PILAR PILAR DUNIA

Empat Pilar Agama dan Dunia

 عن على كرم الله وجهه أنه قال لا يزال الدين و الدنيا قائمين مادامت أربعة أشياء: مادام الأغنياء لا يبخلون بما خولوا و مادام العلماء يعملون بما علموا و مادام الجهلاء لا يستكبرون عما لم يعلموا و مادام الفقراء لا يبيعون آخرتهم بدنياهم

 Diriwayatkan dari Sayyidina Ali kw agama dan dunia senantiasa akan tetap berdiri tegak selama ada empat perkara. Yaitu selama orang-orang kaya tidak berpikir dengan apa-apa yang telah diberikan, selama para ulama masih mengamalkan apa-apa yang diketahuinya, selama orang-orang bodoh tidak sombong dari perkara yang tidak diketahuinya dan selama orang-orang fakir tidak menjual akhiratnya dengan dunia.

Saat ini, kita dihantui oleh bayangan keruntuhan agama dan dunia. Bayangan itu bukan lahir dari khayalan, berasal dari deretan, fakta hidup dan kehidupan yang sekarang lebih menyimpang dari prinsip-prinsip syariat Allah. Fakta-Fakta penyimpangan itu benderang bisa kita saksikan di mana-mana. Bahkan di dalam diri kita sendiri. Contoh kecil adalah kita perlu senang menimbun harta, padahal di harta itu adalah hak-hak orang miskin dan fakir yang wajib disetujui.

Menurut Sayyidina Ali kw, agama dan dunia tidak akan runtuh selama orang-orang kaya tidak kikir dengan apa-apa yang telah diberikan, selama para ulama masih mengamalkan apa-apa yang diketahuinya, selama orang tua tidak sombong dari perkara yang tidak diketahuinya dan selama orang-orang fakir tidak menjual akhiratnya dengan dunia. Ternyata, keempat perkara menjadi indikator runtuhnya fondasi agama dan dunia, alih tidak berjalan secara fungsional.

Tidak Kikir

Orang-orang kaya menjadi pilar penyangga tegaknya agama dan dunia. Yaitu orang-orang kaya yang memiliki jiwa kedermawanan dan solidaritas sosial yang tinggi. Jiwa kedermawanan itu dibuktikan dengan sikap lapang dada untuk mau membantu meringankan beban ekonomi orang-orang fakir dan miskin. Sementara solidaritas sosial membahas dengan sikap simpati dan empati manakala menyaksikan orang yang sengaja “dianiaya” atau “terpinggirkan” dalam struktur sosial.

Realitas saat ini menunjukkan fakta yang berbeda. Banyak orang kaya yang suka egois dan sombong. Egoisme dan kesombongan itu bisa kita lihat dari keengganan mereka untuk mau membantu orang-orang tidak mampu dan berhasil di garis kemiskinan. Justru sebaliknya, mereka menentang sekuat tenaga untuk menambah volume kekayaan yang mereka miliki. Dalam pikiran mereka, semakin kaya akan harta semakin tinggi derajatnya di mata masyarakat. Bangunan logika mereka berdiri kokoh di atas pondasi materialisme yang hanya “menuhankan” harta dan kekayaan.

Orang kaya yang kikir senantiasa berpikir bagaimana mengekploitasi semaksimal mungkin kekayaan yang terpendam di bumi dan di langit demi kepentingan sendiri. Ironisnya lagi, mereka lupa tentang harta kekayaan itu sebenarnya milik anak cucu mereka datang. Kalau setiap orang kaya suka ini, jangan pernah berharap orang-orang miskin bisa terangkat kesejahteraannya. Dan jangan pernah berharap lagi anak cucu mereka di masa depan bisa hidup sejahtera.

Sikap kikir orang-orang kaya inilah sebenarnya biang keruntuhan agama dan dunia. Bagaimana mungkin para penganut agama bisa beribadah dengan baik dan khusyu ‘sementara perut mereka lapar. Bagaimana dunia dapat dinikmati oleh banyak orang jika masih ada segelintir orang yang mengekploitasi kekayaan yang terpendam di milik demi kepentingan sendiri. Memelihara sikap kikir sama saja dengan meminjam batang kayu dari dalam. Kayu itu akan rapuh dan hancur, cepat atau lambat. Begitu juga agama dan dunia. Akan tinggal nama dan kenangan.

Sungguh, Allah tidak senang terhadap orang kaya yang kikir (bakhil). Sebagai balasannya, Allah akan menyiksa orang-orang kikir (bakhil) itu di hari kiamat kelak. Firman Allah SWT,

“Sekali-kali janganlah orang-orang yang bakhil dengan harta yang Allah berikan kepada mereka dari karunia-Nya menyangka itu kebakhilan itu baik bagi mereka. Sebenarnya kebakhilan itu buruk bagi mereka. Harta yang mereka bakhilkan itu akan dikalungkan kelak di lehernya di hari kiamat. Dan kepunyaan Allah-lah segala warisan (yang ada) di langit dan di bumi. Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan. ” (QS Âli ‘Imrôn: 180)

Konsisten dengan Ilmu

Ulama yang konsisten mengamalkan ilmunya termasuk salah satu faktor tegaknya agama dan dunia. Ulama yang konsisten senantiasa meniatkan seluruh amaliahnya, baik ritual keagamaan maupun aktivitas sosialnya, untuk tujuan primer “hanya-mata ibadah untuk Allah.” Tidak ada tujuan lain.

Paraulama hanya mengabdikan untuk Allah saja. Sementara ilmu yang menguntungkan, mereka bermanfaat bagi kesejahteraan manusia. Bukan untuk mencelakakan manusia. Mereka berkeyakinan, semakin banyak ilmu yang diberikan kepada orang lain, semakin tinggi ilmu yang diperoleh dan semakin besar pahala yang akan diraihnya.Paraulama memperoleh ilmu akan senantiasa berubah menjadi hikmah manakala ilmu yang digunakan istiqamah diamalkan.

Ulama sejati tidak akan pernah berhasil apa-apa yang diketahuinya. Menyembunyikan ilmu yang sama dengan siapa pun untuk mengetahui Tuhannya dan dirinya. Sikap seperti ini tidak dapat dibenarkan untuk seorang ulama pewaris Nabi. Selain itu termasuk hamba Allah yang paling menakutkan bagi-Nya. Firman Allah SWT,

“… Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanya ulama. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun. (QS Fâtir: 28).

Kalau kita cermati kondisi ulama saat ini, sungguh cukup memperihatinkan. Godaan harta, jabatan, dan wanita menjadi faktor dominan bagaimana ulama sekarang tidak lagi bisa memainkan perannya sebagai pewaris para Nabi. Jangankan konsisten mengamalkan ilmu, sebagian ulama kini melampaui “tersandera” dengan jabatan-jabatan politik yang sangat kotor. Mereka memutuskan untuk kembali ke “kampung halaman” untuk membantunya berdakwah menyeret umat demi kebaikan dan mencegah kemungkaran. Kalau seperti ini, kehancuran agama dan dunia tinggal menunggu hitungan waktu. Naûdzubillâh.

Tidak Sombong

Agama dan dunia senantiasa akan tegak manakala orang-orang bodoh tidak sombong terhadap hal-hal yang tidak diketahuinya. Kesatuan inilah sumber utama yang menyebabkan orang-orang bodoh mudah terjerumus ke lubang nestapa. Orang bodoh yang sombong senantiasa akan berbicara “sok pintar” dan “sok mengerti masalah”. Kesuksesan membawa orang-orang bodoh ke jurang egoisme yang tak berkesudahan.

Orang bodoh yang sombong tidak lagi mengakui etika sosial, meminta kerendahan hati. Yang penting diingat adalah bagaimana bisa tampil gagah dan mengesankan. Sikap seperti ini sangat berbahaya, terutama membebaskan orang-orang bodoh yang sombong itu diterima menjawab masalah-masalah agama padahal dia tidak menguasai subtansi masalah itu. Jawaban yang diberikan pasti menyesatkan. Jawaban seperti sedikit banyak akan berakibat pada proses pendangkalan sikap keberagamaan kita. Orang-orang bodoh yang suka tong kosong nyaring bunyinya. Hanya penampilan fisiknya yang prima padahal perdamaian hampa.

Bagaimana jadinya dunia ini jika diselesaikan dengan orang bodoh yang sombong. Sudah dipastikan wajah dunia akan semrawut. Dunia akan menjadi sesak. Ibarat sampah, orang-orang bodoh yang sombong hanya akan menjadi beban bagi dunia. Memang sulit untuk melenyapkannya. Padahal sikap sombong termasuk sikap paling dibenci oleh Allah. Firman Allah SWT,

“Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong, Karena kamu benar-benar sekali-sekali tidak dapat menembus bumi dan sekali-kali kamu tidak akan sampai setinggi gunung.” (QS Al-Isrâ: 37).

Alangkah bijak kiranya, biarkan orang-orang bodoh mengakui kebodohannya dan tidak sombong. Mengakui kekurangan dan ketidaktahuan terhadap satu pertimbangan adalah salah satu modal utama terciptanya suasana hidup beragama yang harmonis.

Tidak Menjual Akhirat dengan Dunia

Seringkali kita mendengar cerita orang miskin berpindah agama, hanya gara-gara uang. Cerita itu adalah ironi bagi penganut agama. Kenyataan ini menandakan sangat besar kemampuan menjadi panglima. Sangat disayangkan seseorang beragama meminta persetujuan dan akhiratnya dengan urusan dunia yang tidak kekal itu. Jika begitu, sangat tidak mungkin akhirat, dan sangat bernilainya dunia. Satu logis terbalik, yang kini banyak merasuki pikiran orang-orang saat ini.

Memang, kefakiran menjadi salah alasan seseorang menjadi kafir. Namun, hal itu tidak berlaku untuk orang-orang fakir yang fondasi imannya kuat dan keyakinan agamanya kuat. Biar pun langit bergoncang, orang palsu itu akan tetap kokoh dan taat kepada agamanya, juga tidak akan pernah berpindah ke agama lain. Bagi mereka, akhirat lebih abadi dan penuh kedamaian. Firman Allah SWT,

“Sementara kamu (orang-orang kafir) memilih kehidupn dunia. Sementara kehidupan akhirat lebih baik dan lebih kekal. ” (QS Al-A’lâ: 16-17)

Lalu, buat apa menukar akhirat dengan dunia yang penuh kepalsuan itu? Bisa jadi, motivasinya adalah untuk mengurangi beban hidup yang kian hari bertambah berat atau sebagai bentuk dari tidak percaya dan penentangan terhadap nilai-nilai agama, seperti tidak mempercayai masalah-masalah ghoib, yang perlu ditambah dengan akhirat.

Di sinilah pentingnya melakukan proses edukasi untuk orang-orang fakir tentang hakikat agama dan dunia. Agar mereka tidak tergiur dengan bahan rayuan dan hal-hal yang terkait duniawi lainnya. Lebih lanjut menjual kepercayaannya dengan cara pindah agama. Proses edukasi yang dimaksudkan juga pada pemahaman yang benar tentang kehidupan akhirat lebih subtansial dan penting tinimbang kehidupan dunia yang fana ini

Demikianlah, empat pilar tegaknya agama dan dunia. Sekarang tinggal bagaimana kita memberi penyadaran. Bagaimana orang kaya tidak berpikir, ulama bisa konsisten dengan ilmunya, orang bodoh tidak sombong, dan bagaimana orang palsu tidak mudah tergoda dengan urusan dunia. Jika keempatnya mampu memutar seperti itu, insya-Allah, tiang agama dan dunia akan terus tegak sampai hari kiamat nanti. Wallâhu a’lam bish-shawâb.   

Keutamaan Ramadhan menurut kitab Durratun Nasihin

islamique-de-dessin-vectoriel-ramadhan-calligraphie

Di dalam kitab Durratun Nasihin banyak dijelaskan tentang keutamaan2 bulan Ramadhan diantara nya pada halaman 07 diterangkan :

Dari Nabi saw : Shuhuf Nabi Ibrahim diturunkan pada malam pertama Ramadhan, Taurat bukan pada bulan Ramadhan, Injil pada tanggal tiga belas , Zabur pada tanggal delapan belas Ramadhan dan Al-Qur’an pada tanggal empat belas.

Diriwayatkan dari Abu Hurairah Ra sesungguhnya Beliau berkata : bersabda Nabi saw :
Celaka seorang laki2, Disebutkan namaku di sisinya tapi dia tidak bershalawat padaku, Celaka lah laki2 yang di sisinya terdapat kedua orang tuanya atau salah satu darinya tapi dia tidak memenuhi hak2 nya yang dengan sebabnya dia masuk surga, celakalah laki2 Ramadhan telah masuk dan sempurna Ramadhannya sebelum dosanya diampuni

Karena Ramadhan adalah bulan rahmat dan ampunan dari Alah ta’ala maka jika Allah tidak mengampuninya di dalam bulan Ramadhan maka dia adalah rugi (Zubdatul waidzin)

Dan diriwayatkan dari Nabi as : Barang siapa yang bershalawat atas ku pada hari Jumat seratus kali maka datang pada hari kiamat bersama cahaya yang jika cahaya tersebut dibagikan diantara seluruh makhluk maka cahaya tersebut akan memenuhinya (Zubdatul waidzin)

Dari Nabi saw : Barangsiapa yang gembira dengan masuknya bulan Ramadhan maka Allah haramkan jasadnya atas neraka

Berkata Nabi as : Apabila malam pertama bulan Ramadhan Allah berkata : siapa yang mencintaiku maka aku mencintainya dan barangsiapa yang mencariku maka aku mencarinya dan barangsiapa yang memohon ampun pada-Ku maka Aku ampuni dia karena hormat bulan Ramadhan Maka Allah menyuruh malaikat kiramul katibin di dalam bulan Ramadhan untuk mencatat mereka kebaikan2 pada untuk tidak mencatat keburukan2 mereka dan Allah hapus kan atas mereka dosa2 mereka yang telah lalu”

Dan diriwayatkan sesungguhnya Shuhuf Nabi Ibrahim as diturunkan pada malam pertama bulan Ramadhan , Taurat bukan pada bulan Ramadhan sesudah 700 tahun setelah shuhuf Nabi Ibrahim as, Zabur pada tanggal 12 malam ramadlan berjarak dari Taurat 500 tahun, Injil pada tanggal 18 Ramadhan sesudah Zabur dengan jarak 1200 tahun , Dan Al-Qur’an pada tanggal 27 Ramadhan sesudah Injul dengan jarak 720 tahun ( dari Kitab Hayah)

Dan dari Ibnu Abbas Ra sesungguhnya dia berkata : Aku mendengar Rasulullah saw bersabda : Kalau seandainya umatku mengetahui apa yang ada di bulan Ramadhan maka mereka pasti menginginkan satu tahun seluruhnya adalah bulan Ramadhan”

Karena kebaikan di dalamnya dilipat gandakan, ketaatan diterima, doa2 dikabulkan, dosa2 diampuni dan surga rindu pada mereka (Zubdatul waidzin)

Dari Hafs Al Kabir sesungguhnya dia berkata : Berkata Daud Ath thai : aku tertidur pada malam pertama bulan Ramadhan dan aku melihat surga seolah2 aku duduk di atas tepi sungai dari mutiara dan permata saat aku melihat sisi surga maka mereka seperti matahari dari cahaya wajahnya , maka aku berkata : Laa ilaaha Illallah Muhammadur rasulullah,
Maka mereka pun berkata : Laa ilaaha Illallah Muhammadur rasulullah, Kami diperuntukkan untuk orang yang memuji Allah, orang yang berpuasa, orang yang ruku’ dan orang yang sujud di bulan Ramadhan, karena Bersabda Rasulullah saw : “Surga merindukan empat golongan : orang yang membaca Al-Qur’an, orang yang menjaga lisan, orang yang memberi makan orang lapar, dan orang yang berpuasa di bulan Ramadhan “

Di dalam hadits : Apabila hilal Ramadhan telah terlihat hilal, maka berkata ‘Arsy, kursi, Malaikat dan selainnya mereka berkata : beruntung umat Muhammad saw dengan apa yang di sisi Allah , bagi mereka kemuliaan , dan memohon ampun atas mereka matahari, bulan,bintang2, burung2 di udara dan ikan di laut, dan semua yang memiliki ruh di atas bumi di siang dan malam kecuali syetan laknatullah , maka pada pagi harinya Alah tidak meninggalkan seseorang kecuali Allah telah mengampuninya, dan Allah berkata kepada para malaikat : jadikanlah shalatmu dan tasbihmu di bulan Ramadhan untuk umat Nabi Muhammad saw

Dikisahkan sesungguhnya ada seorang laki-laki bernama Muhammad, dia tidak shalat sama sekali tapi apabila datang bulan Ramadhan dia menghiasi dirinya dengan baju dan wewangian, dia shalat dan mengqadla shalat yang telah lewat. Maka saat ditanyakan padanya kenapa melakukan hal itu : Maka dia mejawab : ini adalah bulan taubat dan rahmat dan Barakah semoga Allah memberikan aku dengan keutamaannya , maka dia pun meninggal dan dilihatnya pada mimpi dan ditanyakan padanya : apa yang Allah lakukan padamu ? Dia menjawab : Rabbku mengampuni ku karena hormat takdzimku pada bulan Ramadhan

Dan Dari Umar ra dari Nabi Muhammad saw sesungguhnya beliau bersabda : “Apabila bangun salah seorang kamu dari tidurnya di bulan Ramadhan dan bergerak di kasurnya dan berbolak balik dari tepi ke tepi maka berkata padanya malaikat : bangunlah semoga Allah memberkahi kamu di bulan Ramadhan dan memberi kamu rahmat, Apabila dia bangun dengan niat shalat maka kasur berdoa untuknya, dengan doa : Ya Allah berilah dia kasur yang tinggi , maka apabila dia memakai baju maka baju berdoa untuknya dengan doa: ” Ya Allah berilah dia dari Hulal jannah” dan apabila dia memakai sandal nya maka kedua sandal berdoa untuknya dengan doa : Ya Allah tetapkanlah kakinya di atas titian shirath, apabila dia mengambil tempat makan maka dia berdoa untuknya dengan doa : Ya Allah berilah dia gelas2 surga, apabila dia berwudlu maka air berdoa untuknya dengan doa : Ya Allah sucikanlah dia dari dosa dan kesalahan, apabila dia berdiri untuk shalat maka rumahnya berdoa untuknya dengan doa : Ya Allah luaskan kuburnya dan terangilah khufroh nya dan tambahkanlah rahmat untuknya , Maka Allah pun memandangnya dengan rahmat dan berkata saat dia berdoa :

Hai Hamba-ku darimu doa dari-Ku ijabah, darimu permintaaan dari-ku pemberiaan, dan darimu mohon ampun dari-Ku ampunan (Zubdatul Waidzin)

Pada halaman 9 juga diterangkan

Dan dari Ibnu Mas’ud ra dari Nabi Muhammad saw sesungguhnya Beliau berkata : “Sesungguhnya manusia utama yang bersamaku pada hari kiamat adalah yang paling banyak membaca shalawat padaku”

Dan dari Zaid bin Rafi dari Nabi Muhammad saw : “Barangsiapa yang bershalawat padaku 100 kali pada hari Jumat maka Allah mengampuninya walaupun dosanya sebanyak buih di lautan” (Zubdatul Waidzin)

Riwayat Dari Imam Bukhari hadits dari Abu Hurairah:

(Barangsiapa yang berdiri di bulan Ramadhan) maksudnya adalah menghidupkan malam2 nya dengan ibadah selain Lailatul Qadar yang pasti atau maknanya melaksanakan shalat Tarawih di dalamnya,

(Dengan Iman) maksudnya adalah membenarkan pahalanya

( Dan dengan ihtisab) maksudnya adalah dengan ikhlas

(Maka diampuni apa yang telah lalu dari dosa2 nya) . (~ dalamKitab Masayariq)

Maka sepantasnya bagi orang mukmin untuk menghormati bukan Ramadhan dan menjauhi dari kemungkaran dan menyibukkan dengan ketaatan dari shalat, tasbih, dzikir dan Membaca Al-Qur’an

Allah berkata kepada Musa as : Sesungguhnya aku memberi umat Muhammad dengan dua nur(cahaya) supaya tidak dibahayakan oleh dua kegelapan, Musa berkata : Apakah dua nur itu ya Rabb ? Allah berkata : Nur Ramadhan dan Nur Al-Qur’an, Maka berkata Musa : “Dan apakah dua kegelapan itu ya Rabb ?” Allah berkata : “Kegelapan kubur dan kegelapan hari kiamat” (Durratul Wa’idzin)

Dan dari Anas bin Malik ra berkata dari Nabi Muhammad saw :
“Barang siapa yang menghadiri majis ilmu pada bulan Ramadhan maka Allah ta’ala catat baginya setiap langkah dengan ibadah satu tahun dan nanti dia bersamaku di bawah ‘Arsy, dan Barang siapa yang mendawamkan (istiqamah) shalat berjamaah di bulan Ramadhan maka Allah ta’ala memberinya dengan setiap rakaat satu madinah yang penuh dari nikmat2 Allah , Dan barang siapa yang berbakti kepada kedua orang tuanya di bulan Ramadhan maka akan dapat melihat Allah ta’ala dengan rahmat dan Anakafil  di dalam surga, dan tidak ada orang yang mencari ridla suaminya di bulan Ramadhan kecuali baginya pahala Maryam dan Asiyah, Dan barang siapa yang memenuhi hajat saudaranya yang muslim di dalam bulan Ramadhan maka Allah penuhi baginya seribu hajat pada hari kiamat”

Dan dari Abu Hurairah ra berkata : “Barang siapa yang menerangi (memberi penerangan lampu) di dalam masjid dari masjid2 Allah di dalam bulan Ramadhan maka baginya cahaya di dalam kuburnya dan baginya pula pahala orang yang shalat di dalam masjid tersebut dan Para malaikat bershalawat(mendoakan) atasnya dan Malaikat hamalatul Arsy memohonkan ampun baginya selama itu di dalam masjid tersebut “(Dzakhiratul Abidin)

Diriwayatkan dari Nabi saw sesungguhnya Beliau bersabda : ” Apabila awal malam bulan Ramadhan maka diikat syetan2 dan diusir jin2 , ditutup pintu2 neraka dan tidak dibuka satu pintu pun darinya dan dibuka pintu2 surga dan tidak ditutup satu pintu pun darinya, dan berkata Allah di dalam setiap malam bulan Ramadhan tiga kali : Apakah ada yang meminta2 maka aku memberi permintaannya , apakah ada yang bertaubat maka aku memberi taubat atasnya, apakah ada yang memohon ampun maka aku mengampuninya, dan Allah membebaskan setiap hari di bulan Ramadhan satu juta penghuni dari neraka sungguh istijabah siksanya, apabila pada hari jumat Allah membebaskan di setiap saat(jam) satu juta penghuni dari neraka dan apabila pada akhir hari bulan Ramadhan Allah bebaskan dengan jumlah penghuni yang sudah dibebaskan dari awal bulan” (Zubdatul Wa’idzin)

Kenapah mesjid di tutup

Ustaz Somad Jawab Kerisauan ‘Kenapa Masjid Ditutup Mal Tidak’

Ustaz Abdul Somad (UAS)

Ustaz Abdul Somad (UAS)

Ustadz online – Ustaz Abdul Somad buka suara terkait fenomena imbauan tidak salat Jumat di khususnya di daerah yang terjangkit wabah corona. Dia mengakui ada sebagian orang yang risau kenapa masjid ditutup sedangkan fasilitas umum lainnya seperti mal, bandara dan bioskop tidak ditutup.

“Ada sebagian orang mengatakan risau, kenapa masjid ditutup kenapa mal tidak, kenapa masjid ditutup airport tidak, kenapa masjid ditutup bioskop tidak. Itu tidak serta merta lalu kita berkata, kalau begitu masjid jangan ditutup,” kata Ustaz Somad dikutip VIVAnews dari akun Instagramnya, Jumat 20 Maret 2020.

UAS, akrabnya disapa menegaskan bahwa sikap yang tepat itu adalah tidak berkerumun di masjid dan juga tidak berkerumun di mal, bandara hingga bioskop. 

“Jangan sampai ketika orang ditanya. ‘kamu tidak salat jumat?’. ‘Saya takut nanti tersebar virus’. Dia tidak salat jumat, dia tidak salat berjemaah tapi ke mal, tapi orang asing yang tidak steril dibiarkan masuk. Nah ini (yang) tidak benar. Oleh sebab itu kita saling menjaga,” kata dia.

UAS menegaskan bahwa dia percaya kepada Majelis Ulama Indonesia (MUI). Termasuk kepada ulama yang ada di Mesir yang juga menerapkan langkah pencegahan corona.

“Karena saya alumni Al Azhar, saya sebagai orang awam ikut orang berilmu. Perlu kita pahami bahwa korban akibat virus corona di mesir jauh di bawah kita. China Itali, Iran, kita (Indonesia), mesir jauh (di bawah). Mesir saja langkahnya begitu, apalagi kita,” tutup UAS. 

Berikut pernyataan lengkap Ustaz Abdul Somad:

Bahwa ada sebagian orang mengatakan risau, kenapa masjid ditutup kenapa mal tidak, kenapa masjid ditutup airport tidak, kenapa masjid ditutup bioskop tidak?. 

Itu tidak serta merta lalu kita berkata kalau begitu masjid jangan ditutup. Yang tepat itu tidak berkerumun di masjid, tidak berkerumun di mal.

Jangan sampai ketika orang ditanya. ‘kamu tidak salat jumat?’. ‘Saya takut nanti tersebar virus’, dia tidak salat jumat dia tidak salat berjamaah, tapi ke mal. tapi orang asing yang tidak steril dibiarkan masuk. Nah ini tidak benar. oleh sebab itu kita saling menjaga. 

Saya, percaya kepada majelis ulama Indonesia, dan khusus mesir, karena saya alumni Al Azhar saya sebagai orang awam ikut orang berilmu. 

Perlu kita fahami bahwa korban akibat virus corona di Mesir jauh di bawah kita. China Itali, Iran, kita (Indonesia), Mesir jauh (di bawah). Mesir saja langkahnya begitu, apalagi kita.

PENTINGNYA ULAMA DAN UMARO BERSATU

Pentingnya Ulama dan Umara Bersatu dalam Islam

“Ada dua golongan di antara umat manusia yang saling bertemu baik maka akan baiklah seluruh manusia, dan memenangkan golongan kedua itu rusak maka rusaklah seluruh manusia, yaitu ulama dan umara” (HR. Abu Nu’aim).

Ulama menurut bahasa adalah kata sifat yang berasal dari kata alim, artinya orang yang tahu atau ahli dalam bidang ilmu. Kemudian dari kata sifat dipakai menjadi istilah dan kata nama golongan umat yang mempelajari ilmu agama islam, yang dinamakan ulama. Pemakaian istilah itu dipertegas oleh hadits, “Sesungguhnya ulama adalah ahli waris para Nabi” (HR. Abu Daud dan Turmudzi).

Ulama termasuk pemimpin katagori yang di golongkan sebagai pemimpin nonformal. Ulama mengakar di masyarakat dan menjadi panutan karena keluasan ilmu, kepribadian serta keikhlasannya. Memimpin pemimpin formal adalah para pejabat dan penguasa yang memiliki otoritas legalitas dan diberi amanah untuk memahami dan mengendalikan masyarakat yang dalam istilah agama disebut umara.

Ulama dan umara memiliki tugas dan tanggung jawab di hadapan Allah SWT, karena ilmu dan kekuasaan mewakili amanah Allah. Ilmu harus digunakan dengan ikhlas dan jujur, kekuasaan harus dijalankan dengan benar dan adil.

Islam dapat berdiri dan berkembang dalam kehidupan masyarakat dan negara saat ini antara ulama dan umara (penguasa) saling menghormati dan mendukung serta bekerja sama dengan ikhlas untuk kesejahteraan umat manusia. Para ulama harus berada di tempatkan pada posisi dan kedudukannya sebagai pembina umat. Ulama memiliki tugas utama melakukanTafaqquh fid diin (memberikan pemahaman tentang agama) dan memberikan pemahaman kepada masyarakat serta membimbing umat dengan petunjuk-petunjuk ilahiyah (ketuhanan).

Imam Ghozali menerangkan bahwa ada tiga macam ulama bertipe. Pertama, mereka yang memcelakakan dirinya dan mencelakakan orang lain, yaitu ulama yang terang-terangan mengejar duniawi dan menghadapkan diri sendiri mencoba. Kedua, mereka yang bahagia dan yang lainnya, yaitu ulama yang melakukan dakwah ilahiyah dengan penuh keikhlasan dan mensucikan-Nya lahir dan batin. Ketiga, mereka yang mencelakakan dirinya dan membahagiakan orang lain, yaitu ulama yang pada lahiriyahnya menyeru orang lain ke akhirat dan mengingatkan tidak diperdaya oleh dunia, sementara batinnya mencari mencari.

Renungi dan amatilah petikan dari pada kata-kata hujjatul Islam, Imam al-Ghazali: “Sesungguhnya rakyat rusak karena pemerintah, dan pemerintah rusak kerana Ulama. Sementara Ulama pula rusak kerana tamak akan harta dan pangkat. Maka siapa yang dikuasai oleh kecintaan kepada dunia, dia tidak akan memberikan nasihat kepada orang bawahan, apa lagi kepada pemerintah dan pembesar ”.

Dari uraian di atas dapat di simpulkan bahwa umat atau masyarakat Insya Allah akan aman, beriman dan sejahtera, menerima memiliki pemimpin yang berjiwa ulama, atau ulama yang menjadi pemimpim. Karena ulama adalah pemimpim yang harus memiliki jiwa yang amanah, adil, jujur, profesional serta pengabdian untuk umat. Juga seorang pemimpin haruslah terbuka, harus memberikan andil yang positif untuk mendewasakan masyarakatnya. Berprilaku seperti ini menunjukkan bagaimana menjadi pemimpin yang siap dikoreksi, dikritik, dan dikasih masukan guna kemajuan bersama. Jika hal ini dilakukan, maka akan terbentuklah suatu komunitas yang harmonis, sehingga menjadi masyarakat yang saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran, untuk menuju masyarakat yang maju.

Nah, inilah yang terpenting Ulama dan Umara harus bersatu padu untuk mensejahterakan bangsa sehingga menjadi bangsa yang berdikari dan terwujudnya Baldatun Thayyibatun wa Rabbun Ghafuur.

Wallahu A’lam.

Mayat laki-laki ditemukan sudah membusuk dalam keadaan tertelungkup di rumah kontrakan di Kampung Sidamukti RT 03/21 Kelurahan Sukamaju, Kecamatan Cilodong, Kota Depok, Rabu (25/3).

Mayat tersebut diketahui bernama Sonny Candrajaya (45 tahun) pekerjaan sebagai security.

Korban diketahui pertama kali oleh Minar (34) yang mencium bau tak sedap dan mencoba mencari arah datangnya bau tersebut dari dalam rumah kontrakan. “

Begitu saya mengetahui bau tersebut berasal dari rumah korban, saya kemudian memanggil Ahmad (42) untuk membuka pintu rumah tersebut dan didapati korban sudah tidak bernyawa dalam keadaan tertelungkup,” ujar Minar.

Aparat kepolisian Polsek Sukmajaya langsung datang ke tempat kejadian perkara (TKP) setelah mendapat laporan adanya penemuan mayat tersebut. “

Kami langsung beri garis polisi di TKP dan melakukan pemeriksaan bersama Tim Inafis Polri.

Mayat tersebut langsung dievakuasi menggunakan mobil ambulance untuk pemeriksaan lebih lanjut ke rumah sakit Polri Jakarta,” tutur Kapolsek Sukmajaya, Kompol Ibrahim Sadjab. 

Menjelang Bulan Sya’ban 2020, Ini Amalan Sunah yang Dilakukan Nabi

Penulis Admin 

Ustadz online – Bulan Sya’ban pada tahun 2020 ini jatuh bertepatan dengan tanggal 26 Maret 2020. Banyak amalan sunah yang dilakukan Nabi Muhammad saw. saat bulan Sya’ban.

Dalam sebuah hadis, Nabi Saw bersabda; Sya’ban adalah bulan dimana amal seseorang dilaporkan kepada Allah Swt dan saya senang bila amalku dilaporkan dalam keadaan saya berpuasa”. Berikut ini amalan sunah yang dianjurkan selama bulan mulia ini, di antaranya;

1. Baca Shalawat

Sebagian keutamaan bulan Sya’ban adalah adanya perintah bershalawat kepada Nabi Saw yang turun pada bulan ini. Perintah tersebut termaktub dalam Alquran surah Al-ahzab ayat 56;

إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يَآأَيُّهَاالَّذِيْنَ آمَنُـوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا (الاحزاب:)

Artinya;“Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi Saw. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi Saw dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya”

Sebenarnya pendapat ini lemah karena menyelisihi pendapat mayoritas ulama, namun Sayyid Muhammad bin Abbas al-Maliki dalam kitabnya Ma Dza fi Sya’ban mengatakan alasan penyebutan bahwa surah Al-ahzab ayat 56 turun pada bulan Sya’ban. Beliau memperkuat pandangannya dengan menyebutkan salah satu hadis yang diriwayatkan al-Dailami dari Sayyidah Aisyah. (Baca; Anjuran Bershalawat Diturunkan pada Bulan Sya’ban)

2. Membaca Istighfar

Membaca istighfar memiliki banyak faidah, manfaat dan keutamaan yang selayaknya diperhatikan oleh setiap orang beriman. Manfaat membaca istighfar ini akan semakin bertambah sempurna jika dibaca di waktu-waktu yang dimuliakan Allah, seperti bulan Sya’ban dan malam Nisyfu Sya’ban.

Dalam kitabnya Ma Dza Fi Sya’ban, Sayyid Muhammad bin Abbas al-Maliki menyebutkan beberapa manfaat membaca istighfar ini. Di antaranya menyebabkan kemudahan dalam rezeki, diberi jalan keluar dan solusi dalam kesulitan, kesempitan diberi kelapangan oleh Allah. Sebagaimana disebutkan dalam hadis riwayat Abu Daud, dari Nabi Saw. bersabda:Baca Juga :  Ijazah Doa-doa dan Amalan KH Hasyim Muzadi

مَنْ لَزِمَ الاِسْتِغْفَارَ جَعَلَ اللَّهُ لَهُ مِنْ كُلِّ ضِيقٍ مَخْرَجاً ، وَمِنْ كُلِّ هَمٍّ فَرَجاً ، وَرَزَقَهُ مِنْ حَيْثُ لاَ يَحْتَسِبُ

Artinya : “Barangsiapa yang senantiasa beristigfar maka Allah akan menjadikan baginya jalan keluar pada setiap kesulitan dan kelapangan dalam setiap kebingungan, dan memberikannya rezeki dari jalan yang tidak dia sangka.”

Manfaat yang lain sebagaimana disebutkan al-Imam Muhammad bin Ahmad Fadhl dalam kitabnya Syarh Tarajum al-Bukhari, adalah dosa-dosa akan dihapus oleh Allah. (Baca; Manfaat Membaca Istighfar di Bulan Sya’ban)

3. Puasa Sya’ban

Sudah maklum bahwa sangat banyak fadilah di bulan Sya’ban, khususnya di pertengahan bulan, karena di saat itulah malam agung terjadi, bahkan menurut Imam ‘Atho bin Yasar, Malam Nishfu Sya’ban adalah malam terbesar kedua setelah Lailatul Qadar.

Karena bulan Sya’ban jatuh tepat sebelum Ramadan, maka bulan ini sangat tepat untuk melatih diri menghadapi Ramadan dengan mulai memperbanyak ibadah, salah satunya puasa. (Baca; Puasa di Bulan Sya’ban, Dianjurkan atau Dilarang? )

4. Membaca Syahadat

Sayyid Muhammad Alwi dalam kitabnya Ma Dza fi Sya’ban menjelaskan bahwa memperbanyak kalimat syahadat dianjurkan dilakukan pada waktu-waktu yang mulia, salah satunya di waktu sya’ban.

Dalam sebuah hadis riwayat al-Thabarani, Ibn Mardawih dan al-Dailami dari Jabir bin ‘Amr, dari Nabi Saw bersabda:

اَفْضَلُ الِّذكْرِ لَااِلَهَ اِلَّا اللهُ وَاَفْضَلُ الدُّعَاءِ الِاسْتِغْفَارُ

Paling utamanya zikir adalah Laa ilaaha illa allaha dan paling utamanya do’a adalah istighfar

Kalimat ini merupakan zikir paling utama yang diperintahkan oleh Allah untuk senantiasa diucapkan melalui lisan dan hati. (Baca; Anjuran Memperbanyak Kalimah Syahadat di Bulan Sya’ban)

5. Membaca Al-Qur’an

Salah satu cara para ulama memuliakan bulan Sya’ban adalah dengan memperbanyak membaca Alquran. Sebagaimana diketahui, kita memang dianjurkan membaca Alquran dalam setiap waktu, tanpa dibatasi waktu-waktu tertentu. Akan tetapi anjuran membaca Alquran ini sangat ditekankan di waktu-waktu yang mulia dan diberkahi seperti bulan Sya’ban dan Ramadhan. Begitu pula di tempat-tempat mulia seperti di Mekkah dan Raudhah.Baca Juga :  Tata Cara Qunut Subuh Beserta Bacaannya

Beberapa sahabat Nabi Saw menamakan bulan Sya’ban sebagai bulan Alquran, misalnya sahabat Anas bin Malik. Ibnu Rajab al-Hambali meriwayatkan sebuah atsar dari Anas bin Malik yang menceritakan kesibukan para sahabat Nabi Saw ketika memasuki bulan Sya’ban. (Baca; Bulan Sya’ban adalah Bulan Al-Qur’an)

ADAB MURID TERHADAP GURU

Tidak sedikit orang yang mempunyai banyak ilmu,
namun tidak mempunyai adab sama sekali. Yang
lebih banyak lagi, kejadian terhadap mereka yang
masih dalam proses menimba ilmu di tahapan dasar,
namun sudah sangat kurang ajar terhadap gurunya.
Sering sekali muncul di pemberitaan, bahwa ada
segerombolan murid yang mencaci, menghina
bahkan sampai memukul gurunya karena murid tidak
suka, atau murid tidak terima dengan tindakan guru,
dan faktor lainnya.
Fenomena seperti ini menunjukkan bahwa orang
tersebut miskin adab, terlebih adab dari murid
kepada gurunya.
Padahal para ulama sudah menjelaskan bahwa
kedudukan adab itu ada diatasnya ilmu. Hal tersebut
bisa kita lihat dari nasehat para ulama semisal Imam
Malik Rahimahullah, beliau pernah mengatakan:
تعلم األدب قبل أن تتعلم العلم
“Pelajarilah adab sebelum mempelajari suatu
ilmu.”
Atau misalkan kita renungi pernyataan Ibnul
Mubarok rahimahullah yang mengatakan:
، وتعلمنا العلم عشرين
ً
تعلمنا األدب ثالثني عاما
“Kami mempelajari adab itu selama 30 tahun dan
kami mempelajari ilmu selama 20 tahun.”
Dan masih banyak lagi akan kita dapati

Hoaks Penyemprotan Racun Virus Corona dari Malaysia dan Singapura, Faktanya?

ilustrasi corona
Foto: ilustrasi corona/Hoaks Penyemprotan Racun Virus Corona dari Malaysia dan Singapura, Faktanya?

Jakarta – 

Pada hari Minggu (22/3/2020) lalu sempat beredar pesan terkait penyemprotan racun virus corona dari Malaysia dan Singapura. Pemerintah kemudian memastikan pesan yang beredar lewat WhatsApp tersebut sebagai hoaks, yang tidak terbukti benar.

“Itu sudah jelas-jelas hoax. Sudah… seperti itu tangkap saja yang menyebarkan,” kata jubir pemerintah untuk penanganan COVID-19 Achmad Yurianto saat dimintai konfirmasi detikcom.

Berikut pesan hoax yang beredar di WhatsApp Group atau WAG:

“Pemberitahuan bahwasannya nanti mlm pada pukul 23.00 wib agar kita tidak ada yg keluar rumah,jika ad menjemur pakaian atau makanan segera diangkat dibawa masuk,karena mulai pukul 23.00 wib akan ada penyemprotan racun untuk virus corona dari Malaysia dan Singapore melalui udara,bila besok pagi hujan jgn keluar rumah dulu sampai hujan berhenti..mohon beritahukan kepada keluarga,sahabat atau tetangga bapak ibu sekalian. Trima kasih.” bunyi pesan tersebut.Baca juga:579 Kasus 49 Meninggal, Tingkat Kematian Corona RI Turun Jadi 8,4 Persen

Jika penyemprotan racun virus corona dari Malaysia dan Singapura, lantas bagaimana yang benar?

Penyemprotan racun virus corona dari Malaysia dan Singapura memang sudah dipastikan hoaks, namun tidak dengan metode pencegahan COVID-19. Salah satu cara mencegah infeksi virus corona adalah penyemprotan disinfektan di lingkungan sekitar.

Dalam Panduan Disinfeksi yang dikeluarkan Dinas Kesehatan DKI Jakarta, penyemprotan bisa mengurangi jumlah kemungkinan mikroorganisme ke tingkat bahaya yang lebih rendah. Penyemprotan dilakukan pada area yang terindikasi kontaminasi mikroorganisme.

Bahan yang bisa digunakan untuk penyemprotan disinfektan adalah:

a. Larutan bleaching atau pemutih pakaian diencerkan dengan takaran dua sendok makan per satu liter air.

b. Karbol diencerkan dengan takaran dua sendok makan per satu liter air.

c. Pembersih lantai diencerkan dengan takaran satu tutup botol per lima liter air.

d. Larutan alkohol 70 persen atau disinfektan rumah tangga terdaftar.

e. Hidrogen peroksida diencerkan sesuai takaran petunjuk penggunaan dalam kemasan.

Baca juga:Sebaran 65 Kasus Baru Virus Corona COVID-19 di Indonesia

Proses penyemprotan disinfektan untuk mencegah virus corona adalah:

1. Gunakan alat pelindung diri (APD), lalu siapkan larutan disinfektan yang telah diencerkan dan botol sprayer untuk penyemprotan

2. Lakukan general cleaning sebelum penyemprotan menggunakan air sabun/deterjen dan lap

3. Isi botol sprayer untuk penyemprotan dengan larutan disinfektan yang telah diencerkan untuk mencegah virus corona

4. Ambil tisu kemudian dilipat dua atau empat dan disemprot dengan larutan disinfektan

5. Usapkan tisu pada permukaan dengan gerakan zig zag atau memutar dari tengah keluar. Pastikan penyemprotan larutan disinfektan menutupi seluruh permukaan

DO’A BANGUN TUDUR

Alhamdullillahilladzi ahyaanaa bada maa amaatanaa wa ilaihin nushur” [artinya: Segala puji bagi Allah, yang telah membangunkan kami setelah menidurkan kami dan kepada-Nya lah kami dibangkitkan]. (HR. Bukhari no. 6325)

Imam Bukhari rahimahullah memasukkan hadits di atas dalam judul bab “bacaan yang diucapkan di pagi hari”. Ini berarti -kata Ibnu Batthol- bahwa dzikir yang diucapkan ketika pagi hari ini menjadi pembuka amalan dan menunjukkan bahwa dari pagi hari kita sudah memulai dengan berdzikir pada Allah sebagaimana pula saat hendak tidur ditutup pula dengan amalan dzikir pada Allah. Berarti pembuka catatan amalan kita adalah dzikir, penutupnya pun dzikir. Lalu diharapkan antara pembuka dan penutup tersebut ada pengampunan dosa.

Imam Nawawi rahimahullah sendiri menerangkan bahwa maksud kalimat ‘kami dimatikan’ adalah tidur. Sedangkan ‘kami dibangkitkan’ adalah dihidupkan lagi kelak pada hari kiamat. Intinya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ingin menerangkan bahwa ketika orang itu bisa bangun setelah tidur, berarti seseorang bisa pula dibangkitkan (pada hari kiamat) setelah dimatikan.

Imam Nawawi rahimahullah menerangkan pula dalam Syarh Shahih Muslim bahwa hikmah doa ‘bismika allahumma amuutu wa ahyaa’ dibaca menjelang tidur, yaitu sebagai penutup amalan. Sedangkan di pagi hari diawali pula dengan amalan doa yang berisi kandungan keyakinan tauhid pada Allah dan kalimat tersebut termasuk dalam al kalimuth thoyyib (kalimat yang baik).

Atau bisa pula membaca dzikir berikut ketika bangun tidur,

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ عَافَانِيْ فِيْ جَسَدِيْ، وَرَدَّ عَلَيَّ رُوْحِيْ، وَأَذِنَ لِيْ بِذِكْرِهِ

Alhamdullillahilladzi afaaniy fii jasadiy, wa rodda alayya ruhiy, wa adzina lii bi dzikrih” [artinya: Segala puji bagi Allah yang telah memberikan kesehatan pada jasadku dan telah mengembalikan ruhku serta mengizinkanku untuk berdzikir kepada-Nya]. (HR. Tirmidzi no. 3401. Hasan menurut Syaikh Al Albani)

Disebutkan dalam hadits mengenai dikembalikannya ruh berarti kita masih diberikan kesempatan oleh Allah untuk menikmati kehidupan. Nikmat seperti ini patut disyukuri. Lantas menyukurinya dengan apa?

Badaruddin Al ‘Aini dalam ‘Umdatul Qari Syarh Shahih Al Bukhari menjelaskan, “Hendaklah seseorang yang telah bangun di pagi hari berusaha menyukuri nikmat tersebut dengan melaksanakan shalat Shubuh. Itulah bentuk syukurnya pada Allah atas nikmat hidup yang Allah beri serta nikmat dikembalikannya ruh padanya.”

Berarti tugas kita terus bersyukur dengan rajin berdzikir dan beribadah.

Moga kita termasuk dalam golongan hamba Allah yang rajin berdzikir. Semoga pula kita bisa mudah mengamalkan doa yang disebutkan di atas.

Wallahu waliyyut taufiq, hanya Allah yang memberi hidayah.

27 Rojab 1441 Isro mi’raj

Sekilas Sejarah Isra Mi’raj menurut Hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam

Dalam beberapa hadits yang cukup panjang, Imam Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan tentang kisah perjalanan Isra Mi’raj Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebagian redaksi haditsnya disingkat oleh penulis dikarenakan terbatasnya halaman.

  1. Kisah dibelahnya dada Nabi Muhammad Shallallahu alihi wasallam :

عَنْ مَالِكِ بْنِ صَعْصَعَةَ قَالَ قَالَ نَبِيُّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَيْنَا أَنَا عِنْدَ الْبَيْتِ بَيْنَ النَّائِمِ وَالْيَقْظَانِ إِذْ سَمِعْتُ قَائِلًا يَقُولُ أَحَدُ الثَّلَاثَةِ بَيْنَ الرَّجُلَيْنِ فَأُتِيتُ فَانْطُلِقَ بِي فَأُتِيتُ بِطَسْتٍ مِنْ ذَهَبٍ فِيهَا مِنْ مَاءِ زَمْزَمَ فَشُرِحَ صَدْرِي إِلَى كَذَا وَكَذَا قَالَ قَتَادَةُ فَقُلْتُ لِلَّذِي مَعِي مَا يَعْنِي قَالَ إِلَى أَسْفَلِ بَطْنِهِ فَاسْتُخْرِجَ قَلْبِي فَغُسِلَ بِمَاءِ زَمْزَمَ ثُمَّ أُعِيدَ مَكَانَهُ ثُمَّ حُشِيَ إِيمَانًا وَحِكْمَةً

Dari Malik bin Sha’sha’ah, dia berkata, Nabi “shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda : “Ketika aku berada di tepi Baitullah dalam keadaan antara tidur dan bangun (separuh sadar), tiba-tiba aku mendengar pembicaraan salah seorang dari tiga lelaki yang berada di tengah-tengahnya. Lalu mereka menghampiri aku dan membawaku ke suatu tempat. Kemudian mereka membawa sebuah wadah dari emas yang berisi air Zamzam. Setelah itu dadaku dibedah dari sini dan sini.” Qatadah berkata, “Aku telah bertanya kepada orang yang bersamaku, ‘Apakah yang beliau maksudkan? ‘ Dia menjawab, ‘Dari dada hingga ke bawah perut’. Beliau melanjutkan sabdanya : ‘Hatiku telah dikeluarkan dan dibersihkan dengan air Zamzam, kemudian diletakkan kembali di tempat asal. Setelah itu diisi pula dengan iman dan hikmah…” (Shahih Muslim No. 238)

  1. Kisah perjalanan Isra :

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ، أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «أُتِيتُ بِالْبُرَاقِ، وَهُوَ دَابَّةٌ أَبْيَضُ طَوِيلٌ فَوْقَ الْحِمَارِ، وَدُونَ الْبَغْلِ، يَضَعُ حَافِرَهُ عِنْدَ مُنْتَهَى طَرْفِهِ» ، قَالَ: «فَرَكِبْتُهُ حَتَّى أَتَيْتُ بَيْتَ الْمَقْدِسِ» ، قَالَ: «فَرَبَطْتُهُ بِالْحَلْقَةِ الَّتِي يَرْبِطُ بِهِ الْأَنْبِيَاءُ»

Dari Anas bin Malik radhiyallahu anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaIhi wasallam bersabda : “Didatangkan kepadaku Buraq, seekor hewan putih, lebih tinggi dari keledai dan lebih rendah dari baghal, ia berupaya meletakkan telapak kakinya di ujung pandangannya. Setelah Aku menungganginya, Buraq itu membawaku hingga sampai ke Baitul Maqdis. Kemudian Aku ikat Buraq itu di tempat para Nabi biasa menambatkan tunggangan mereka.

قَالَ ” ثُمَّ دَخَلْتُ الْمَسْجِدَ، فَصَلَّيْتُ فِيهِ رَكْعَتَيْنِ، ثُمَّ خَرَجْتُ فَجَاءَنِي جِبْرِيلُ عَلَيْهِ السَّلَامُ بِإِنَاءٍ مِنْ خَمْرٍ، وَإِنَاءٍ مِنْ لَبَنٍ، فَاخْتَرْتُ اللَّبَنَ، فَقَالَ جِبْرِيلُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: اخْتَرْتَ الْفِطْرَةَ،

Lalu aku masuk masjid dan menunaikan sholat dua raka’at di dalamnya. Setelah itu aku keluar dan disambut oleh Jibril dengan membawa semangkuk arak dan semangkuk susu. Kemudian aku memilih susu, maka Jibril berkata : “Engkau telah memilih fitrah (yaitu Islam)

  1. Kisah perjalanan Mi’raj :

ثُمَّ عُرِجَ بِنَا إِلَى السَّمَاءِ، فَاسْتَفْتَحَ جِبْرِيلُ، فَقِيلَ: مَنَ أَنْتَ؟ قَالَ: جِبْرِيلُ، قِيلَ: وَمَنْ مَعَكَ؟ قَالَ: مُحَمَّدٌ، قِيلَ: وَقَدْ بُعِثَ إِلَيْهِ؟ قَالَ: َ قَدْ بُعِثَ إِلَيْهِ، فَفُتِحَ لَنَا، فَإِذَا أَنَا بِآدَمَ، فَرَحَّبَ بِي، وَدَعَا لِي بِخَيْرٍ،

Kemudian aku dibawa naik ke langit dunia. Ketika Jibril meminta dibukakan pintu langit, terdengarlah suara yang bertanya, “Engkau siapa?” “Jibril.” Jawabnya. “Engkau bersama siapa?” Tanya penjaga pintu langit. “Muhammad.” Jawab Jibril. Penjaga pintu langit bertanya, “Adakah dia diutus (untuk dinaikkan ke langit menghadap Rabb-nya)? “Ya.” Jawab Jibril. Maka dibukalah pintu langit untuk kami. Setelah masuk, ternyata di sana aku bertemu dengan Nabi Adam ‘alaihisalam dan beliau segera menyambutku lalu mendo’akan kebaikan untukku.

Singkat punya cerita, Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasallam naik ke langit kedua, setelah menjalani prosedur sebagaimana di langit pertama, maka di langit kedua Beliau berjumpa dengan Nabi Isa dan Nabi Yahya alaihimassalam. Kemudian Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasallam naik ke langit ketiga dan bertemu dengan Nabi Yusuf Alaihissalam.

Lalu Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasallam naik ke langit keempat dan bertemu dengan Nabi Idris Alaihissalam, kemudian naik ke langit kelima dan berjumpa dengan Nabi Harun Alaihissalam. Lalu Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasallam naik ke langit keenam dan berjumpa dengan Nabi Musa Alaihissalam.

فَإِذَا أَنَا بِإِبْرَاهِيمَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُسْنِدًا ظَهْرَهُ إِلَى الْبَيْتِ الْمَعْمُورِ، وَإِذَا هُوَ يَدْخُلُهُ كُلَّ يَوْمٍ سَبْعُونَ أَلْفَ مَلَكٍ لَا يَعُودُونَ إِلَيْهِ

Setelah itu, Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasallam naik ke langit ketujuh dan berjumpa dengan Nabi Ibrahim Alaihissalam, yang sedang duduk bersandar ke Baitul Ma’mur. Tempat tersebut setiap harinya dimasuki oleh tujuh puluh ribu Malaikat (apabila mereka keluar darinya) mereka tidak akan kembali lagi.

  1. Kisah di Sidratil Muntaha :

ثُمَّ ذَهَبَ بِي إِلَى السِّدْرَةِ الْمُنْتَهَى، وَإِذَا وَرَقُهَا كَآذَانِ الْفِيَلَةِ، وَإِذَا ثَمَرُهَا كَالْقِلَالِ “، قَالَ: ” فَلَمَّا غَشِيَهَا مِنْ أَمْرِ اللهِ مَا غَشِيَ تَغَيَّرَتْ، فَمَا أَحَدٌ مِنْ خَلْقِ اللهِ يَسْتَطِيعُ أَنْ يَنْعَتَهَا مِنْ حُسْنِهَا

Kemudian aku dibawa ke Sidaratul Muntaha. Aku melihat daunnya seperti telinga gajah dan buahnya sebesar tempayan. Lalu manakala ia diliputi oleh perintah Allah, maka ia berubah. Tidak ada satu pun makhluk yang dapat melukiskan keindahannya.

  1. Kisah perintah Sholat 5 waktu :

فَأَوْحَى اللهُ إِلَيَّ مَا أَوْحَى، فَفَرَضَ عَلَيَّ خَمْسِينَ صَلَاةً فِي كُلِّ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ فَنَزَلْتُ إِلَى مُوسَى صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَ: مَا فَرَضَ رَبُّكَ عَلَى أُمَّتِكَ؟ قُلْتُ: خَمْسِينَ صَلَاةً، قَالَ: ارْجِعْ إِلَى رَبِّكَ فَاسْأَلْهُ التَّخْفِيفَ، فَإِنَّ أُمَّتَكَ لَا يُطِيقُونَ ذَلِكَ، فَإِنِّي قَدْ بَلَوْتُ بَنِي إِسْرَائِيلَ وَخَبَرْتُهُمْ “، قَالَ: ” فَرَجَعْتُ إِلَى رَبِّي، فَقُلْتُ: يَا رَبِّ، خَفِّفْ عَلَى أُمَّتِي، فَحَطَّ عَنِّي خَمْسًا،

Kemudian Allah mewahyukan kepadaku apa yang Dia kehendaki untuk diperintahkan, yaitu diwajibkan kepadaku sholat 50 kali dalam sehari semalam. Lalu aku pun turun membawa kewajiban itu. Ketika aku bertemu kembali dengan Nabi Musa ‘alaihis Salam, beliau berkata, “Apa yang diwajibkan oleh Rabb-mu terhadap umatmu?” “Sholat lima puluh kali pada setiap hari.” Jawabku. Musa berkata, “Kembalilah kepada Rabb-mu dan mohonlah keringanan kepada-Nya untuk umatmu, karena mereka tidak akan mampu melaksanakannya. Aku telah mencoba dan menguji Bani Israil.” Maka aku pun kembali menghadap Rabb-ku dan berkata, “Wahai Rabb-ku, berilah keringanan bagi umatku.” Atas permohonan tersebut, maka Allah menguranginya lima kali sholat. 

فَرَجَعْتُ إِلَى مُوسَى، فَقُلْتُ: حَطَّ عَنِّي خَمْسًا، قَالَ: إِنَّ أُمَّتَكَ لَا يُطِيقُونَ ذَلِكَ، فَارْجِعْ إِلَى رَبِّكَ فَاسْأَلْهُ التَّخْفِيفَ “، قَالَ: ” فَلَمْ أَزَلْ أَرْجِعُ بَيْنَ رَبِّي تَبَارَكَ وَتَعَالَى، وَبَيْنَ مُوسَى عَلَيْهِ السَّلَامُ

Setelah itu, aku turun dan bertemu kembali dengan Nabi Musa ‘alaihis Salam, lalu aku berkata, “Lima kali sholat telah digugurkan (dikurangi) dariku.” Nabi Musa ‘alaihis Salam berpesan lagi, “Sesungguhnya umatmu tidak akan sanggup, kembalilah kepada Rabb-mu dan mohonlah kepada-Nya keringanan”. Maka aku senantiasa berulang kali bolak balik antara Rabb-ku dan Nabi Musa ‘alaihis Salam.

حَتَّى قَالَ: يَا مُحَمَّدُ، إِنَّهُنَّ خَمْسُ صَلَوَاتٍ كُلَّ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ، لِكُلِّ صَلَاةٍ عَشْرٌ، فَذَلِكَ خَمْسُونَ صَلَاةً، وَمَنْ هَمَّ بِحَسَنَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهَا كُتِبَتْ لَهُ حَسَنَةً، فَإِنْ عَمِلَهَا كُتِبَتْ لَهُ عَشْرًا، وَمَنْ هَمَّ بِسَيِّئَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهَا لَمْ تُكْتَبْ شَيْئًا، فَإِنْ عَمِلَهَا كُتِبَتْ سَيِّئَةً وَاحِدَةً “،

Akhirnya Allah berfirman, “Wahai Muhammad, sesungguhnya sholat yang 5 kali sehari semalam itu, setiap kali sholat Aku lipat gandakan pahalanya menjadi sepuluh. Maka yang 5 waktu itu (menjadi setara pahalanya dengan) 50 kali sholat. Barangsiapa yang berkeinginan (kuat) untuk melakukan kebaikan, lalu dia tidak melakukannya, maka ditulislah satu pahala untuknya. Namun, jika dia melakukannya, maka ditulislah untuknya sepuluh pahala. Dan barangsiapa yang berkeinginan melakukan perbuatan jahat, lalu dia tidak melakukannya, maka tidak ditulis untuknya apa-apa. Namun, jika dia melakukannya, maka ditulislah satu dosa baginya”

قَالَ: ” فَنَزَلْتُ حَتَّى انْتَهَيْتُ إِلَى مُوسَى صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَأَخْبَرْتُهُ، فَقَالَ: ارْجِعْ إِلَى رَبِّكَ فَاسْأَلْهُ التَّخْفِيفَ “، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” فَقُلْتُ: قَدْ رَجَعْتُ إِلَى رَبِّي حَتَّى اسْتَحْيَيْتُ مِنْهُ’ 

Lalu aku turun hingga bertemu kembali dengan Nabi Musa ‘alaihis Salam, aku pun memberitahu bahwa tinggal tersisa lima kali sholat sehari semalam. “Kembalilah kepada Rabb-mu, mohonlah kembali keringanan untuk umatmu.” Pesan Nabi Musa ‘alaihis Salam. Lalu Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wa Sallam bersabda, “Aku menjawab, “Sungguh aku telah berulang kali menghadap dan memohon keringanan kepada Rabb-ku, sehingga aku merasa malu”. (Shahih Bukhari No. 2968, Shahih Muslim No. 234)

Wallahu a’lam

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai