abad 14 H Makna kata : فِي قُلُوبِهِم مَّرَضٞ Fii quluubihim marodhun : Yakni di dalam hatinya terdapat keraguan, kemunafikan, rasa sakit karena takut rahasianya akan terbongkar sehingga mendapatkan adzab atas dirinya. فَزَادَهُمُ ٱللَّهُ مَرَضٗاۖ Fazaadahumullahu marodho : Artinya ditambah dengan keraguan, kemunafikan, rasa sakit dan ketakutan karena sudah sunatullah bahwa keburukan akan ditambah dengan keburukan. عَذَابٌ أَلِيمُۢ ‘Adzaabun aliim : Yaitu adzab yang amat pedih menimpa jiwa.

Makna ayat : Sebagaimana Allah Ta’ala mengabarkan bahwa dalam hati-hati mereka terdapat penyakit berupa keraguan, kemunafikan, dan ketakutan, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala semakin menambah penyakit yang diderita.

Sebagai bentuk hukuman untuk mereka di dunia, dan Allah mengancam dengan adzab yang pedih di akhirat karena pendustaan dan kekufuran yang mereka lakukan. Pelajaran dari ayat : Keburukan akan melahirkan keburukan yang semisalnya.

Aisarut Tafasir / Syaikh Abu Bakar Jabir al-Jazairi, mudarris tafsir di Masjid Nabawi Yakni keyakinan mereka terdahap kebenaran Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam lemah dan mereka masih ragu-ragu.

Kelemahan dan keragu-raguan keyakinan itu menimbulkan kedengkian, iri-hati dan dendam terhadap Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, agama dan orang-orang Islam, lalu tidak diobati sehingga Allah menambah lagi penyakit terebut. Penyakit yang menimpa hati ada dua; penyakit syubhat dan penyakit syahwat. Kekafiran, kemunafikan, keraguan dan bid’ah merupakan penyakit syubhat, sedangkan kecintaan terhadap perbuatan keji dan maksiat merupakan penyakit syahwat.

Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur’an / Ustadz Marwan Hadidi bin Musa, M.Pd.I Hal itu karena dalam hati mereka ada penyakit, seperti penyakit iri dan dengki kepada orang-orang yang beriman, keraguan terhadap ajaran islam, keyakinan yang keliru, dan lainnya, lalu Allah menambah parah penyakitnya itu dengan kemenangan yang besar bagi orang-orang yang beriman. Kemenangan itu sangat menyakitkan mereka karena rasa iri, dengki, dan sombong yang ada dalam diri mereka. Keraguan mereka pun semakin menjadi.

Dan, sebagai akibatnya, selain menderita di dunia, mereka akan mendapat azab yang pedih, karena mereka berdusta dengan memperlihatkan keimanan padahal hati mereka ingkar.

Dan apabila dikatakan dan dinasihatkan kepada mereka, janganlah berbuat kerusakan di bumi, dengan melanggar nilai-nilai yang ditetapkan agama, menghalangi orang dari jalan Allah, menyebar fitnah, dan memicu konflik, mereka justru mengklaim bahwa diri mereka bersih dari perusakan dan tidak bermaksud melakukan kerusakan.

Mereka menjawab, sesungguhnya kami justru orang-orang yang melakukan perbaikan. Itu semua akibat rasa bangga diri mereka yang berlebihan.

Begitulah perilaku setiap perusak yang tertipu oleh dirinya: selalu merasa kerusakan yang dilakukannya sebagai kebaikan.

TAFSIR SURAT AL-BAQARAH AYAT 9

TAFSIR Tafsir Surat Al-Baqarah Ayat 9

Pagi hari orang munafik bersikap A. Sore hari mereka bersikap B. Sore hari mereka bersikap A. Besok paginya sikap mereka berubah menjadi B.

Mereka berlayar seperti sampan ke mana saja embusan angin laut bertiup.

يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَالَّذِينَ آمَنُوا وَمَا يَخْدَعُونَ إِلَّا أَنْفُسَهُمْ وَمَا يَشْعُرُونَ

Yukhādi‘ūnallāha wal ladzīna āmanū. Wa mā yakhda‘ūna illā anfusahum wa mā yasy‘urūn. Artinya, “Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang beriman.

Mereka tidak menipu kecuali diri mereka sendiri dan mereka tidak menyadarinya.” Ragam Tafsir Ibnu Katsir menafsirkan ayat ini bahwa orang-orang munafik menyatakan keimanan dan menyembunyikan kekufuran pada saat yang bersamaan.

Mereka mengira karena kebodohan telah menipu Allah dan hal itu mendatangkan manfaat untuk mereka. Mereka dengan perbuatan itu tidak memperdaya dan menipu siapapun kecuali diri mereka sendiri. Sedangkan mereka tidak sadar sebagaimana penjelasan Surat An-Nisa ayat 142.

Ibnu Katsir dalam Tafsirul Qur’anil Azhim mengutip Ibnu Abi Hatim dari Juraij yang mengatakan bahwa orang munafik mengucapkan “Lā ilāha illallāh” dengan maksud mengamankan jiwa dan harta mereka. Sebenarnya di dalam hati mereka tidak ada keyakinan demikian.

Ibnu Katsir juga mengutip Sa‘id dari Qatadah yang mengatakan, sifat orang munafik dalam banyak kasus memiliki kecenderungan untuk membenarkan dengan ucapan, mengingkari dengan hati, dan berbuat sesuatu yang berlainan dengan ikrar. Pagi hari mereka bersikap A. Sore hari mereka bersikap B. Sore hari mereka bersikap A. Besok paginya sikap mereka berubah menjadi B.

Mereka berlayar seperti sampan ke mana saja embusan angin laut bertiup. Al-Baghowi mengatakan, kata “al-khada‘” secara bahasa berarti menyembunyikan. Kata ini juga dapat disematkan pada rumah karena rumah menyembunyikan perhiasan di dalamnya.

Kata ini dapat juga disematkan pada lemari. (Al-Baidhawi). Tetapi al-mukhadi‘ adalah orang yang menyatakan apa yang tersembunyi.

(Al-Baghowi, Ma‘alimut Tanzil fit Tafsir wat Ta’wil, [Beirut, Darul Fikr: 2002 M/1422 H], juz I, halaman 25-26). Kata “al-khada‘” oleh Allah pada Surat An-Nisa ayat 182 berarti menyatakan dan menyegerakan nikmat di dunia untuk mereka yang berbeda dari siksa akhirat yang tidak tampak oleh mereka.

Ada ulama memberikan arti kerusakan untuk terjemahan kata “al-khada‘”. Jadi maknanya adalah orang munafik merusak keimanan yang mereka nyatakan dengan kekufuran yang mereka sembunyikan.

Dengan ucapan “kami beriman kepada Allah dan hari akhir” saat berjumpa, orang munafik menipu orang beriman. Padahal, mereka sejatinya tidak beriman. (Al-Baghowi, 2002 M: 26). “Mereka tidak menipu kecuali diri mereka sendiri” karena tindakan penipuan itu akan berpulang kepada mereka sendiri.

Allah memberitahukan kemunafikan mereka kepada Nabi Muhammad SAW sehingga rahasia mereka terkuak dan mereka berhak menerima siksa di akhirat. “Mereka tidak menyadarinya” mereka tidak tahu bahwa mereka hanya menipu diri sendiri dan dampak atas penipuan mereka akan berpulang kepada mereka sendiri.

(Al-Baghowi, 2002 M: 26). Al-Baidhawi mengatakan, penyamaran orang munafik bertujuan untuk menyelematkan diri dari ekses seperti yang dialami oleh orang kafir selain mereka. Mereka juga melakukan hal itu untuk mendapatkan kemuliaan dan pemberian sebagaimana yang didapatkan oleh orang beriman.

Mereka dapat bergaul bebas dengan orang beriman, mengetahui rahasia mereka, dan menyebarkan rahasia tersebut kepada lawan perang serta berbagai maksud dan tujuan lain.

(Al-Baidhawi, Anwarut Tanzil wa Asrarut Ta’wil, [Beirut, Darul Fikr: tanpa tahun], juz I, halaman 79-80). Penipuan orang munafik akan menjadi senjata makan tuan. Mudharatnya berpulang kepada mereka sendiri.

Mereka menipu diri sendiri karena terpedaya oleh tindakan tersebut.

Nafsu telah membutakan mereka karena membisikkan angan-angan kosong dan membawa mereka untuk menipu Allah, Zat yang bagi-Nya tiada yang tersembunyi. “Mereka tidak menyadarinya” maksudnya mereka tidak merasakannya karena terus-menerus dalam kelalaian.

(Al-Baidhawi, tanpa tahun: 80). “Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang beriman” dengan menyatakan sikap yang berbeda dengan kekufuran yang mereka sembunyikan agar mereka dapat terbebas dari hukum duniawi.

TATA CARA NISFU SYA’BAN

Begini Tata Cara Shalat Nisfu Syaban Lengkap dengan Niat dan Doanya

Begini Tata Cara Shalat Nisfu Syaban Lengkap dengan Niat dan Doanya

Bulan Syaban merupakan bulan yang mulia bagi seluruh umat muslim. Pasalnya, bulan yang jatuh di antara bulan Rajab dan Ramadan ini menjadi kesempatan bagi semua umat muslim untuk mendapatkan ampunan seluas-luasnya dan terbukanya pintu rahmat dari Allah SWT.

Dalam sejarah Islam, banyak peristiwa besar yang terjadi pada bulan Syaban. Seperti, peristiwa pemindahan arah kiblat dari Masjidil Aqsa menuju Kabah, serta waktu diangkatnya catatan amal manusia. Adanya peristiwa besar ini tidak heran jika bulan Syaban disebut sebagai bulan yang penuh rahmat.

Semua umat muslim pun dianjurkan memperbanyak amalan sunah, untuk mendapatkan rahmat dan keutamaan bulan Syaban. Amalan sunah tersebut dapat dilakukan di malam puncak bulan Syaban, atau malam Nifsu Syaban. Di mana pada tahun ini, malam Nifsu Syaban jatuh pada tanggal 8 – 9 April 2020.

Untuk mendapatkan keutamaan malam Nifsu Syaban ini, seluruh umat muslim dapat melakukan beberapa amalan sunah. Mulai dari puasa sunah Nifsu Syaban, doa, juga istighfar. Bukan hanya itu, umat muslim dianjurkan untuk menunaikan ibadah sholat sunah Nifsu Syaban untuk menambah amalan dan memperkuat keimanan.

Berikut rangkuman tata cara sholat Nifsu Syaban berserta niat dan doa untuk Anda.1 dari 3 halaman

Tata Cara Sholat Nifsu Syaban

ilustrasi sholat

Berikut beberapa langkah sholat Nifsu Syaban berserta niat dan doanya:

1. Membaca Niat.

Bacaan niat sholat sunah Nisfu Syaban sebagai berikut:

“Usholli sunnatan nisfu sya’baana rak’ataini lillahi ta’ala”

Artinya: “Saya sholat sunnat Nisfu Sya’ban dua rakaat karena Allah Ta’ala”

Jika mengerjakannya pada malam hari, bacaan niatnya sebagai berikut:

“Usholli sunnata lailati nisfu sya’baana rok’ataini lillahi ta’alaa”

Artinya: “Saya shalat sunnat malam Nisfu Sya’ban dua rakaat karena Allah Ta’ala”
Takbiratul Ikhram, mengangkat kedua tangan ke atas sejajar telinga dengan membaca bacaan Allahu akbar.”

2. Membaca bacaan doa Iftitah, Al Fatihah, dan surat Pendek. Diutamakan membaca QS. Al Kafirun.

3. Rukuk, dengan membaca doa rukuk.
4. Itidal, dengan membaca doa Itidal.
5. Sujud, dengan membaca doa sujud.
6. Duduk di antara dua sujud, dengan membaca bacaan doanya.
7. Sujud kedua.
8. Berdiri menunaikan rakaat kedua.
9. Membaca Al Fatihah, kemudian diutamakan membaca QS. Al Ikhlas setelah Al Fatihah.
11. Duduk tahiyat akhir.
12. Mengucap salam.2 dari 3 halaman

Doa Setelah Sholat Nifsu Syaban

ilustrasi sholat

Setelah selesai menunaikan sholat Nifsu Syaban, dianjurkan untuk membaca QS. Yasin sebanyak 3 kali dengan niat dari dalam hati. Pada Surat Yasin pertama, niat dilakukan untuk memohon umur panjang semata-mata hanya beribadah kepada Allah SWT.

Kemudian, pada Surat Yasin kedua, niat ditujukan untuk memohon rezeki yang halal untuk bekal beribadah kepada Allah SWT.

Lalu memasuki Surat Yasin ketiga, niat dilakukan untuk memohon keteguhan iman dari Allah SWT.3 dari 3 halaman

Doa Malam Nifsu Syaban

ilustrasi sholat dhuha

“Allaahumma yaa dzal manni walaa yumannu alaika ya dzal jalaali wal ikraam, Yaa dzath thauli wal in aam laa ilaaha illaa anta, dhahrul laajiin, Wa jaarul Mustajiiriin, Wa amaanul khaa ifiin.

Allahumma in kunta katabta nii indaka fii ummil kitaabi syaqiyyan aw mahruuman aw mathruudan aw muqtarran alayya fir rizqi famhu.

Allaahumma bi fadllika syaqaawatii wa hirmaanii wa thardii waq titaari rizqii wa ats-bitnii indaka fii ummil kitaabi sa ‘iidan marzuuqan muwaf faqal lil khairaat. Fa innaka qulta wa qaulta wa qaulukal haqqu fii kitaabikal munazzali ‘alaa nabiyyikal mursali, yamhul laahumaa yasyaa u wa yutsbitu wa indahuu ummul kitaabi.

Ilaahii bittajallil Aadhami fii lailatin nishfi min syahri syabaanil mukarramil latii yufraqu fiihaa kullu amrin hakiim wa yubram ishrif annii minal balaa i maa alamu wa maa laa alam wa anta allaamul ghuyuubi birahmatika yaa arhamar raahimiin.

Wa sallallaahu ‘alaa sayyidinaa Muhammadiw wa ‘alaa aalihii wa sahbihi wa sallama.”

Artinya:

“Ya Allah Tuhanku, wahai Yang memiliki anugerah dan tiada yang memberi anugerah kepada-Mu, wahai Yang mempunyai keagungan dan kemuliaan, wahai yang mempunyai kekuasaan dan yang memberi nikmat, tiada Tuhan yang berhak di sembah kecuali Engkau, tempat bernaung bagi orang-orang yang mengungsi, tempat berlindung bagi orang-orang yang memohon perlindungan dan tempat yang aman bagi orang-orang yang ketakutan.
Ya Allah Tuhanku, jika Engkau telah menetapkan diriku di dalam Ummul Kitab (Lauh Mahfuz) yang berada di sisi-Mu sebagai orang yang celaka, terhalang, terusir atau disempitkan rezekinya sudilah kiranya Engkau menghapuskan.

Ya Allah Tuhanku, berkat karunia-Mu apa yang ada dalam Ummul Kitab yaitu perihal diriku sebagai orang yang celaka, terhalang, terusir dan sempit rezeki. Dan sudilah kiranya Engkau menetapkan di dalam Ummul Kitab yang ada di sisi-Mu agar aku menjadi orang yang berbahagia, mendapat rezeki yang banyak lagi beroleh kesuksesan dalam segala kebaikan. karena sesungguhnya Engkau telah berfirman di dalam kitab-Mu dan firman-Mu adalah benar yang diturunkan melalui lisan Nabi yang Engkau utus, Allah menghapuskan apa yang Dia kehendaki dan menetapkan, dan di sisi-Nya ada Ummul Kitab.

Ya Tuhanku, Berkat penampilan yang maha besar (dari rahmat-Mu) pada malam pertengahan bulan sya’ban yang mulia ini diperincikanlah segala urusan yang ditetapkan dengan penuh kebijaksanaan. Sudilah kiranya Engkau menghindarkan diriku dari segala bencana yang aku ketahui dan yang tidak ku ketahui serta yang lebih Kau ketahui (dari diriku), dan Engkau Maha Mengetahui segala yang gaib, berkat rahmat-Mu wahai yang maha penyayang diantara para penyayang.

Dan semoga Allah melimpahkan rahmat kepada junjungan kita Nabi Muhammad beserta keluarga dan para sahabatnya, semoga Dia melimpahkan salam sejahtera (kepada mereka).”

TAFSIR SURAT AL-BAQARAH AYAT 8

Quran Surat Al-Baqarah Ayat 8

! وَمِنَ ٱلنَّاسِ مَن يَقُولُ ءَامَنَّا بِٱللَّهِ وَبِٱلْيَوْمِ ٱلْءَاخِرِ وَمَا هُم بِمُؤْمِنِينَ Arab-Latin:

Wa minan-nāsi may yaqụlu āmannā billāhi wa bil-yaumil-ākhiri wa mā hum bimu`minīn Terjemah Arti:

Di antara manusia ada yang mengatakan: “Kami beriman kepada Allah dan Hari kemudian,” pada hal mereka itu sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman.

Tafsir Quran Surat Al-Baqarah Ayat 8 8.

Dan di antara manusia ada golongan yang mengaku bahwa mereka beriman.

Mereka mengatakan hal itu dengan mulut mereka semata-mata karena mereka mencemaskan keselamatan jiwa dan harta benda mereka.

Padahal di dalam batin mereka tersimpan kekafiran.

Tafsir Al-Mukhtashar / Markaz Tafsir Riyadh, di bawah pengawasan Syaikh Dr. Shalih bin Abdullah bin Humaid (Imam Masjidil Haram) Di antara manusia ada sekelompok orang yang bimbang dan bingung antara menjadi bagian dari orang-orang yang beriman atau menjadi bagian dari orang-orang yang kufur.

dan mereka itu adalah orang-orang munafik yang dengan lisan mereka mengatakan “kami membenarkan kepada Allah dan hari akhir” sedangkan secara batin mereka berdusta dan tidak beriman.

Tafsir Al-Muyassar / Kementerian Agama Saudi Arabia 8-9. Mereka adalah jenis manusia yang munafik, hal ini sebagaimana yang Allah sebutkan dalam awal surat al-Munafiqun:

إذا جاءك المنافقون قالوا نشهد إنك لرسول الله

Apabila orang-orang munafik datang kepadamu (Muhammad), mereka berkata, “Kami mengakui, bahwa engkau adalah rasul Allah.” (al-Munafiqun: 1) Dan Allah berfirman pula:

إن المنافقين يخادعون الله وهو خادعهم

Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. (an- Nisa: 142) Dalam ayat-ayat tersebut Allah memperingatkan kita dari tipu daya mereka.

Sebab mereka berucap “kami beriman kepada Allah dan hari akhir”, namun keimanan mereka hanya di mulut saja tanpa merasuk ke dalam hati mereka.

Mereka adalah orang-orang pendusta, bukan orang-orang yang beriman.

Dan kedustaan mereka ini untuk menipu Allah dan orang-orang beriman dengan menyembunyikan kekafiran dan menunjukkan keimanan mereka, padahal mudharat perbuatan tersebut hanya kembali kepada mereka, dan mereka tidak merasakan hal itu karena besarnya kebodohan mereka.

Tafsir Al-Madinah Al-Munawwarah / Markaz Ta’dzhim al-Qur’an di bawah pengawasan Syaikh Prof. Dr. Imad Zuhair Hafidz, professor fakultas al-Qur’an Universitas Islam Madinah

8. وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَقُولُ آمَنَّا بِاللَّهِ وَبِالْيَوْمِ الْآخِرِ وَمَا

هُمْ بِمُؤْمِنِينَ

dalam surat ini Allah Ta’ala menyebutkan orang-orang mukmin yang sebenar-benarnya, kemudian menyebutkan setelahnya orang-orang orang-orang kafir yang sebenar-benarnya, lalu menyebutkan setelahnya orang-orang munafik yakni orang-orang yang tidak termasuk dalam dua kelompok yang disebutkan sebelumnya dan menjadi kelompok ketiga karena mereka secara kasat mata menyerupai kelompok pertama dan secara batin menyerupai kelompok kedua, akan tetapi mereka pada akhirnya adalah para penghuni kerak neraka.

Zubdatut Tafsir Min Fathil Qadir / Syaikh Dr. Muhammad Sulaiman Al Asyqar, mudarris tafsir Universitas Islam Madinah Dalam ayat ini pengulangan beberapa lafazh dengan huruf ( ب ) dengan ‘athof terjadi beberapa kali, hal ini tidak lain kecuali sebagai penekanan atas kebenaran lafzh itu, adapun ayat ini adalah hikayah tentang ucapan orang-orang munafiq, mereka menekankan ucapan mereka atas keimanan sebagai penafian dari keraguan dan menjauh dari tuduhan, akan tetapi Allah mengingkari pernyataan mereka atas keimanan dengan penekanan yang lebih besar, Allah befirman : { وَمَا هُمْ بِمُؤْمِنِينَ } “pada hal mereka itu sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman”. Li Yaddabbaru Ayatih / Markaz Tadabbur di bawah pengawasan Syaikh Prof. Dr. Umar bin Abdullah al-Muqbil, professor fakultas syari’ah Universitas Qashim – Saudi Arabia Setelah menyebutkan ciri-ciri orang mukmin dan orang kafir, Allah SWT menyebutkan ciri-ciri orang munafik. Mereka adalah orang-orang yang menampakkan keislamannya dan menyembunyikan kekafirannya.

Mereka bukanlah orang-orang mukmin, dan (tempat) mereka di neraka paling bawah Tafsir Al-Wajiz / Syaikh Prof. Dr. Wahbah az-Zuhaili, pakar fiqih dan tafsir negeri Suriah Allah mengabarkan akan pembagian manusia yang keras terhadap Islam dari orang-orang kafir , yaitu mereka golongan orang-orang munafik yang berkata : sesungguhnya mereka beriman kepada Allah dan rasulnya serta hari akhir , dan mereka berdusta kepada Allah maka Allah mengabarkan bahwasanya mereka bukanlah termasuk orang-orang yang beriman , dan mereka menyembunyikan kekufuran dan terhadap orang-orang muslim.

An-Nafahat Al-Makkiyah / Syaikh Muhammad bin Shalih asy-Syawi 8-9. ketahuilah bahwasanya kemunafikan itu adalah menampakkan kebaikan dan menyembunyikan kejahatan, termasuk dalam definisi ini kemunafikan I’tiqad dan kemunafikan amaliah.

Adapun nifaq Amali seperti yang Nabi sebutkan dalam sabdanya : “tanda kemunafikan itu ada tiga:

jika berbicara ia berdusta, jika berjanji dia ingkari dan jika dimanahi dia berkhianat”.

Dalam riwayat yang lain “jika bertengkar dia berlebihan:. Adapun kemunafikan I’tiqadiah yang mengeluarkan seseorang dari islam yaitu yang Allah ta’ala sebutkan sebagai sifat-sifat kaum munafikin dalam surat ini dan surat lainnya.

Kemunafikan ini belumlah muncul sebelum hijrahnya Nabi sholallohu ‘alaihi wasallam dari Makkah menuju Madinah bahkan juga setelah hijrah hingga setelah kejadian perang Badar, dan Allah memberikan kemenangan kepada kaum Muslimin dan memuliakan mereka, dan menghinakan orang-orang yang ada di Madinah dari mereka yang belum masuk islam, lalu sebagian mereka menampakkan keislaman mereka Karena takut dan sebagai tipu daya, juga untuk menjaga darah dan harta mereka., imana mereka ini bersama kaum Muslimin secara lahiriyah, mereka menampakkan bahwa mereka adalah bagian kaum Muslimin, padahal mereka pada hakikatnya bukanlah dari kaum Muslimin.

Maka sebagai tindakan kelembutan Allah bagi kaum Mukminin adalah bahwa Allah memperlihatkan kondisi-kondisi mereka, dan menggambarka mereka dengan sifat-sifat yang membedakan jati diri mereka, agar kaum Mukminin tidak terperdaya oleh mereka, dan mampu mengendalikan kejahatan mereka.

Allah berfirman : ” Orang-orang munafik takut akan turun terkait kelakuan mereka suatu surat yang menerangkan apa yang mereka sembunyikan di dalam hati-hati mereka berupa kekafiran. ” (QS. At-Taubah : 64) Lalu Allah menyifati mereka dengan sifat dasar kemunafikan seraya berfirman “ diantara manusia ada yang mengatakan, ’kami beriman kepada Allah dan Hari Kemudian, ’padahal mereka itu sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman, ” karena mereka mengatakan dengan lisan mereka apa yang tidak ada dalam hati mereka, lalu Allah mendustakan mereka dengan berfirman, “padahal mereka itu sesungguhhnya bukan orang-orang yang beriman, ” karena keimanan yang hakiki itu adalah sesuatu yang disepakati oleh hati dan lisan.

Sesungguhnya hal yang tadi itu adalah tipu daya terhadap Allah dan hamba-hambaNya yang beriman.

Dan tipu daya itu adalah bahwa si pelaku menampakkan sesuatu kepada yang diperdayai dan dia menyembunyikan hal yang berbeda dengannya demi memperoleh yang diinginkannya dari orang yang diperdayai tersebut.

Dan inilah yang dilakukan orang-orang munafik terhadap Allah dan hamba-hambaNya, sehingga tipudaya mereka tersebut kembali kepada diri mereka sendiri.

Ini adalah suatu perkara yang mengherankan sekali, karena biasanya seorang pelaku tipu daya itu kondisinya bisa jadi akan memperoleh apa yang menjadi tujuannya atau dia selamat yang mana dia tidak mendapatkan apa-apa dan tidak rugi apa-apa juga, namun lain halnya tipu daya orang-orang munafik ini, ia malah kembali kepada diri mereka sendiri.

Oleh Karena itu, seolah-olah mereka itu melakukan suatu makar untuk menghancurkan diri mereka sendiri, membahayakan dan menipu diri mereka, karena Allah tidaklah tersentuh oleh mudarat sedikitpun dari tipu daya mereka, demikian juga hamba-hambaNya yang beriman.

Maka tindakan kaum munafik menampakkan keimanan mereka tidak membawa dampak bagi kaum Muslimin, hingga selamatlah dengan hal itu harta-harta mereka, dan terjaga darah-darah mereka, dan tipu daya mereka kembali kepada leher-leher mereka, hingga dengan demikian mereka mendapatkan kehinaan dan cela di dunia, serta kemalangan yang terus menerus disebabkan oleh apa yang diperoleh kaum Mukminin berupa kekuatan dan kemenangan, kemudian pada hari Akhir nanti mereka mendapatkan azab yang pedih lagi menyakitkan dan menyerikan disebabkan oleh pendustaan, kekufuran dan kejahatan mereka dan keadaanya saat ini adalah bahwa mereka dengan kebodohan dan kedunguan yang ada pada mereka, mereka tidak menyadari hal tersebut.

Tafsir as-Sa’di / Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di, pakar tafsir abad 14 H Makna kata : وَمِنَ ٱلنَّاسِ Wa minannaasi : artinya dari sebagian manusia مَن يَقُولُ ءَامَنَّا بِٱللَّهِ Man yaquulu aamannaa billahi : Di antara mereka ada yang berkata,”Kami membenarkan Allah sebagai Tuhan dan sesembahan, tidak ada Tuhan dan sesembahan selain-Nya.” وَبِٱلۡيَوۡمِ ٱلۡأٓخِرِ Wa bil yaumil aakhiri : Maknanya perkataan mereka,”Kami beriman dengan adanya kebangkitan dan pembalasan pada hari kiamat nanti.” Makna ayat :

Setelah Allah Ta’ala menyebutkan golongan orang yang sempurna keimanannya, dan menyebutkan juga lawan dari orang mukmin yaitu golongan orang kafir yang tenggelam dalam kekufurannya, maka Allah menyebutkan golongan yang ketiga yaitu orang-orang munafik.

Mereka adalah orang yang menampakkan keimanan secara lahir namun dalam hatinya menyimpan kekufuran.

Mereka itu lebih buruk dibandingkan orang kafir yang sudah tenggelam dalam kekufurannya.

Pelajaran dari ayat : Peringatan agar tidak melakukan kedustaan, kemunafikan, dan tipu daya Aisarut Tafasir / Syaikh Abu Bakar Jabir al-Jazairi, mudarris tafsir di Masjid Nabawi Mereka adalah orang-orang munafik yang luarnya menampakkan keislaman, namun batinnya kafir.

Kemunafikan ini adalah kemunafikan besar yang terkait dengan akidah dan mengeluarkan pelakunya dari Islam.

Berbeda dengan kemunafikan kecil yang terkait dengan amalan, ia tidaklah mengeluarkan pelakunya dari Islam namun sebagai wasilah/sarana yang bisa mengarah kepada kemunafikan besar, misalnya bila bicara berdusta, bila berjanji mengingkari, bila diamanahkan berkhianat, malas beribadah, berat melaksanakan shalat berjama’ah dsb.

Di antara kelembutan Allah Ta’ala kepada kaum mukminin adalah ditampakkan-Nya kepada kaum mukminin hal-ihwal serta sifat mereka yang membedakan dengan yang lain agar kaum mukminin tidak tertipu oleh mereka.

Mereka dikatakan “tidak beriman” karena iman yang sesungguhnya adalah pengakuan lisan yang dibenarkan oleh hati dan dipraktekkan oleh anggota badan, jika tidak seperti itu sama saja hendak menipu.

Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur’an / Ustadz Marwan Hadidi bin Musa, M.Pd.I Dan selanjutnya disebutkan kelompok manusia yang ketiga dalam menyikapi kebenaran petunjuk Al-Qur’an, yaitu di antara manusia yang ingkar seperti disebut sebelumnya ada sekelompok orang yang mengatakan sesuatu yang sesungguhnya tidak lahir dari dalam hati nurani.

Mereka berkata, kami hanya beriman kepada Allah dengan segala keagungan-Nya dan kami juga beriman kepada hari akhir yang diingkari oleh orang-orang kafir, padahal sesungguhnya mereka itu tidak jujur dalam mengatakan itu sehingga mereka bukanlah termasuk golongan orang-orang yang beriman.

Kelompok ketiga ini jauh lebih berbahaya daripada yang secara terang-terangan menolak (kafir), sebab mereka menampakkan diri seperti kawan padahal sesungguhnya mereka adalah lawanmereka menduga, dengan mengatakan seperti itu, telah berhasil menipu Allah dengan menganggap Allah tidak mengetahui rahasia yang mereka sembunyikan, padahal Allah maha mengetahui segala yang tersembunyi dan yang tampak; dan mereka juga merasa telah berhasil menipu orang-orang yang beriman, dengan berpura-pura beriman, padahal mereka hanyalah menipu diri sendiri tanpa mereka sadari.

Sebab akibat buruk perbuatan mereka itu, cepat atau lambat, akan kembali kepada mereka sendiri.

SIPAT JALMA KAPIR

SIFAT-SIFAT ORANG-ORANG KAFIR

Muhammad al-Qâsim Allâh Subhanahu wa Ta’ala menciptakan makhluk dengan qudrah-Nya, kemudian dengan anugerah-Nya, Allah Azza wa Jalla memberikan hidayah kepada siapa yang dikehendaki-Nya; dan dengan keadilan-Nya, Allah Azza wa Jalla menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya. Semua ini tertulis pada lauhul mahfûdz. Allâh berfirman : هُوَ الَّذِي خَلَقَكُمْ فَمِنْكُمْ كَافِرٌ وَمِنْكُمْ مُؤْمِنٌ ۚ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ Dia-lah yang menciptakan kamu maka di antara kamu ada yang kafir dan di antaramu ada yang mukmin. dan Allâh Maha melihat apa yang kamu kerjakan.” [at-Taghâbun/64 : 2] Allah Azza wa Jalla telah menjelaskan jalan orang-orang yang mendapatkan kebahagiaan serta orang-orang yang celaka. Allah Azza wa Jalla memuji para hamba yang bertakwa dan mencela orang-orang kafir. Allah Azza wa Jalla juga mengingatkan para hamba-Nya agar tidak latah meniru sifat-sifat orang kafir. Dalam al-Qur’ân banyak penjelasan tentang perbuatan dan keyakinan rusak orang-orang kafir serta perangai dan sifat-sifat mereka yang buruk. Diantaranya, mengingkari hari kebangkitan dan menganggapnya mustahil, tidak beriman kepada takdir, mengeluh dan berkeluh kesah ketika tertimpa musibah, tidak punya harapan kepada Allah Azza wa Jalla , dusta, sombong, berpaling dari ayat-ayat-Nya, hati mereka penuh hasad (rasa iri) terhadap kaum Mukminin yang telah mendapatkan nikmat iman dan mereka berharap nikmat iman itu sirna dari kaum Muslimin. Hasad inilah yang mendorong mereka berusaha menyesatkan orang beriman. Allah Azza wa Jalla berfirman : وَدُّوا لَوْ تَكْفُرُونَ كَمَا كَفَرُوا فَتَكُونُونَ سَوَاءً Mereka ingin supaya kamu menjadi kafir sebagaimana mereka telah menjadi kafir, lalu kamu menjadi sama (dengan mereka).[an-Nisâ/4:89] Tak henti-hentinya, orang-orang kafir membuat makar dan menipu kaum Muslimin, berusaha mencelakakan dan merampas kenikmatan dari kaum Muslimin. Mereka berpura-pura amanah, berprilaku dan berperangai terpuji supaya bisa mengambil manfaat dibalik semua ini. Namun, Allah Azza wa Jalla membongkar kedok mereka. Allah Azza wa Jalla berfirman, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا بِطَانَةً مِنْ دُونِكُمْ لَا يَأْلُونَكُمْ خَبَالًا وَدُّوا مَا عَنِتُّمْ قَدْ بَدَتِ الْبَغْضَاءُ مِنْ أَفْوَاهِهِمْ وَمَا تُخْفِي صُدُورُهُمْ أَكْبَرُ ۚ قَدْ بَيَّنَّا لَكُمُ الْآيَاتِ “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil orang-orang yang di luar kalanganmu menjadi teman kepercayaanmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu. mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar lagi.” [Ali Imrân/3:118)] Membungkus kedustaan dengan kejujuran, khianat dengan amanah, sering membela kebatilan dan menyembunyikan kebenaran. Meski tipu daya mereka terhadap kaum Muslimin sangat luar biasa, namun Allah Azza wa Jalla tidak akan tinggal diam. Allah Azza wa Jalla pasti akan menghancur leburkan tipu daya mereka serta akan merendahkan dan menghinakan mereka. Allah melarang rasul-Nya mentaati orang-orang kafir. Allah Azza wa Jalla berfirman : يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ اتَّقِ اللَّهَ وَلَا تُطِعِ الْكَافِرِينَ وَالْمُنَافِقِينَ Hai Nabi, bertakwalah kepada Allâh dan janganlah kamu menuruti (keinginan) orang-orang kafir dan orang-orang munafik. [al-Ahzâb/33:1] Karena ilmu mereka hanya sebatas dunia. Syaikhul Islam Ibnu Taymiyyah rahimahullah mengatakan, “Seluruh amalan dan urusan orang kafir pasti ada cacatnya sehingga manfaatnya tidak pernah maksimal.” Orang-orang kafir tidak tahu menahu ilmu akhirat. Allah Azza wa Jalla berfirman : يَعْلَمُونَ ظَاهِرًا مِنَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ عَنِ الْآخِرَةِ هُمْ غَافِلُونَ Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia; sedang mereka tentang (kehidupan) akhirat adalah lalai.” [ar-Rûm/30:7] Mereka hidup penuh kebingungan dan kebimbangan. Tujuan yang selalu mereka kejar dalam hidup hanya sebatas bersenang-senang, makan dan minum, tanpa peduli halal dan haram. Orang-orang kafir itu selalu menghalangi perbuatan baik, tidak bisa berterima kasih dan mengkonsumsi barang haram. Allâh berfirman : يَعْرِفُونَ نِعْمَتَ اللَّهِ ثُمَّ يُنْكِرُونَهَا وَأَكْثَرُهُمُ الْكَافِرُونَ Mereka mengetahui nikmat Allâh, kemudian mereka mengingkarinya dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang kafir. [an-Nahl/16:83] Mereka hidup dalam kegelapan, kesesatan serta hanya memperturutkan hawa nafsu. Anggota tubuh yang mestinya merupakan sarana menggapai hidayah sudah tidak berfungsi lagi. Hati mereka mati, telinga mereka tuli dan mata mereka buta, tidak mau mendengar dan melihat kebenaran. Setan menggiring mereka untuk selalu bermaksiat dan mencari kesenangan-kesenangan nafsu sesaat. Sehingga apa yang mereka lakukan seperti debu yang berterbangan. Amal kebaikan mereka tidak berguna. Di dunia mereka letih dan di akherat mereka akan merintih tersiksa. Allâh tidak mencintai mereka bahkan Allah Azza wa Jalla mengkhabarkan bahwa Dia musuh orang-orang kafir. Jika Allah Azza wa Jalla benci terhadap seorang hamba, Dia memanggil malaikat Jibril Alaihissallam, “Wahai Jibril sesunggunya Aku benci kepada Fulan, maka bencilah dia ! Dan Jibril pun membencinya. Kemudian Jibril menyeru seluruh penduduk langit bahwa Allah Azza wa Jalla membenci Fulan, maka bencilah dia ! Maka penghuni langit pun membencinya. Kemudian ditetapkan baginya kebencian di muka bumi.” [HR. Bukhâri dan Muslim] Jiwa orang kafir menjerit pedih akibat dosa-dosa yang telah ia perbuat dan karena jauh dari Allah Azza wa Jalla , dadanya terasa sesak serta tidak pernah merasakan manisnya iman. Laknat dan murka menimpa mereka. Mereka adalah makhluk Allâh yang paling buruk. Allah Azza wa Jalla berfirman : إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَالْمُشْرِكِينَ فِي نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا ۚ أُولَٰئِكَ هُمْ شَرُّ الْبَرِيَّةِ Sesungguhnya orang-orang yang kafir yakni ahli kitab dan orang-orang yang musyrik (akan masuk) ke neraka Jahannam; mereka kekal di dalamnya. Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk. [al-Bayyinah/98 : 6] Kematian seorang kafir akan menimbulkan ketenangan dan ketentraman bagi penduduk dunia. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ketika melihat rombongan membawa jenazah : الْعَبْدُ الْمُؤْمِنُ يَسْتَرِيحُ مِنْ نَصَبِ الدُّنْيَا وَأَذَاهَا إِلَى رَحْمَةِ اللَّهِ وَالْعَبْدُ الْفَاجِرُ يَسْتَرِيحُ مِنْهُ الْعِبَادُ وَالْبِلَادُ وَالشَّجَرُ وَالدَّوَابُّ Hamba yang beriman akan istirahat dari keletihan dan derita dunia menuju rahmat Allah sementara hamba yang fâjir (bergelimang maksiat, jika dia mati-red) maka manusia, negeri, pepohonan dan binatang melata akan terbebas dari keburukannya [HR. Bukhâri] Pada hari kiamat, orang-orang kafir akan dibangkit untuk dihisab dengan wajah hitam pekat, berdebu serta bermuka masam. Kedua mata mereka terbelalak karena terperangah kaget dan takut; leher mereka terikat dengan rantai sebagai balasan yang setimpal. Inilah ini sebagian dari sifat-sifat buruk orang-orang kafir beserta balasan yang akan mereka terima. Keburukan yang bertumpuk-tumpuk tanpa henti, maka hendaklah kita berhati-hati dan tetap menjaga diri kita agar tidak terjerumus kedalam kekufuran. Kepedihan akibat dari sifat-sifat buruk mereka, hendaknya kita jadikan pelajaran berharga agar tidak mudah membeo prilaku mereka yang terkadang menipu dan tidak mudah mengamini ucapan-ucapan dan janji-janji manis mereka. Ingatlah sabda nabi kita Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam : بَادِرُوْا بِالْأَعْمَالِ فِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ, يُصْبِحُ الرَّجُلُ مُؤْمِنًا وَيُمْسِيْ كَافِرًا, وَيُمْسِيْ مُؤْمِنًا وَيُصْبِحُ كَافِرًا, يَبِيْعُ دِيْنَهُ بِعَرَضٍ مِنَ الدُّنْيَا قَلِيْل Bersegeralah melakukan amal shaleh sebelum datangnya fitnah seperti malam gelap gulita; pada pagi hari seseorang beriman dan sore harinya menjadi kafir, atau sore hari dia mu’min kemudian pada pagi harinya menjadi kafir. Dia menjual agamanya dengan sedikit dari dunia [HR Ahmad] Dan hendaklah kita senantiasa waspada agar tidak terjebak arus mengikuti orang-orang kafir. Marilah kita senantiasa mengikuti jalannya orang-orang yang bertakwa. Shalat yang menjadi batas antara keimanan dengan kekufuran, batas antara keimanan dan kemunafikan, hendaklah senantiasa dijaga dan dilaksanakan dengan cara berjama’ah di masjid-masjid. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : الْعَهْدُ الَّذِي بَيْنَنَا وَبَيْنَهُمْ الصَّلَاةُ فَمَنْ تَرَكَهَا فَقَدْ كَفَرَ Pembatas antara kita dan mereka adalah shalat. Barangsiapa yang meninggalkan shalat, berarti dia telah kafir Setelah mengetahui berbagai sifat buruk dan belasan dari keburukan yang dilakukan orang-orang kafir, mestinya kita berusaha maksimal menghindari sikap membeo dan meniru-meniru mereka. Generasi shahabat, tabi’in dan tabi’in yang merupakan generasi awal umat ini sekaligus generasi terbaik, hendaklnya kita jadikan panutan. Karena keserupaan atau kesamaan fisik bisa menyebabkan kesamaan atau keserupaan bathin. Oleh karena itu hendaknya kita berusaha menyerupai dan meniru generasi awal umat ini. Semoga agama dan akhlaq kita sedikit demi sedikit bisa meniru akhlak dan agama mereka. Sebaliknya, janganlah kita latah meniru dan menyerupai penampilan orang-orang kafir. Karena penyerupaan bisa menyeret kita untuk berperilaku buruk sebagaimana mereka, minimalnya akan menimbulkan rasa suka dan loyal kepada mereka, padahal mestinya kita bara’ dari mereka dan perilaku buruk mereka. Sebagai insan yang beriman, kita wajib berusaha menyelisihi perilaku dan keyakinan orang kafir. Janganlah kita menjadikan mereka sebagai wali ! Bencilah mereka karena keyakinan mereka yang bathil ! Dan hendaknya kita bangga beragama Islam dan bersemangat untuk mendakwahi mereka kepada Islam. Marilah kita tetap berusaha mengikhlaskan seluruh ibadah hanya untuk Allâh semata ! Perbanyaklah memuji Allah Azza wa Jalla yang telah memberikan petunjuk kepada kita. Akhirnya, kita memohon kepada Allah Azza wa Jalla , semoga Allah Azza wa Jalla senantiasa membimbing kita agar tetap istiqamah dalam melaksanakan segala perintah dan menjauhi larangan-larangan-Nya. (Diterjemahkan secara bebas oleh M. Syahid.Ridlo dari al-Khuthabul Minbariyyah, hlm. 62-67 karya Syaikh Abdul Muhsin bin Muhammad al-Qâsim (Imam dan khatib Masjid Nabawi).)

KAPAN VIRUS CORONA AKAN BERAKHIR

Kerja Pemerintah Harus Lebih Cepat Dibanding ‘

Wabah virus corona (Covid-19) hingga saat ini masih menjangkiti dunia, termasuk di Indonesia yang angka kasusnya terus menunjukan tren peningkatan secara kumulatif. Berbagai cara dilakukan masyarakat dunia untuk memutus penyebaran virus yang menyerang saluran pernapasan itu.

Saat ini, sudah terlalu banyak sektor-sektor kehidupan manusia terdampak virus yang pertama kali muncul di Kota Wuhan, China ini. Tidak sedikit masyarakat bertanya-tanya, kapan pagebluk (bahasa Jawa artinya wabah) ini berakhir dan kehidupan kembali normal.

Menurut Pakar Epidemiologi dari Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Indonesia (UI), dr Syahrizal Syarif, wabah virus corona dinyatakan berakhir tentu jika tidak ada kasus yang tercatat hingga 28 hari ke depan. “Jika hari itu sudah tidak ada kasus, kita tunggu hingga 28 hari ke depan.

Kalau angkanya tetap nol, berakhir wabah sudah berakhir,” kata Syahrizal beberapa waktu lalu di Jakarta.

Pria yang pernah menjadi Tim Pakar Nasional penanggulangan virus SARS di China pada 2003 silam ini melanjutkan bahwa jika masih ditemukan kasus, maka perhitungan 28 hari dimulai dari ketika kasus tersebut ditemukan lagi dan seterusnya.

Pemerintah Indonesia memperpanjang masa darurat nasional Covid-19 hingga 29 Mei 2020. Artinya hingga selesainya hari raya Idul Fitri 1441 H.

Menurut prediksi Syahrizal, pandemi corona di Indonesia akan mencapai puncaknya pada akhir April 2020. “Ketika saat itu memuncak, selanjutnya mengalami penurunan hingga kemungkinan berakhir pada akhir Mei 2020,” ujarnya.

Menurutnya, perkiraan masa puncak sangat dipengaruhi dari langkah-langkah penanggulangan yang dilakukan pemerintah dan kerja sama masyarakat untuk menanggulangi wabah.

Ia berharap pemerintah dan masyarakat tidak pesimis dalam melakukan penanganan dan penanggulangan. “Saya tetap berharap kasus Covid-19 ini bisa mulai turun di angka kurang dari 40 hari,” ucap Syahrizal.

Wabah Covid-19 telah berjalan satu bulan sejak kasus pertama diumumkan pada 2 Maret 2020. Selama satu bulan terakhir, jumlah kasus positif corona mencapai 1.790 orang.

Jumlah kasus hari ini bertambah 113 orang dari satu hari sebelumnya. Dari jumlah tersebut, ada penambahan 13 kasus kematian baru sehingga jumlah orang yang meninggal dunia akibat corona mencapai 170 orang.

Adapun  pasien yang dinyatakan sembuh dari penyakit tersebut bertambah sembilan orang. Secara akumulatif, total pasien yang telah dinyatakan dua kali negatif dari corona mencapai 112 orang pada 2 April 2020.

NISFU SYA’BAN

Jatuh Tanggal 8 April 2020, Ini Amalan yang Dianjurkan Dilakukan Saat Malam Nisfu Syaban

Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mengumumkan Nisfu Sya’ban 1441 H jatuh pada Rabu Malam, 8 April 2020. – Istimewa

Tak terasa sesaat lagi umat muslim akan menyambut bulan suci Ramadan.

Tapi, sebelum menyambut momen tersebut umat muslim akan dihadapkan dengan malam nisfu syaban.

Malam tersebut juga amat dinantikan umat muslim di seluruh dunia.

Dilansir dari Surya.co.id, Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mengumumkan Nisfu Sya’ban 1441 H jatuh pada Rabu Malam, 8 April 2020.

Sebagai informasi, nisfu sya’ban adalah hari ke-15 bulan Sya’ban, bulan ke delapan dalam penganggalan Hijriyah.

Menurut pandangan ulama nisfu sya’ban adalah waktu istimewa untuk memohon ampun.

Allah SWT akan memaafkan semua dosa.

INDAHNYA SILATURAHMI DALAM ISLAM

Manusia merupakan makhluk sosial, yang di manapun dan kapanpun membutuhkan manusia lainnya untuk bisa saling membantu, saling menolong, mendukung, bekerja sama untuk memenuhi kebutuhan hidup di dunia. Oleh karena itu, di dalam Islam silaturahmi sangatlah penting.

Ya, Islam merupakan salah satu agama yang menganjurkan umatnya untuk senantiasa berbuat baik. Dan dengan silaturahmi ini, merupakan salah satu amalan yang bisa dilakukan. Menjalin silaturahmi merupakan salah satu cara mewujudkan ukhuwah islamiyah dan dapat dilakukan dengan cara mengunjungi sanak saudara, dan keluarga.

Selain membuat orang lain yang kamu kunjungi merasa senang, silaturahmi juga memiliki banyak hikmah dan keutamaan. Berikut ini, yd1jni@gmail.com, Minggu (5/5/2020 telah merangkum dari berbagai sumber tentang hikmah dan keutamaan silaturahmi yang perlu umat Islam ketahui agar bisa mengamalkannya.

KAMU BOLEH NGEBLOKIR

8 Alasan Logis Kamu Boleh Blokir Teman di Media Sosial

Kamu berhak merasa nyaman

8 Alasan Logis Kamu Boleh Blokir Teman di Media Sosial

Memiliki media sosial sudah jadi hal yang wajar dan bisa dibilang bagian dari gaya hidup. Kegiatan kita di dunia maya bisa menghubungkan dengan orang-orang yang kita kenal namun sering tak bertatap muka. Tapi, kita tetap punya hak untuk memilah mana orang yang bisa kita masukkan ke dalam lingkar pertemanan di dunia maya.

Gak perlu takut merasa bersalah, dengan delapan alasan ini kamu boleh banget memblokir teman-teman yang ada di media sosialmu. Apa saja ya kira-kira?

1. Dia alay

Alay bisa jadi salah satu faktor kamu berhenti berteman atau ingin memblok teman sendiri di media sosial. Misalnya nih temanmu masih sering foto dengan pose alay atau bahkan menuliskan status dengan huruf besar kecil tanpa spasi yang bakal merusak mata. Bahkan, dia lebih sering share sesuatu hal yang gak berguna. Daripada kamu membuang waktumu lebih baik blokir saja.

2. Update tiap waktu dan timeline penuh dengan postingan gak pentingnya

Jika temanmu gak bisa memilah mana yang bisa dikonsumsi publik dan yang bukan, maka kamu punya hak untuk memblokirnya. Pasalnya, kebiasaannya ini tanpa disadari bakal sangat mengganggu. Misalnya saja dia selalu memposting segala kegiatannya tanpa jeda, mulai dari bangun tidur, makan, hingga hal kecil yang dilakukannya sampai kembali tidur lagi. Dengan follow dia, berarti kamu harus siap untuk disodori dengan hal-hal yang gak berguna.

3. Dia gak tahu cara menempatkan dirinya di medsos

Bermain media sosial itu ada tata kramanya. Seseorang harus bisa menempatkan dirinya. Misalnya saja dia harus tahu bahwa komentar yang ditulisnya itu juga bakal dibaca oleh banyak orang. Jika selama ini dia selalu berkomentar negatif, mempermalukanmu, atau bahkan dia hobi pacaran di kolom komentar dengan pasangannya maka kamu punya hak untuk membloknya.

4. Spamming

Iya sih, mungkin memang temanmu sedang merintis bisnisnya. Tapi, kalau dia terlalu sering tag foto barang dagangan atau hampir selalu iklan di kolom komentar tentu bakal mengganggu juga. Kamu punya hak kok untuk bersih-bersih laman media sosialmu dengan memblokir orang-orang macam ini. Supaya mereka juga sadar bahwa ada tata kramanya untuk berjualan online di media sosial.Lanjutkan membaca artikel di bawah

Baca berita sesuai topik yang kamu pilih dan
lebih nyaman di IDN appDownload Yuk!

5. Dia mengumbar kebencian

Orang-orang provokator juga perlu dieliminasi dari laman timelinemu. Misalnya saja kamu punya teman yang hobi share berita hoax atau memengaruhi yang lain dengan ujaran-ujaran kebenciannya. Percaya deh, memblok mereka justru bakal menghilangkan virus negatif dari hidupmu dan membuatmu lebih bahagia.

6. Dia mulai mengganggu hidupmu, tanpa sadar dia itu stalker-mu

Ada orang-orang yang menggunakan media sosial sebagai sarana untuk stalking. Secara gak langsung dia mendapat info dari media sosial dan justru menggunakannya sebagai cara untuk mengamati rutinitasmu. Bahkan, bukan gak mungkin dia menjadikannya bahan bergunjing dengan teman lainnya. Nah lho!

7. Di kehidupan aslinya kamu memang bermasalah dengannya

Jika di kehidupan nyata kamu memiliki masalah dengannya maka sebaiknya kamu juga gak usah saling follow di media sosial. Saling follow justru membuatmu untuk kepo dengan hidupnya dan begitu juga sebaliknya. Karena dasarnya memang sudah ada masalah, hasil kepomu itu justru jadi penyakit karena kamu jadi makin menyoroti kekurangannya. Sebaiknya, selesaikan dulu masalah kalian di dunia nyata.

8. Tukang sindir dan nyinyir hidup orang lain

Ini juga salah satu alasan kamu boleh memblokir temanmu itu. Pasalnya, hobinya yang suka nyinyir dan menyindir hidup orang lain menunjukkan bahwa dia belum dewasa dan gak bisa memilah mana yang bisa dibagi untuk publik.

Tanpa disadari hal ini juga bakal berimbas negatif padamu. Selalu melihat postingan yang beraroma sindiran tentu sedikit banyak membuatmu merasa insecure meski bukan kamu orang yang dimaksud. Selain itu virusnya yang suka menyindir orang lain itu menular, jangan heran kalau kamu jadi ikut terpengaruh hobi nyinyir hidup orang.

Jadi sudah ada berapa orang yang kamu blok hari ini? Jika kamu memblokir mereka karena delapan alasan di atas, tenang saja, kamu gak dosa kok. Kamu berhak untuk merasa nyaman dan bahagia

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai